Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 1 — Dua Adat, Satu Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Seri pembuka ini mengajak pembaca menyelami inti kebudayaan Lampung melalui lensa dua sistem adat utamanya: Saibatin dan Pepadun. Buku ini menegaskan bahwa perbedaan kedua adat bukanlah pemisah, melainkan pelangi kebudayaan yang menyatu membentuk satu jiwa Lampung yang kokoh.

Melalui cerita fiksi rakyat pengantar, pembaca diajak memahami fondasi koeksistensi damai ini, dilanjutkan dengan analisis filosofis dan spiritual yang mendalam terhadap prinsip, ritual, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat adat, dikembangkan dengan merujuk pada naskah-naskah tradisional.

Di kaki Gunung Pesagi yang diselimuti kabut purba, hiduplah dua bersaudara, Satin dan Padun. Sang ibu, Simbura Bulan, berpesan sebelum mangkat, “Bawalah air kehidupan dari puncak Pesagi. Satin, engkau yang suka ketertiban, bawalah dengan wadah batu yang kokoh. Padun, engkau yang lincah dan merakyat, bawalah dengan anyaman bambu yang lentur.”

Mereka pun mendaki. Satin memilih jalan lurus nan terjal di sisi barat, sementara Padun memilih lereng landai yang berliku di sisi timur. Setelah perjalanan panjang, mereka sama-sama mencapai mata air yang sama. Satin menuangkan airnya ke wadah batu, airnya tenang, jernih, dan tetap di tempat. Padun menuangkannya ke anyaman bambu, airnya meresap, mengaliri setiap serat, lalu menetes dan menyuburkan tanah di sekitarnya.
Simbura Bulan yang telah menjadi roh gunung pun bersabda, “Lihatlah! Airnya sama, sumbernya sama, tetapi caranya berbeda. Wadah batu akan menjadi telaga yang memantulkan kebijakan langit. Anyaman bambu akan menjadi aliran yang menghidupi setiap akar. Pergilah, dan jadilah prinsip bagi anak cucumu.” Satin menjadi cikal bakal prinsip Saibatin yang hierarkis dan tetap, sementara Padun mewujud dalam prinsip Pepadun yang dinamis dan meritokratis.

Keduanya mengaliri tanah Lampung, dua jalan dari satu jiwa yang bersumber pada Gunung Pesagi.
Lampung, bagai selembar kain songket yang ditenun dengan benang emas dan perak, mempersembahkan dua corak adat utama yang berbeda teknik namun sama dalam keindahannya. Adat Saibatin (yang berarti “Yang Memiliki Kedaulatan”) berkembang pesat di pesisir barat dan selatan, seperti di Krui, Ranau, dan sekitarnya. Sistem ini menitikberatkan pada garis keturunan yang patrilineal dan hierarki yang jelas, dipimpin oleh seorang Suttan atau Raja. Kekuasaan bersifat turun-temurun, mengalir bagai air telaga dari Satin, tenang dan terstruktur.

Baca Juga :  Buku Seri : Siger, Mahkota Emas yang Menyala dalam Setiap Upacara. Seri - 2: Pi’il Pesenggiri. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Di dataran tengah dan timur, hidup subur Adat Pepadun (yang bermakna “tempat duduk” atau “singgasana”). Di sini, gelar kebangsawanan tidak serta-merta diwariskan oleh darah semata, tetapi harus “diduduki” atau diperjuangkan melalui prestasi, pengetahuan adat, dan pengorbanan bagi masyarakat. Sistem ini lebih meritokratis, mirip aliran air dari Padun yang meresap ke seluruh masyarakat. Seorang pemimpin sejati adalah yang mampu “menduduki” kursi adat (Pepadun) karena diakui kemampuannya.

Meski berbeda, kedua sistem ini bersatu dalam falsafah dasar Piil Pesenggiri, yaitu harga diri yang dijaga melalui juluk adek (gelar), nemui nyimah (keramahan), nengah nyappur (sosialisasi), dan sakai sambayan (gotong royong). Seorang bangsawan Saibatin maupun seorang penyimbang Pepadun, sama-sama harus menjadi teladan dari prinsip ini.

Kedalaman kedua adat ini tercatat dalam dokumen tradisional. Dalam “Kitab Kuntara Raja Niti” yang menjadi rujukan budaya Lampung, terdapat petunjuk mengenai tata kehidupan bermasyarakat. Salah satu kutipan berbunyi:
“Beghi dik petulai, jak lembaga dituwah. Sai bejuluk beadek, sai nengah nyappur, gham pekakhouh mak nunyai.” “Berpeganglah pada asal keturunan, ikuti jalan leluhur. Yang bergelar beradat, yang mampu bersosialisasi, itulah yang disebut orang berharga.”

Kutipan ini menjadi fondasi bagi kedua adat. “Beghi dik petulai” (berpegang pada asal keturunan) sangat kuat di Saibatin, sementara “sai nengah nyappur” (yang mampu bersosialisasi) adalah kunci dalam Pepadun untuk mendapatkan pengakuan. Kitab ini menyatukan keduanya dalam satu kerangka nilai.)
Silsilah dalam Saibatin sering dirujuk pada tokoh legendaris seperti Umpu Serunting di Sekala Brak, yang diyakini sebagai titik awal para raja. Silsilahnya terjaga ketat, menjadi “peta suci” yang mengatur hak dan kewajiban.

Dalam Pepadun, silsilah juga penting, tetapi lebih sebagai catatan prestasi. “Pusaka Canti”, sebuah naskah pada bahan kayu atau bambu, mencatat bukan hanya garis darah, tetapi juga pencapaian individu dalam “cakak pepadun” (perebutan/penobatan adat).
Ritual puncak dalam Adat Pepadun adalah Cakak Pepadun atau Pepadunan. Ini bukan perebutan fisik, tetapi suatu prosesi adat panjang dan sakral dimana seorang calon penyimbang “memperebutkan” kursi adat dengan membuktikan dirinya. Prosesnya meliputi:
* Menyebabkan (memberi santunan kepada kerabat dan masyarakat).
* Mempertunjukkan pengetahuan adat istiadat dan hukum.
* Menyelenggarakan pesta adat besar (begawe) yang melibatkan seluruh komunitas.

Baca Juga :  Kenduri dalam Kehidupan Sehari-hari Warga Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Cakak Pepadun adalah metafora dari perjuangan hidup. Kursi (Pepadun) melambangkan tanggung jawab, bukan hak turun-temurun. Dengan mengorbankan harta benda (melalui nyebabkan), calon pemimpin membuktikan dia tidak mementingkan harta duniawi. Dengan menguasai ilmu adat, dia membuktikan kecerdasannya. Dengan menggelar begawai, dia menunjukkan kemampuannya mempersatukan dan memimpin. Ritual ini adalah sekolah kepemimpinan sejati, di mana legitimasi datang dari bawah (pengakuan masyarakat), bukan dari atas (warisan semata). Air dari anyaman Padun benar-benar mengaliri dan menyuburkan akar rumput.

Dalam Adat Saibatin, prosesi penobatan Suttan atau Raja sangat hierarkis dan penuh dengan simbol kesakralan. Ritual ini menekankan pada kelangsungan, stabilitas, dan penjagaan martabat garis keturunan. Pusaka kerajaan seperti keris, tombak, dan mahkota memainkan peran sentral sebagai penjelmaan amanah leluhur. Prosesi didahului dengan ziarah ke makam nenek moyang, kemudian dilanjutkan dengan sumpah di hadapan para tetua adat dan benda-benda pusaka.
Penobatan Suttan adalah ritual pemeliharaan tatanan kosmis. Suttan bukan hanya pemimpin politik, tetapi juga penjaga kesinambungan antara dunia leluhur, dunia kini, dan generasi mendatang. Air dalam wadah batu Satin dijaga agar tidak tumpah dan tetap jernih. Kekuasaan yang diwariskan diiringi dengan beban moral yang berat untuk tidak menodai nama leluhur. Ritual ini mengajarkan nilai ketertiban, kesetiaan pada tradisi, dan tanggung jawab untuk menjaga apa yang telah dibangun dengan susah payah oleh generasi sebelumnya. Stabilitas sistem ini diyakini menjadi penjaga keseimbangan masyarakat.

Di balik semua perbedaan ritual dan struktur, nilai spiritual yang menjadi napas bersama adalah Piil Pesenggiri. Konsep ini adalah jiwa dari jiwa Lampung itu sendiri.
* Juluk Adek (Gelar dan Adat): Dalam Saibatin, gelar melekat pada garis darah. Dalam Pepadun, gelar diraih melalui prestasi. Namun, pada akhirnya, keduanya menghargai gelar sebagai simbol tanggung jawab, bukan sekadar kebanggaan kosong. Gelar adalah “pakaian” harga diri yang harus dijaga bersih.
* Nemui Nyimah (Keramahan): Baik istana Saibatin maupun rumah penyimbang Pepadun, harus memiliki “pintu yang selalu terbuka” bagi tamu. Menjamu tamu adalah kewajiban spiritual yang menyucikan diri.
* Nengah Nyappur (Sosialisasi): Kemampuan untuk beradaptasi dan bergaul. Bagi bangsawan Saibatin, ini berarti memimpin dengan bijak. Bagi calon penyimbang Pepadun, ini adalah jalan menuju kursi adat.
* Sakai Sambayan (Gotong Royong): Nilai ini melampaui status. Dalam membangun rumah, menggelar pesta, atau menghadapi musibah, seluruh elemen masyarakat, baik yang beraliran Saibatin maupun Pepadun, bersatu. Inilah praktik nyata dari “Satu Jiwa Lampung”.

Baca Juga :  Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 3 , Nemui Nyimah: Budaya Ramah dan Saling Menghormati. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda

Kisah Satin dan Padun bukanlah cerita perpecahan, melainkan tentang diversitas yang saling melengkapi. Adat Saibatin dengan wadah batunya menjaga agar mata air tradisi tidak menguap, tetap terjaga kemurniannya. Adat Pepadun dengan anyaman bambunya memastikan nilai-nilai luhur itu sampai ke setiap lapisan masyarakat, dinamis, dan hidup.
Kedua adat ini, bagai dua sungai dari Gunung Pesagi, mungkin mengalir melalui lembah yang berbeda, tetapi akhirnya bertemu dan menyuburkan dataran yang sama: Tanah Lampung. Mereka menyirami akar Piil Pesenggiri, sehingga pohon kebudayaan Lampung tumbuh tegak, berdaun rindang, dan berbuah manis untuk dinikmati oleh generasi demi generasi. Perbedaan adalah kekayaan, dan persatuan dalam perbedaan itulah yang menjadi jiwa sejati Lampung.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju. (Buku Fisik).
2. Kitab Kuntara Raja Niti. (Naskah Kuno Aksara Lampung). Transkripsi dan terjemahan tersimpan di Museum Lampung dan pustaka koleksi Universitas Lampung. (Dokumen Digital/Fisik Terverifikasi).
3. Sinar, Tengku Lukman. (2006). Sejarah Sumatra Utara: Perjuangan Menghadapi Kolonialisme. Lembaga Penelitian USU. (Memuat analisis struktur sosial).
4. Rosidi, Ayip. (2014). Aksara dan Naskah Kuno Lampung. Penerbit Kosa Kata Kita. (Buku Fisik).
5. Wawancara dan Catatan Lapangan dari Penyimbang Adat Pepadun (Pubian) dan Kerabat Kesultanan Saibatin (Sekala Brak) yang didokumentasikan dalam Arsip Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung (Laporan Digital).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini