nataragung.id – Bandar Lampung – Seri ketiga ini mengajak pembaca memasuki jantung keramahan masyarakat Lampung melalui filosofi Nemui Nyimah. Lebih dari sekadar menerima tamu, Nemui Nyimah adalah cara hidup yang menempatkan rasa hormat, kepedulian, dan kedermawanan sebagai fondasi hubungan sosial.
Buku ini mengeksplorasi ritual penyambutan, pantun adat, dan makna spiritual di balik setiap sajian dan senyuman, menunjukkan bagaimana nilai ini menjadi perekat sosial yang melampaui perbedaan adat Saibatin dan Pepadun.
Pada zaman dahulu, di tepian Way Semangka, hiduplah seorang perempuan tua bijak bernama Inai Semanggian. Suatu hari, seekor naga besar yang terluka terdampar di ladang tebunya. Binatang buas itu mengamuk, membakar tanaman dengan napas panasnya karena rasa sakit. Para pemuda kampung bersiap mengusirnya dengan tombak.
Namun, Inai Semanggian menghampiri naga itu. Dengan suara lembut, ia berkata, “Wahai penguasa sungai, rasa sakitmu telah menjadi api yang membakar. Izinkan aku mendinginkannya.”
Dengan tenang, ia mengambil buluh tebu, memeras sarinya, dan menuangkannya ke dalam mangkuk tempurung. Ia menghampiri mulut naga yang menyemburkan asap dan menyodorkan minuman itu.
Naga itu terkejut. Belum pernah ia mendapat tawaran damai. Ia menjilat air tebu itu, rasa manis dan sejuk meredakan sakitnya. Api di mulutnya pun padam. Naga itu lalu berubah wujud menjadi seorang pemuda gagah. “Aku adalah penunggu Way Semangka,” katanya. “Kebiasaan manusia selalu mengusirku. Engkau adalah yang pertama menawarkan pertolongan, meski aku datang dengan ancaman.”
Inai Semanggian tersenyum. “Di tanah ini, siapa pun yang datang ke pekarangan, tamu atau musuh, sakit atau sehat, pertama-tama diberi minum. Karena dahaga sering kali bercampur dengan amarah, dan kelaparan dengan kesedihan. Menyiramnya dengan kebaikan adalah tugas kita.”
Pemuda itu pun menitikkan air mata. Sebagai balasan, ia mengajarkan pada Inai Semanggian dan anak cucunya cara membuat “gula puan” (gula aren berbentuk bulat) yang manis dan tahan lama, serta mengalirkan mata air jernih di tepi ladang. “Warisan terbesarku untukmu,” kata naga itu, “bukanlah mata air ini, tetapi sikapmu. Kelak, sikap itu akan disebut Nemui Nyimah. Ia akan menjadi sumber kehidupan sosial yang lebih manis daripada gula, dan lebih jernih daripada air sungai.” Sejak saat itu, setiap tamu yang datang disambut dengan gula puan dan air minum sebelum kata pertama diucapkan.
Nemui Nyimah bukanlah formalitas, melainkan sebuah prinsip kosmologis dalam masyarakat Lampung. Nemui berarti menyambut, menerima, atau mengundang. Nyimah berasal dari kata simah yang berarti memberi, menghadiahi, atau mengaruniakan dengan ikhlas. Jadi, Nemui Nyimah adalah “menyambut dengan memberi”.
Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, pada bagian tata pergaulan, tertulis sebuah petuah mendasar: “Rumah tiwah lawang tuhuk, gham bekhakha mak nunyai. Tamu datangi, nyimah pekhaja. Sai nengah nyappur, gham mupakat mak nuwai.” “Rumah yang lapang pintunya, itulah yang disebut berharga. Tamu yang datang, berilah bekal. Siapa yang pandai bergaul, dialah yang mufakat dihargai.”
Kutipan ini membangun logika filosofis Nemui Nyimah. “Pintu yang lapang” adalah metafora untuk hati dan rumah yang terbuka. Keterbukaan ini adalah prasyarat untuk menjadi “berharga” (mak nunyai). Kemudian, tindakan “memberi bekal” (nyimah pekhaja) kepada tamu adalah bukti nyata dari keterbukaan itu. Akhirnya, dari praktik memberi dan menerima inilah tercipta “pergaulan” (nengah nyappur) yang melahirkan kesepakatan dan harmoni sosial (mupakat). Nemui Nyimah, dengan demikian, adalah mesin penggerak kohesi sosial.
Nemui Nyimah mewujud dalam rangkaian ritual yang penuh makna, berlaku baik di rumah adat Saibatin (sesat) maupun di balai adat Pepadun.
1. Penyambutan Awal: Segukup/Sejukkan. Begitu tamu melangkah ke pekarangan, seorang anak atau remaja segera menyuguhkan air minum. Ini bukan air biasa, sering kali air putih dingin atau, dalam acara penting, air tebu atau air sirop gula puan. Analisis Filosofis: Ritual ini adalah “pembasuh” metaforis. Ia membersihkan lelah perjalanan, dahaga fisik, dan mungkin juga prasangka atau ketegangan psikologis yang dibawa tamu. Dengan meminum air yang sama dari tuan rumah, tamu secara simbolis telah masuk ke dalam lingkup perlindungan dan persaudaraan. Ini adalah penanda bahwa kedatangan tamu diterima secara tulus, sebelum status, maksud, atau kedudukannya dibicarakan.
2. Penyajian Sirih (Sekapur): Setelah tamu duduk, disuguhkan “tepus” (tempat sirih) berisi daun sirih, kapur, pinang, dan gambir. Menyirih bersama adalah ritual kuno penyatuan. Analisis Filosofis: Sirih melambangkan persatuan berbagai unsur yang berbeda (daun yang pahit, kapur yang tajam, pinang yang keras, gambir yang sepat) untuk menciptakan sesuatu yang nikmat dan hangat. Aktivitas menyirih bersama memecah kebekuan, menciptakan ruang percakapan yang setara. Dalam tradisi Saibatin, cara menyuguhkan dan menerima tepus memiliki tata krama sangat halus yang mencerminkan tingkat penghormatan.
3. Tari Cangget sebagai Salam Agung: Untuk tamu kehormatan atau dalam pesta adat besar (begawi), penyambutan dirayakan dengan Tari Cangget. Penari muda menari dengan gerakan gemulai dan tangan terkembang. Analisis Filosofis: Cangget bukan sekadar hiburan. Setiap gerakan adalah doa dan penghormatan. Tangan yang terkembang melambangkan keterbukaan dan penerimaan. Langkah yang tertib melambangkan tatanan sosial yang terjaga. Tarian ini adalah “salam yang hidup”, di mana komunitas secara kolektif mengekspresikan kebahagiaan atas kedatangan tamu. Ia mengangkat status tamu sekaligus menunjukkan ketinggian budaya tuan rumah.
4. Sajian Makanan (Menganai): Hidangan terbaik harus disuguhkan, sering kali diawali dengan gula puan (simbol awal dari legenda) dan diakhiri dengan seruit (hidangan utama khas Lampung). Prinsipnya: “Keduk bejalan, lapa bekhadak” (Hidup itu berjalan-jalan, lapar itu tiba-tiba). Analisis Filosofis: Menyuguhkan makanan adalah puncak dari Nyimah (memberi). Ia menegaskan bahwa tamu adalah bagian dari keluarga yang harus dipelihara. Tidak memberi makan tamu dianggap sebagai “kekurangan” besar yang merusak martabat keluarga (Piil Pesenggiri). Sajian juga menunjukkan rasa syukur tuan rumah atas rezeki yang dimilikinya.
Setiap marga besar memiliki tradisi Nemui Nyimah yang khas, tercermin dalam “had adat” (hukum adat) mereka. Misalnya, marga Pubian yang tersebar di wilayah Pepadun, dikenal dengan falsafah “Bumi satu, ditapak segendong sakandang”. Falsafah ini menekankan kebersamaan dan kesediaan berbagi beban. Dalam konteks Nemui Nyimah, ini berarti beban untuk menjamu tamu adalah tanggung jawab bersama seluruh keluarga besar.
Silsilah kuno dari Keratuan Melinting (Saibatin pesisir timur) mencatat bagaimana leluhur mereka, Ratu Darah Putih, memerintahkan anak cucunya: “Langgai ghumah, bukha lawang. Sai datangi, sai dipupukh” (“Dirikan rumah, bukalah pintu. Siapa yang datang, peliharalah”). Perintah ini menjadi doktrin adat yang mengikat. Keturunannya yang menjadi penyimbang dianggap gagal menjalankan amanah jika dikenal pelit atau tidak ramah.
Sebuah “Pupuh” (syair adat) dari wilayah Abung (Pepadun) yang tersimpan di naskah koleksi keluarga menyenandungkan: “O… tamu datangi dari bukit, kami sambut dengan puan. Tamu turuni dari gunung, kami suguhkan seruit. Jangan kau tanya dari marga mana, tanyalah dahulu telah kau kenyang?”
Syair ini menunjukkan universalitas Nemui Nyimah. Asal-usul tamu (dari bukit atau gunung, yang bisa berarti dari kelompok adat mana pun) bukanlah hal pertama yang ditanyakan. Yang utama adalah memastikan kenyang dan nyaman tamu. Ini adalah prinsip inklusivitas yang kuat, di mana keramahan mendahului identitas.
Pada tingkat spiritual, Nemui Nyimah diyakini memiliki dua kekuatan:
1. Menarik Berkah: Keyakinan bahwa tamu yang datang membawa rezeki dan berkah tersembunyi. Dalam sebuah kepercayaan tua, tamu yang tidak disambut baik akan “membawa pulang kembali rezeki yang seharusnya ditinggalkan” untuk tuan rumah. Oleh karena itu, keramahan adalah investasi spiritual.
2. Menciptakan “Tulung Bala” (Perlindungan Timbal Balik): Dengan membangun jaringan hubungan baik melalui keramahan, sebuah keluarga atau komunitas menciptakan sistem keamanan sosial. Orang yang pernah diterima dengan baik akan merasa berhutang budi dan akan datang membantu di saat tuan rumah mengalami kesusahan. Nemui Nyimah adalah jaring pengaman sosial yang dirajut dengan kebaikan.
Nemui Nyimah juga adalah perwujudan dari “Sakai Sambayan” (gotong royong). Menjamu tamu besar dalam sebuah begawi tidak mungkin dilakukan sendiri. Seluruh kerabat dan tetangga berpartisipasi menyiapkan makanan, menghias tempat, dan menari. Keramahan dengan demikian menjadi proyek bersama yang memperkuat ikatan komunal.
Kisah Inai Semanggian dan Naga mengajarkan bahwa Nemui Nyimah adalah senjata paling ampuh untuk mengubah potensi konflik menjadi hubungan yang manis dan mengalir. Nilai ini mengajarkan bahwa sebelum menanyakan maksud, menilai penampilan, atau membeda-bedakan status, hal pertama yang harus dilakukan adalah “memberi”.
Di dunia yang semakin individualistik, Nemui Nyimah menawarkan sebuah filosofi sosial yang transformatif: bahwa rumah kita bukanlah benteng tertutup, melainkan “rumah dengan pintu yang lapang”. Bahwa tamu bukanlah gangguan, melainkan “utusan tak terduga” yang menguji dan sekaligus memperkaya kemanusiaan kita. Bahwa secangkir air tebu yang diberikan dengan tulus, dapat meredakan bukan hanya dahaga fisik sang tamu, tetapi juga dahaga spiritual sang tuan rumah akan makna berbagi dan berhubungan.
Nemui Nyimah, dalam kesederhanaan ritualnya, adalah bukti bahwa jiwa Lampung yang besar itu berdetak di ruang tamu yang ramah, di senyum penyambut, dan di dalam mangkuk air yang disuguhkan dengan kedua tangan terbuka.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Kitab Kuntara Raja Niti. (Naskah Kuno Aksara Lampung). Transkripsi dan terjemahan oleh Tim Kajian Budaya Lampung, disimpan di Arsip Daerah Provinsi Lampung. (Dokumen Digital/Fisik Terverifikasi).
2. Kumpulan Pupuh Adat Lampung (Wilayah Abung). Naskah manuskrip koleksi pribadi Alm. Bapak R. Sutiyono (Penyimbang Adat), telah didigitalisasi oleh Perpustakaan Universitas Indonesia. (Dokumen Digital).
3. Amanah, N. (2000). Tata Cara Pergaulan dan Penyambutan Tamu dalam Adat Lampung. Penerbit Citra Karya. (Buku Fisik).
4. Hasil Dokumentasi Video dan Wawancara mengenai Ritual Begawi dan Penyambutan Tamu Adat, dilakukan oleh Lembaga Kebudayaan Lampung (LKL) tahun 2015-2018. (Arsip Video Digital Terverifikasi).
5. Silsilah dan Had Adat Keluarga Besar Keratuan Melinting, yang tercatat dalam Buku Silsilah yang disahkan oleh Keratuan dan disimpan di Museum Lampung. (Dokumen Fisik).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

