Organisasi Tanpa Bentuk. Oleh : M.Habib Purnomo //Aktivis PWNU Lampung, tinggal di Bandar Lampung

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di masa kepemimpinan presiden Soeharto yang begitu kuat dan gagah perkasa, otoriter dan militeristik, pendek kata “sing ado lawan,” ternyata ada yang ditakuti oleh pemerintah masa orde baru itu.

Pihak keamanan menyebut kekuatan yang diwaspadai pemerintah kala itu namanya OTB alias Organisasi Tanpa Bentuk.

Namanya saja organisasi tanpa bentuk (OTB) tentu tidak jelas nama organisasinya, pengurusnya, siapa ketua, sekretaris dan bendahara (KSB), semua serba tidak jelas. Presiden Soeharto menyebut gerakan ini dengan nama “Setan gundul’, namanya saja setan serba tidak jelas.

Hingga presiden Soeharto lengser tahun 1998, tidak teridentifikasi siapa penggerak OTB ini

Kini, setelah selesai prahara covid-19 dimana dimasa itu semua kehidupan manusia serba di batasi, muncullah media sosial (medsos) menjadi solusi dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat, dari siswa SD hingga orang dewasa pegang Handphone (HP).

Dunia memasuki kebiasaan baru, media sosial telah menjadi kebutuhan hidupnya.

Baca Juga :  Melanjutkan Cita Kartini di Era Digital. Oleh : Gunawan Handoko //Pemerhati masalah sosial, tinggal di Bandar Lampung

Toko-toko pakaian mengeluh karena konsumennya berkurang, orang membeli pakaian cukup pakai HP (baca belanja online), membeli kebutuhan lainpun juga lewat online.

Koran-koran tinggal menunggu waktu almarhumnya, orang ingin mengetahui informasi saat ini bisa lewat media sosial, tidak perlu lagi repot-repot beli koran.

Orang menyalurkan aspirasi politik langsung lewat medsos tidak lewat partai politik. Partai politik dan owner koran harus segera berubah untuk mensikapi fenomena sosial ini, bila tidak, bisa lewat dalam fungsinya.

Menteri Bahlil yang sudah susah payah membuat perencanaan tata niaga gas melon begitu dipraktekkan ternyata menyebabkan masyarakat antri mengular dan jadi tontonan media nasional dan internasional, netizen bergerak dan viral, segera saja Presiden Prabowo membatalkan program menteri Bahlil tersebut

Belum lama ini beberapa tokoh partai politik (Golkar, PKB, PAN dan Gerindra) berkumpul. Infomasi yang berkembang akan elit parpol tersebut akan merubah pemilihan kepala daerah (pilkada) dari dipilih rakyat langsung menjadi oleh DPRD, netizen bereaksi negatif dan viral. Kemudian Dasco (petinggi Gerindra) menyampaikan bahwa tidak ada rencana merubah aturan pilkada, tetap dipilih langsung oleh rakyat.

Baca Juga :  Korupsi dan Frustasi Massal. Oleh : Gunawan Handoko *)

Beberapa minggu yang lalu kembali viral ; ada vidio anak-anak sekolah di Lampung Timur (Desa Kali Pasir) setiap hari mereka berangkat sekolah berjubel naik perahu dalam kondisi sungai banjir menjadi viral, dan segera Bupati, Gubernur, Pangdam, menteri PU langsung turun ke lokasi dan memberi solusi konkrit untuk membangun jembatan di desa Kali Pasir, secepatnya cepatnya.

Media sosial dengan netizennya adalah organisasi tanpa bentuk (OTB) diera sekarang, tanpa nama, tanpa pengurus, tapi begitu viral ; pemerintah siaga darurat, turun tangan memberi solusi.

Begitu juga program pemerintah akan batal bila netizen viral menolaknya via medsos. Medsos menjadi ajang sidang paripurna terbuka para netizen.

Bulan yang lalu, terpaksa pemerintah Iran mematikan internet, hp mati semua, karena medsos “dipakai” untuk menggerakkan massa untuk mendemo pemerintah Iran. Namun rupanya tidak kalah akal, para pendemo menggunakan starlink milik Elon Musk Amerika. Untung saja Iran di bantu Rusia, untuk matikan internet starlink-nya Elon Musk, kalau tidak, mungkin pemerintahan Iran sekarang sudah ambruk, karena sudah tiga ribu lebih yang tewas termasuk pihak keamanan akibat demo di Iran yang di kendalikan lewat medsos.

Baca Juga :  Kisah Pilu dari Pulau Tabuan : Honor Guru Tak Sampai 5 ribu Per Hari. Oleh : Gunawan Handoko *)

Dunia sudah berubah, publik dengan media sosialnya menjadi pemegang power terkuat saat ini, dunia menjadi terang benderang, melihat pihak lain bagai melihat ikan di akuarium.

Medsos bagai pedang bermata dua, bisa untuk kepentingan positip bisa untuk kepentingan negatif, terserah kita masing-masing pemilik medsos dalam menggunakannya. <>
Tabiik….

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini