Buku Seri : Tradisi Ngejalang, Ziarah ke Makam Leluhur. Seri – 4. Lokasi dan Waktu, Kapan dan Ke Mana Ngejalang Dilakukan? Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pengembara gagah bernama Urang Dunia Bin Silantai Langit. Suatu hari, dia dan istrinya, Nur Kemala, berpisah di sebuah persimpangan sungai. Sang istri berpesan, “Aku akan mengikuti aliran sungai ini. Carilah aku di tempat di mana gunung menyambut langit, dan di sana kita akan menemukan cahaya.”
Nur Kemala pun berjalan menyusuri sungai, hingga akhirnya tiba di sebuah dataran tinggi yang dikelilingi perbukitan hijau. Di puncak sebuah gunung, dia melihat sebuah batu yang memancarkan cahaya kemilau bak mutiara di kala senja. Dia pun menetap di sana dan menamai tempat itu Gunung Kemala, sebagai tanda cahaya penuntun bagi sang suami yang suatu hari akan menyusul.

Sejak saat itu, Gunung Kemala menjadi tempat bermukim keturunan mereka. Setiap kali ada anggota keluarga yang meninggal, mereka dimakamkan di lereng-lereng gunung itu, dekat dengan sang “Kemala”, agar cahaya sang leluhur senantiasa menerangi perjalanan arwah mereka. Tradisi ziarah pun lahir dari kisah ini—sebuah upaya untuk “menyusul” dan “menemukan” kembali para leluhur di tempat peristirahatan terakhir mereka, merawat cahaya ingatan yang tak boleh padam.

Lokasi Suci: Di Bawah Kelasa, Di Atas Pusara.

Berdasarkan data penelitian, tradisi Ngejalang tidak dilakukan di sembarang tempat. Terdapat dua lokasi utama yang memiliki makna spiritual dan sosial yang sangat dalam:
1. Ngejalang Pangan: Awalnya, tradisi ini dilaksanakan di masjid. Masjid dipilih sebagai lambang kesatuan umat (ummah) dan tempat untuk memohon ampunan secara kolektif. Di sini, doa-doa dipanjatkan untuk semua leluhur dan keluarga, menyatukan seluruh masyarakat dalam ikatan faith dan persaudaraan. Meskipun dalam perkembangannya, Ngejalang Pangan di Pekon Gunung Kemala sudah tidak lagi dilakukan, esensinya sebagai ziarah spiritual di ruang publik yang suci tetap menjadi bagian penting dari memori budaya.
2. Ngejalang Kubokh: Inilah jantung dari tradisi yang masih lestari hingga kini. Lokasinya adalah di area pemakaman leluhur. Namun, ini bukan sekadar “berkunjung” ke kuburan. Sebuah tempat perlindungan sementara, disebut Kelasa, didirikan di atas pusara. Kelasa terbuat dari kayu atau bambu dengan atap daun kelapa, menciptakan ruang sakral yang melindungi prosesi dari terik matahari, sekaligus melambangkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam.

Baca Juga :  Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 10: Pi’il Pesenggiri di Era Modern – Relevansi dan Ketahanan Budaya. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Yang paling mendalam adalah ritual makan di atas kuburan. Para ahli waris menggelar tikar dan kasur di atas makam, lalu menata Pahar—nampan besar berisi sajian terbaik—di atasnya. Tindakan ini bukanlah bentuk ketidakhormatan, melainkan simbolisme yang sangat kuat: menikmati rezeki bersama dan di atas restu para leluhur. Seolah-olah mereka yang telah tiada hadir kembali dalam jamuan itu, menyambut kedatangan sanak keluarga yang masih hidup dalam sebuah reuni yang melampaui batas dunia fana.
Pemakaman yang menjadi lokasi Ngejalang Kubokh di Pekon Gunung Kemala pun telah terjadwal secara adat, yaitu:
* Hari ke-1 Syawal: Pemakaman Limus Kabing
* Hari ke-2 Syawal: Pemakaman Ulok Bamban atau Bah Kandis
* Hari ke-3 Syawal: Pemakaman Tambak Balak (dianggap sebagai yang paling utama)
Pembagian ini mencerminkan nilai Nengah Nyappur (bersosialisasi dan menyatu) dan Sakai Sambaian (gotong royong), di mana setiap marga dan pekon mendapat giliran untuk menjadi tuan rumah dan memelihara ikatan.
Waktu yang Tepat: Menjemput Berkah di Bulan Syawal
Waktu pelaksanaan Ngejalang bukanlah kebetulan. Tradisi ini secara khsusus digelar pada bulan Syawal, tepatnya setelah perayaan Idul Fitri. Pemilihan waktu ini mengandung banyak lapisan makna:
* Makna Spiritual: Idul Fitri adalah momen kemenangan dan penyucian diri. Setelah membersihkan diri dari dosa kepada Sang Pencipta dan sesama manusia yang masih hidup, langkah selanjutnya adalah membersihkan hubungan dengan yang telah tiada. Ziarah dan doa di makam leluhur adalah puncak dari proses pembersihan jiwa ini, sebuah bentuk halal bihalal vertikal. Sebagaimana disebutkan dalam file, “Ngejalang Kubokh digunakan dalam rangka mengirim doa terhadap sanak saudara… halal bihalal, dan saling mendoakan.”
* Makna Sosiologis: Bulan Syawal adalah waktu di mana para perantau pulang kampung (pulang kemana). Tradisi Ngejalang menjadi magnet pemersatu yang powerful, memastikan seluruh keluarga besar, baik yang dekat maupun jauh, berkumpul. Ini adalah mekanisme adat untuk memperkuat kembali ikatan kekerabatan (silaturahmi) yang mungkin renggang akibat jarak dan waktu. Sebuah sumber online dalam file mengonfirmasi: “Pada saat menjelang tradisi ini digelar, mereka umumnya pulang kampung.”
* Makna Filosofis: Dalam falsafah hidup Lampung Piil Pesenggiri, nilai Nemui Nyimah (keramahan dan santun) dan Sakai Sambaian (kegotongroyongan) mencapai puncak ekspresinya dalam tradisi Ngejalang. Waktu Syawal dipilih karena pada momentum inilah seluruh nilai tersebut dapat dihidupkan dan dirawat secara kolektif. Momen ini adalah “sekolah” tahunan bagi generasi muda untuk mempelajari dan menghayati jati diri mereka.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan sebagai Waktu Menguatkan Budi Pekerti. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis Spiritual: Merawat Jejak, Mengukir Ingatan
Ritual menentukan lokasi dan waktu Ngejalang adalah sebuah bentuk geografi suci dan kalender kultural. Dengan kembali ke makam leluhur di waktu yang telah ditentukan, masyarakat Lampung Sai Batin tidak hanya sekadar mengingat, tetapi secara aktif merawat jejak leluhur mereka. Setiap Kelasa yang didirikan, setiap Pahar yang dihidangkan, dan setiap doa yang dipanjatkan adalah sebuah upaya untuk mengukir ingatan kolektif itu lebih dalam lagi.
Lokasi pemakaman menjadi sebuah pusat dunia (axis mundi) sementara, tempat dimana dunia manusia dan dunia arwah bertemu, bukan dalam suasana muram, tetapi dalam suasana jamuan penuh syukur dan cinta. Waktu Syawal menjadi penanda pada kalender budaya yang mengingatkan mereka: “Ini waktunya kita pulang, bukan hanya ke rumah, tetapi ke asal usul kita.”
Dalam bahasa yang lebih sederhana, Ngejalang adalah cara masyarakat Lampung mengatakan, “Kami tahu dari mana kami berasal. Dan dengan merawat asal-usul itu, kami tahu akan ke mana kami melangkah.” Tradisi ini adalah kompas spiritual yang menuntun mereka melintasi zaman, menjaga agar cahaya Kemala sang leluhur tak pernah padam diterjang modernitas.
____________
Sumber Referensi (Terverifikasi dari File):
1. Eva. (2015). Ngejalang, Meriahkan Idul Fitri di Pesisir Barat. Harian Lampung. Com.
2. Fisoma, Y. (2017). Ngejalang Kubokh Di Pesisir Barat Diikuti Oleh Ratusan Warga. Lampost.co.
3. Suhanda, D. (2014). Ngejalang Kubokh, Tradisi Sambung Do’a dan Bersilaturahmi Jelang Ramadhan. Mahameru 104,5 FM.
4. Soekanto, Soejono. (2012). Hukum Adat Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
5. Maran, Rafael Raga. (2007). Manusia dan Kebudayaan. Jakarta: Rineka Cipta.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Hidup Tertib dan Damai di Bulan Puasa. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini