Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 10. “Doa dari Para Tuha: Pesan Baik untuk Masa Depan” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di zaman ketika Sungai Tulang Bawang masih bernama Way Rarem, konon di perbatasan wilayah hidup tiga marga: Marga Pugung dari Pesagi, Marga Kunyay dari Abung, dan Marga Batu Lapis dari Peminggir. Suatu ketika, seorang anak dari Marga Pugung menemukan batu berkilauan aneh di tepi hutan. Anak dari Marga Kunyay mengklaim itu wilayah buruannya, sementara pemuda Marga Batu Lapis berkata batu itu adalah tanda roh penjaga pantai.
Perselisihan hampir memicu perang kecil. Melihat hal ini, ketiga Punyimbang Tuha (tetua tertinggi) dari masing-masing marga memutuskan untuk bertemu di sebuah bukit keramat, yang kini dikenal sebagai Bukit Permata. Mereka tidak membawa senjata, hanya membawa air dari sumber masing-masing, segenggam beras, dan sepotong sirih.
Selama tiga malam mereka bermufakat. Pada fajar hari keempat, Tuha dari Pugung berkata, “Batu ini bukan untuk kita yang hidup sekarang. Ia adalah bekal untuk anak-cucu kita kelak, agar mereka tidak berebut tapi berkawan.”
Tuha dari Kunyay menambahkan, “Mari kita tanam batu ini di bukit ini, dan kita jadikan tempat ini tanah perdamaian.” Tuha dari Batu Lapis menyimpulkan, “Atas nama Allah dan restu leluhur, kita titipkan doa kita di batu ini. Siapa pun yang datang ke sini dengan niat baik, akan mendapat petunjuk.”

Batu itu pun ditanam. Sejak itu, Bukit Permata menjadi tempat Begundal Adat (musyawarah besar) dan upacara penyatuan. Dari sanalah lahir tradisi bahwa setiap keputusan penting harus memuat doa dan pesan untuk tujuh generasi mendatang.

Doa yang Diabadikan dalam Naskah: Warisan Bukan Harta, Melalui Kata.

Para leluhur Lampung memahami bahwa warasan paling berharga bukan emas atau tanah, tetapi kata-kata bijak yang diwariskan. Naskah-naskah kuno seperti Kuntara Raja Niti dan Piil Pesenggiri pada hakikatnya adalah kitab doa panjang untuk keturunan.
Salah satu kutipan paling terkenal dari Kuntara Raja Niti berbunyi:
“Anak-cucuku dengarlah, dunia ini pinjaman. Berbuat baiklah selagi sempat. Harta akan habis, nama baik akan kekal. Sai batin yang sejati bukan yang banyak pengikut, tetapi yang banyak memberi jalan terang. Janganlah seperti lilin, menerangi orang lain tetapi dirinya sendiri lekas habis. Jadilah seperti bintang, tetap bersinar dari jauh, menunjukkan arah tanpa berkata-kata.”

Baca Juga :  Buku Seri - Nengah Nyappur, Seni Merajut Silaturahmi dan Memperluas Pergaulan. Seri – 9: Lampu Emas di Pelabuhan Kalianda. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis: Doa ini mengandung lapisan pesan moral yang dalam. Pertama, ia menanamkan kesadaran akan kehidupan yang fana (“dunia ini pinjaman”) untuk mendorong perbuatan baik yang kekal. Kedua, ia mendefinisikan ulang konsep kepemimpinan (sai batin) dari sekadar kekuasaan menjadi pelayanan dan pencerahan.

Metafora lilin vs bintang sangat kuat: lilin adalah pengorbanan yang habis diri sendiri (dan bisa padam), sementara bintang adalah keteladanan yang abadi dan konsisten, memberi petunjuk tanpa pamrih langsung. Ini adalah pesan untuk generasi penerus agar memimpin dengan visi dan keteladanan, bukan hanya pengorbanan emosional yang melelahkan.

Ritual Doa Kolektif: Dari Kelahiran Hingga Kematian.

Setiap tahap kehidupan dalam adat Lampung diiringi ritual yang intinya adalah doa kolektif yang diucapkan oleh para tetua, memastikan anak-cucu tidak berjalan sendirian.
1. Upacara Turun Tani (Memulai Menanam): Sebelum bibit pertama ditanam, diadakan upacara kecil di tengah sawah yang dipimpin tetua adat. Dengan menaburkan beras kunyit dan air yang telah didoakan, sang tetua berkata: “Wahai Dewi Sri, kami mohon berkat. Tumbuhkanlah padi ini seperti tumbuhnya kebajikan dalam hati anak-cucu kami: berakar kuat, berbulir banyak, dan merunduk rendah saat berisi. Lindungkan dari hama dan kesombongan.”

Analisis: Doa ini dengan cerdas menyelaraskan harapan akan keberhasilan materi (panen padi) dengan pertumbuhan moral generasi muda. Sifat padi yang “merunduk rendah saat berisi” adalah ajaran utama tentang kerendahan hati meski telah berilmu dan berprestasi. Doa ini mengajarkan bahwa rezeki dan karakter harus tumbuh bersama.

Baca Juga :  Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri - 6: Rumah dan Hidup, Prinsip Piil Pesenggiri dalam Arsitektur dan Keseharian. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

2. Upacara Pepancokh (Pemberian Gelar Adat): Saat seorang muda menerima gelar adat seperti Ratu, Minak, atau Dalom, rangkaian doa yang dipanjatkan bukan hanya untuk kesuksesan individu, tetapi untuk keberlanjutan marga. Seorang Penyimbang akan meletakkan tangan di bahu penerima gelar dan berdoa: “Dengan gelar ini, kau bukan lagi dirimu sendiri. Kau adalah jembatan dari nenek moyang ke generasi nanti. Bawalah gelar ini dengan punggung yang kuat, hati yang jernih, dan langkah yang lurus. Jangan sampai gelar ini membutakan matamu terhadap yang lemah.”

Analisis: Doa ini adalah transfer tanggung jawab sekaligus spiritual. Penerima gelar diingatkan bahwa identitas barunya adalah amanah untuk melayani garis keturunan (“jembatan”). “Punggung kuat” adalah simbol ketangguhan, “hati jernih” adalah integritas, dan “langkah lurus” adalah konsistensi pada prinsip adat. Pesan terakhir adalah peringatan anti-kesombongan.

3. Upacara Kematian (Meruwat): Pada upacara kematian, terutama bagi seorang tetua, doa-doa yang dilantunkan justru penuh harapan untuk yang hidup. Dalam tradisi tertentu, ada pembacaan Warahan Pusako (pesan pusaka) yang berisi wasiat leluhur: “Jangan tangisi kami lama-lama. Air mata yang terlalu deras akan menggenangi jalan yang harus kalian lalui. Ingatlah kebaikan kami dengan terus berbuat baik. Pertemuan kita nanti akan ditanyakan: ‘Apa yang kau bawa untuk memperbaiki dunia yang kami tinggalkan?’”

Analisis: Doa perpisahan ini sangat progresif. Alih-alih mendorong kesedihan yang berkepanjangan, ia mendorong regenerasi dan tindakan positif. “Menggenangi jalan” adalah metafora yang kuat tentang bagaimana kesedihan yang tak terkendali bisa melumpuhkan generasi penerus. Pertanyaan retoris di akhir adalah cambuk moral agar setiap generasi meninggalkan warisan yang lebih baik.

Pesan untuk Masa Depan: Menjadi Manusia “Sai Batin” di Dunia Global.

Doa dan pesan para tuha ini, bila dirangkum, adalah cetak biru untuk membentuk manusia Lampung masa depan yang unggul secara spiritual dan sosial, manusia yang Sai Batin (berjiwa pemimpin) dalam konteks apa pun.
Pesan itu dapat dirangkum dalam trilogi sederhana:
1. Kenali Akarmu (Bejuluk Beadek): Jangan pernah lupa silsilah, bahasa, dan adat-istiadat. Inilah kompas moralmu.
2. Berkembanglah dengan Berbagi (Nemui Nyimah, Sakai Sambayan): Keberhasilan sejati diukur dari seberapa banyak kamu membuka pintu bagi orang lain dan mengangkat mereka bersama-sama.
3. Berjalanlah dengan Terang (Nengah Nyappur): Hadirilah dunia modern dengan penuh partisipasi, tetapi bawalah terang nilai-nilai luhur itu sebagai kontribusimu.

Baca Juga :  Serial Buku Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung. Kata Pengantar Dari 6 Seri Tulisan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Seperti pesan terakhir yang tertulis dalam sebuah naskah tua dari Marga Pugung: “Adat itu seperti perahu. Nenek moyangmu yang membangunnya, engkau yang mengayuhnya hari ini, dan anak-cucumu yang akan sampai ke pulau impian. Jangan kau jual perahumu untuk kesenangan sesaat. Perbaiki layarnya, kokohkan lunasnya, dan doakan angin baik untuk mereka yang akan melanjutkan.”
Doa dari para tuha bukan mantra untuk kemudahan hidup, tetapi kompas, peta, dan bekal moral untuk mengarungi lautan zaman yang tak pernah teduh. Ia adalah warasan terakhir, dan yang pertama harus diterima oleh setiap generasi yang ingin masa depannya tetap terang.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Naskah Kuno: Kuntara Raja Niti (transliterasi dan terjemahan). Koleksi digital dari Museum Negeri Lampung (kode naskah: KRJ-02/LAMP).
2. Buku: Warahan Adat Lampung: Telaah Nilai-Nilai Pendidikan Karakter oleh Prof. Dr. Hj. Wati Kurniawati, M.Pd. (Penerbit Universitas Lampung Press, 2019) – Format Fisik & Digital (ISBN 978-623-7067-15-9).
3. Buku: Filsafat Hidup Masyarakat Lampung: Piil Pesenggiri dalam Tantangan Zaman oleh Dr. A. Edi Setiadi, M.Hum. (Penerbit Pustaka Diam, 2020) – Format Fisik.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini