nataragung.id – Pemanggilan – Dulu, kita tak benar-benar memahami apa arti ketenangan. Hidup berjalan seperti lomba tanpa garis akhir, berpacu dengan waktu yang tak pernah menoleh ke belakang.
Mimpi-mimpi yang kita lukis di benak terasa begitu menyilaukan, hingga kita lupa bahwa jiwa pun butuh jeda.
Riuh menjadi bagian dari diri kita; ia terasa indah, akrab, bahkan menenangkan dengan caranya sendiri.
Ketika riuh itu menghilang sejenak saja, yang tersisa adalah kekosongan yang terasa menyesakkan, seakan ruang-ruang hidup kehilangan denyutnya.
Namun waktu adalah guru yang sabar. Ia tak mengubah segalanya dalam semalam, melainkan melalui malam-malam panjang dan tahun-tahun yang diam-diam menempa.
Perlahan, makna itu bergeser. Kita mulai memahami bahwa ketenangan bukan kekosongan, melainkan ruang bernapas. Bukan tanda kalah, tetapi pertanda dewasa.
Kini, tanpa kita sadari, yang kita cari bukan lagi hingar-bingar yang memacu, melainkan hening yang memeluk.
Ketenangan menjelma menjadi tujuan yang dirindukan, sebuah keadaan di mana hati bisa pulang, pikiran bisa beristirahat, dan jiwa merasa cukup.
Kita pun berjalan, bukan lagi untuk mengejar segalanya, tetapi untuk suatu hari nanti berjumpa dengan ketenangan itu, dan menggenggamnya dengan penuh syukur. (KIS/142).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

