nataragung.id – Bandar Lampung – Bagi masyarakat adat Lampung, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan jalan hidup yang menyatukan agama, adat, dan martabat manusia. Puasa dipahami sebagai laku batin untuk menata diri agar selaras dengan nilai utama orang Lampung, yakni Piil Pesenggiri, rasa harga diri yang bersumber dari kehormatan, kesantunan, dan tanggung jawab sosial.
Dalam jejak sejarah Lampung, Ramadhan hadir bukan sebagai budaya asing, melainkan tumbuh menyatu dengan adat yang telah lama hidup. Oleh sebab itu, memahami Ramadhan di Lampung berarti membaca ulang hubungan antara wahyu dan kearifan lokal.
Orang-orang tua di pesisir Way Semangka masih menuturkan kisah tentang Puyang Ratu Darah Putih, seorang pemimpin marga yang dikenal tegas namun berhati lembut. Dikisahkan bahwa pada setiap bulan ketika bulan sabit menggantung rendah di langit, sang puyang mengumpulkan keluarganya, lalu mengumumkan masa “sunyi adat”.
Pada masa itu, tidak seorang pun boleh bertengkar, berkata kasar, atau mengambil hasil laut secara berlebihan. Mereka menahan lapar hingga senja, lalu berbuka bersama dengan hidangan sederhana.
Ketika Islam mulai menyebar melalui ulama pesisir, laku adat itu diberi makna baru. Puasa Ramadhan dipahami sebagai penyempurna ajaran leluhur. Lapar yang ditahan bukan lagi semata penghormatan pada alam, melainkan latihan menjaga martabat diri.
Legenda ini hidup dalam cerita lisan dan fragmen silsilah marga yang diwariskan dari satu penyimbang ke penyimbang berikutnya.
Masyarakat adat Lampung mengenal sistem marga yang kuat, baik dalam kelompok Saibatin maupun Pepadun. Setiap marga memiliki asal-usul, wilayah adat, dan aturan hidup yang disebut cepalo adat.
Dalam beberapa naskah kuno Lampung, seperti Kitab Kuntara Raja Niti, tercatat prinsip dasar kehidupan: “Adat sekalik jati, syarak sekalik iman.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa adat dan agama berjalan seiring. Sejak Islam diterima, puasa Ramadhan dimasukkan ke dalam tatanan sosial marga sebagai waktu pengendalian diri kolektif.
Silsilah marga mencatat bahwa bulan Ramadhan sering menjadi masa peneguhan kepemimpinan adat. Seorang calon penyimbang dinilai bukan dari kekayaan atau keturunan semata, tetapi dari kemampuannya menjaga diri, tutur kata, dan sikap selama bulan suci.
Puasa menjadi tolok ukur kelayakan moral.
Piil Pesenggiri adalah inti filsafat hidup orang Lampung. Ia bukan kesombongan, melainkan kesadaran akan harga diri yang harus dijaga melalui perilaku terpuji.
Empat unsur selain Piil Pesenggiri, juluk adek, nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sambayan, mendapat ruang pembuktian paling nyata dalam Ramadhan.
Menahan lapar melatih juluk adek, karena orang yang berpuasa tidak pantas bersikap rendah atau tercela. Memberi hidangan berbuka kepada tamu dan tetangga adalah wujud nemui nyimah. Kesabaran dalam pergaulan mencerminkan nengah nyappur. Sementara gotong royong membersihkan lingkungan dan balai adat menjelang Idulfitri adalah praktik sakai sambayan.
Puasa, dengan demikian, adalah latihan Piil Pesenggiri secara menyeluruh.
Dalam adat Lampung, Ramadhan tidak diwarnai pesta besar. Justru kesederhanaan menjadi tanda kedewasaan adat. Upacara seperti begawi kecil atau pertunjukan cangget tetap dilakukan, namun dengan suasana yang lebih tenang dan gerak yang terukur.
Para tetua adat sering mengingatkan ayat Al-Qur’an:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini dimaknai sebagai panggilan untuk menjaga batas. Dalam tafsir adat, takwa berarti tahu tempat, tahu waktu, dan tahu diri.
Oleh karena itu, Ramadhan menjadi masa pengendalian kolektif, bukan sekadar ibadah pribadi.
Analisis ini menunjukkan bahwa adat Lampung menempatkan puasa sebagai alat pembentuk etika sosial.
Siger, mahkota perempuan Lampung, mengandung simbol tanggung jawab dan kehormatan. Dalam konteks Ramadhan, siger dipahami sebagai pengingat bahwa kemuliaan harus disertai pengendalian diri.
Busana adat yang dikenakan selama bulan suci cenderung lebih tertutup dan tidak berlebihan. Hal ini bukan larangan tertulis, melainkan kesepakatan batin yang hidup dalam adat.
Pakaian menjadi bahasa diam yang menyampaikan pesan spiritual: bahwa martabat lebih utama daripada kemegahan.
Dalam tradisi Lampung, hati dianggap pusat penimbang perilaku. Puasa melatih hati agar tidak dikuasai oleh keinginan sesaat.
Hadis Nabi Muhammad saw. yang sering dikutip dalam pengajian adat berbunyi: “Puasa itu perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai ini dimaknai sebagai pelindung dari perilaku yang merusak kehormatan diri dan marga. Orang yang berpuasa namun melanggar adat dianggap gagal menjaga Piil Pesenggiri.
Dengan demikian, puasa tidak berhenti pada lapar dan dahaga, tetapi berlanjut pada pengendalian sikap dan tutur kata.
Anak-anak Lampung diperkenalkan pada puasa secara bertahap. Mereka diajak bangun sahur bersama, mendengar cerita leluhur, dan belajar berbagi makanan berbuka.
Pendidikan ini tidak bersifat memaksa. Anak belajar bahwa puasa adalah jalan menjadi manusia yang pantas dihormati. Dengan cara inilah Ramadhan diwariskan sebagai nilai hidup, bukan sekadar kewajiban agama.
Ramadhan akan terus datang setiap tahun, tetapi maknanya hanya hidup jika dijaga dalam adat. Selama Piil Pesenggiri tetap menjadi pegangan, puasa akan selalu menjadi jalan melatih hati orang Lampung.
Di tanah siger, Ramadhan bukan hanya waktu ibadah, melainkan peneguhan jati diri. Ia mengajarkan bahwa martabat tidak diwarisi begitu saja, tetapi dilatih, dijaga, dan dipertanggungjawabkan.
Referensi Fisik dan Digital Terverifikasi
* Kitab Kuntara Raja Niti (naskah adat Lampung, koleksi museum dan keluarga adat).
* Al-Qur’an dan Hadis Shahih (Bukhari–Muslim).
* Hilman Hadikusuma, Masyarakat dan Adat Budaya Lampung.
* Pemerintah Provinsi Lampung, Dokumen Kebudayaan Daerah Lampung.
* Arsip Lisan Penyimbang Saibatin dan Pepadun.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

