nataragung.id – Bandar Lampung – Seri kesepuluh Petuah Tua menjadi penutup sekaligus pengikat benang nilai dari jilid-jilid sebelumnya. Pada bagian ini, Pi’il Pesenggiri tidak lagi dibaca semata sebagai konsep adat masa lampau, melainkan sebagai pedoman hidup yang terus diuji oleh perubahan zaman.
Dalam arus globalisasi, modernitas, dan teknologi, masyarakat adat Lampung dihadapkan pada tantangan mempertahankan jati diri tanpa menutup diri. Melalui prinsip Nemui Nyimah, Sakai Sambayan, dan Nengah Nyappur, Pi’il Pesenggiri menunjukkan daya lenturnya sebagai nilai yang hidup.
Di sebuah kampung tua di wilayah Abung, hiduplah seorang pemuda bernama Raga Intan. Ia adalah keturunan langsung penyimbang marga, namun tumbuh di tengah dunia modern. Pagi hari ia bekerja dengan komputer, malam hari ia masih mendengar kisah leluhur dari neneknya.
Suatu ketika, kampungnya menghadapi konflik akibat rencana pembangunan yang memecah lahan adat. Para pemuda ingin bergerak cepat dengan cara keras, sementara para tetua meminta musyawarah. Raga berada di tengah. Ia lalu mengusulkan pertemuan adat yang terbuka, mengundang semua pihak, termasuk pihak luar.
Dalam pertemuan itu, Raga berbicara dengan bahasa santun namun tegas. Ia membuka pintu dialog, mengajak bekerja bersama, dan tidak menutup diri pada perubahan. Keputusan akhirnya diterima semua pihak. Neneknya hanya berpesan, “Itulah Pi’il Pesenggiri. Ia tidak melawan zaman, tapi tidak larut di dalamnya.”
Sejak awal pembentukan marga-marga Lampung, Pi’il Pesenggiri dipahami sebagai nilai inti yang mampu beradaptasi.
Dalam silsilah tua marga Pubian dan Tulang Bawang, Pi’il Pesenggiri disebut sebagai payung adat, yang melindungi nilai lain di bawahnya.
Salah satu dokumen adat mencatat petuah: “Zaman ganti, adat ngikat.” Ungkapan ini menunjukkan kesadaran leluhur bahwa perubahan tidak dapat dihindari, namun adat berfungsi sebagai pengikat arah. Analisis kutipan ini memperlihatkan bahwa Pi’il Pesenggiri tidak bersifat kaku, melainkan menjadi kompas moral.
Nemui Nyimah dimaknai sebagai sikap ramah, terbuka, dan menghormati tamu. Di era modern, nilai ini relevan dalam membangun jejaring sosial, profesional, dan budaya.
Dalam kitab adat lisan disebutkan: “Tamu datang dibuka pintu, ilmu datang dibuka pikiran.” Kutipan ini menegaskan bahwa keterbukaan bukan tanda kelemahan, melainkan kecerdasan sosial. Analisis filosofisnya menunjukkan bahwa Nemui Nyimah mendorong masyarakat Lampung untuk berinteraksi global tanpa kehilangan identitas.
Sakai Sambayan berarti saling membantu dan bekerja bersama. Nilai ini menjadi penting di tengah individualisme modern.
Petuah adat menyebutkan: “Berat dipikul sai ringan, ringan dijinjing sai senang.” Maknanya, beban bersama terasa lebih ringan. Analisis mendalam menunjukkan bahwa Sakai Sambayan bukan sekadar gotong royong fisik, tetapi solidaritas sosial dan emosional.
Dalam konteks modern, nilai ini dapat diterapkan dalam komunitas, organisasi, dan pembangunan daerah.
Nengah Nyappur mengajarkan keberanian tampil dan bergaul tanpa kehilangan kesantunan. Prinsip ini penting bagi generasi muda Lampung agar mampu bersaing secara sehat.
Ungkapan adat menyatakan: “Nengah sai tahu diri, nyappur sai tahu batas.” Analisis kutipan ini menunjukkan keseimbangan antara kepercayaan diri dan etika sosial.
Pi’il Pesenggiri membentuk karakter santun, kompetitif, dan berakar budaya. Nilai ini mendorong generasi muda untuk berprestasi tanpa mengorbankan martabat.
Secara spiritual, menjaga Pi’il Pesenggiri dipahami sebagai bentuk tanggung jawab kepada leluhur dan masa depan.
Di era modern, Pi’il Pesenggiri tetap relevan sebagai fondasi etika dan identitas. Nemui Nyimah, Sakai Sambayan, dan Nengah Nyappur menjadi bekal menghadapi dunia global. Selama nilai ini dijaga dan dihidupi, masyarakat Lampung akan tetap kokoh, berakar, dan bermartabat.
Referensi Terverifikasi
* Hadikusuma, Hilman. Adat Istiadat Lampung. Alumni.
* Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nilai Budaya Daerah Lampung. Jakarta.
* Arsip silsilah marga dan manuskrip adat Lampung (koleksi fisik dan digital lokal).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

