Sejarah dan Asal-Usul Marga Pubian Bukuk Jadi di Lampung di Obrolan Dawah Khani RRI Pro 4

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Sejarah bukanlah sekadar kisah yang terpendam dalam naskah usang atau ingatan para tetua. Ia adalah denyut nadi yang hidup, bernapas melalui setiap ritual, gelar adat, dan nilai-nilai yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian di disampaikan oleh Ir. Mohammad Medani Bahagianda gelar Dalom Putekha Jaya Makhga dalam Obrolan Dawah Khani di RRI Pro 4 Bandar Lampung pada Selasa 7 Oktober 2025.

Obrolan Dawah Khani kali ini mengangkat topik “Sejarah dan Asal-Usul Marga Pubian BukukJadi di Lampung”. Menghadirkan narasumber kompeten, termasuk penulis buku yang mendalami subjek ini Ir Mohammad Medani Bahagianda, serta penyunting buku H. SyahidanMh gelar Buay Sakti dari Marga Pubian Bukuk Jadi.

Diundangnya sang penulis dalam rangka untuk membedah akar budaya yang menjadi fondasi identitas masyarakat Lampung Pepadun.

Menurut host Obrolan Dawah Khani Naomy Saraswati topik ini penting untuk disiarkan, karena RRI Pro 4 Bandar Lampung, sebagai media publik, memiliki tanggung jawab untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya lokal yang ada di Provinsi Lampung.

Mengawali obrolannya Ir. Mohammad Medani Bahagianda mengapresiasi langkah RRI Pro 4 Bandar Lampung mengundang narasumber yaitu penulis buku, guna sama-sama mendalami sejarah Marga Pubian Bukuk Jadi dan Sumpah Uppu-Tuyuk Marga Pubian Bukuk Jadi dan Buay Beliuk.

Menurut Ir. Mohammad Medani Bahagianda gelar Dalom Putekha Jaya Makhga Sai Batin Kebandakhan Way Lima, ditulisnya buku yang diberi judul Sejarah Asal-Usul Marga Pubian Bukuk Jadi di Lampung dilandasi oleh beberapa alasan mendasar :

Mengangkat Khazanah Budaya yang Terlupakan:

Banyak generasi muda Lampung, termasuk keturunan Pubian Bukuk Jadi sendiri, yang belum sepenuhnya memahami sejarah, struktur, dan nilai-nilai luhur marga mereka.

Menurut Medani dengan adanya obrolan ini, bertujuan menjembatani kesenjangan pengetahuan tersebut, mengubah narasi yang terserak dalam naskah kuno dan tutur lisan menjadi sebuah cerita yang hidup dan mudah dicerna dalam bentuk buku.

Baca Juga :  Pemerintah Kota Salurkan Uang tunai bagi Korban Banjir dan Tanah Longsor

Tak lupa Medani menyatakan bahwa obrolan Dawah Khani, sekaligus menjadi media untuk mengumumkan dan mendiskusikan terbitnya dua buku monumental, yaitu buku pertama “Asal-Usul Marga Pubian Bukuk Jadi di Lampung” dan buku kedua yaitu  “Sumpah Uppu-Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Buay Beliuk”.

Kedua buku ini disusun berdasarkan penelitian mendalam terhadap sumber-sumber terpercaya seperti Kitab Kuntara Raja Niti dan Kitab Pusaka Buay Pubian, diharapkan menjadi referensi akademis dan panduan edukatif bagi masyarakat luas.

Melanjutkan penjelasannya Medani menyatakan bahwa buku ini diharapkan dapat memperkuat identitas di tengah globalisasi: Di era dipengaruhi budaya global, pemahaman akan akar budaya sendiri adalah benteng pertahanan identitas. Menyelami sejarah marga seperti Pubian Bukuk Jadi berarti memahami nilai-nilai seperti pi’il pesenggiri (harga diri), nemui nyimah (keterbukaan, dan sakai sambaian (gotong royong) yang tetap relevan hingga kini. Menelusuri Jejak Sang Leluhur: Dari Sekala Brak ke Bumi Saburai

Dengan adanya obrolan ini masih menurut Medani, pendengar akan di ajak untuk melakukan perjalanan waktu, menyusuri jejak panjang Marga Pubian Bukuk Jadi.

Kisahnya bermula dari kabut purba yang menyelimuti Gunung Sekala Brak. Konon, di sanalah hidup seorang tokoh bijak bernama Minak Nyerupa, utusan langit yang ditugaskan menata kehidupan masyarakat adat Lampung.

Dikisahkan, Minak Nyerupa membagikan lima pusaka suci kepada lima pengikutnya, yang kelak menjadi cikal bakal lima buay (klan besar) dalam masyarakat Lampung Pepadun. Pusaka-pusaka itu bukan sekadar benda, melainkan perwujudan nilai-nilai luhur: keris simbol ketegasan hukum, bayu segar lambang kesabaran, khromong halus perwujudan seni dan spiritualitas, tapis serat penanda kehormatan, dan tongkat bijaksana simbol kepemimpinan.

Dari sinilah, menurut Kitab Kuntara Raja Niti, cikal bakal Marga Pubian bermula, mewarisi semangat dan tanggung jawab untuk menjaga hukum dan adat. Nama “Pubian” sendiri berasal dari kata “Puyang” atau “Pu’un”, yang berarti “leluhur” atau “asal-usul”, menegaskan posisinya sebagai salah satu kelompok inti penjaga tradisi tertua.

Baca Juga :  Kadis Kominfotik : Lampung Jaga Optimisme, Fenomena Ekonomi Membaik, Kemiskinan Menurun

Migrasi dan Kelahiran Bukuk Jadi:

Sebuah Cerita Ketangguhan.
Seiring waktu, tekanan populasi, kolonialisme, dan dinamika internal mendorong migrasi besar-besaran dari wilayah hulu (Sekala Brak) ke dataran rendah. Pubian Bukuk Jadi, yang awalnya bagian dari Pubian Telu Suku (gabungan tiga suku: Manyarakat, Tambapupus, dan Bukuk Jadi), melakukan perjalanan panjang “mengikuti aliran sungai”, membawa serta adat, pusaka, dan semangat yang tak pernah padam.
Mereka akhirnya menetap dan membentuk pemukiman-pemukiman baru yang disebut tiyuh.

Saat ini, Marga Pubian Bukuk Jadi mendiami 14 tiyuh yang tersebar di 12 desa di Kabupaten Lampung Selatan seperti Natar dan Tegineneng di Kabupaten Pesawaran.

Tiyuh Marga Pubian Bukuk Jadi di Kecamatan Natar ada 9 yaitu Rulung Helok, Haduyang, Mandah, Banjar Negeri, Beranti Raya, Merak Batin, Pemanggilan, Hajimena dan Pakuon Haji. Sedangkan yang ada di Kecamatan Tegineneng, Pesawaran ada 5 tiyuh yaitu Gedung Gumanti, Bumi Agung, Kejadian, Kota Agung dan Bandar Agung.

Nama “Bukuk Jadi” sendiri mengandung makna filosofis yang dalam: “Bukuk” berarti “asal” atau “sumber”, dan “Jadi” berarti “terbentuk” atau “nyata”. Jadi, Bukuk Jadi dapat dimaknai sebagai “asal yang menjadi kenyataan” – sebuah entitas mandiri yang lahir dari akar tradisi yang kokoh. Sumpah dan Piagam: Perekat Persaudaraan Antar Marga

Selain itu menurut Medani, obrolan di RRI Pro 4 sekaligus mengupas
salah satu episode sejarah paling penting yang melibatkan leluhur Pubian Bukuk Jadi: Sumpah Uppu Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Buay Beliuk serta Piagam Gilas.

Sumpah Uppu Tuyuk adalah ikrar perdamaian dan persaudaraan abadi antara kelompok Beliuk dan Bukuk Jadi. Ritualnya dilakukan dengan melemparkan batu besar ke dalam lubuk sungai Way Sekampung, sebuah metafora yang dalam: batu melambangkan keteguhan janji, sedangkan sungai adalah kehidupan yang terus mengalir. Sumpah ini mengikat kedua marga dalam ikatan muari (persaudaraan yang lebih kuat dari sekadar sekutu), dengan prinsip untuk saling menghormati dan membantu.

Baca Juga :  Lampung Kembali Torehkan Prestasi, 11 Kali Berturut-turut Raih WTP

Piagam Gilas pada abad ke-16 adalah perjanjian damai bersejarah yang mengakhiri konflik berdarah antar beberapa buay besar Lampung. Dalam peristiwa ini, perwakilan Bukuk Jadi hadir bukan sebagai pihak yang bertikai, melainkan sebagai penengah yang bijaksana.

Keterlibatan mereka yang strategis, bahkan dengan memberikan bantuan logistik kepada utusan perdamaian dari Kesultanan Banten, membuat mereka tercatat sebagai salah satu dari 12 kebuayan penandatangan piagam tersebut. Peristiwa ini juga menandai pengakuan simbolis dari Sultan Banten terhadap sistem adat Pepadun.

Kedua peristiwa ini menunjukkan peran sentral leluhur Pubian Bukuk Jadi sebagai perekat persaudaraan dan penjaga keseimbangan dalam mosaik masyarakat adat Lampung. Adat yang hidup dan bernapas di era modern. Dialog ini tidak hanya berhenti pada narasi sejarah.

Mohammad Medani Bahagianda mengajak pendengar untuk merefleksikan bagaimana warisan ini tetap hidup di era modern. Struktur kepemimpinan adat yang egaliter, dengan gelar seperti  Penyimbang, Minak, Batin, hingga Suttan yang diraih melalui prosesi Cakak Pepadun, masih bertahan.

Ritual-ritual inti seperti Begawi (upacara besar), Cangget (tarian adat), dan cakak Pepadun tetap dilaksanakan, meski sering kali diadaptasi dengan kondisi zaman.

Peran penyimbang di setiap tiyuh juga terus berkembang, tidak hanya sebagai pemimpin spiritual dan kultural, tetapi juga mitra sinergis bagi pemerintah desa dalam pembangunan dan penyelesaian sengketa.

Pada akhirnya Medani menyerahkan sepenuhnya kepada para pembaca untuk mengkritisi sekaligus dapat menjadikan buku yang akan terbit ini sebagai bahan masukan sekaligus bahan koreksi bagi penulis demi penyempurnaan kedua buku ini dimasa yang akan datang. (SMh)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini