nataragung.id – Pemanggilan – Tidak semua orang tampak pada hakikatnya ketika keadaan lapang. Dalam suasana tenang, manusia mudah mengenakan topeng: topeng keimanan, topeng kejujuran, bahkan topeng ketulusan.
Namun ketika krisis datang, saat kenyamanan dicabut dan kepentingan diuji, saat itulah wajah asli manusia tersingkap. Krisis tidak menciptakan sifat baru, tetapi menampakkan apa yang selama ini tersembunyi di dalam hati. Allah Ta‘ala berfirman:
مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang beriman dalam keadaan seperti yang sekarang ini, sehingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik.” (QS. Ali ‘Imran: 179)
Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah sunnatullah. Allah tidak membiarkan keimanan bercampur antara yang tulus dan yang palsu tanpa pemisahan. Justru dengan ujian, Allah menyaring hati-hati manusia: siapa yang imannya bersih dan siapa yang hanya berpura-pura beriman.
Dalam keadaan sulit, orang munafik mulai gelisah. Lisannya tak lagi sejalan dengan hatinya, kesetiaannya goyah, dan kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kebenaran. Krisis mengeluarkan kebusukan orang-orang munafik, yang sebelumnya tersembunyi di balik kata-kata manis dan penampilan saleh.
Sebaliknya, orang-orang yang jujur imannya justru dimurnikan. Mereka mungkin terluka, tetapi tidak berpaling. Mereka diuji, tetapi tidak meninggalkan ketaatan. Krisis membersihkan niat mereka, meneguhkan kesabaran, dan mengangkat derajat mereka di sisi Allah. Inilah kemurnian orang-orang yang tulus, yang semakin bercahaya setelah ditempa ujian.
Maka, ketika krisis datang dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, atau umat, jangan tergesa-gesa mengeluh. Bisa jadi itulah cara Allah membersihkan barisan orang-orang beriman. Yang tersisa bukanlah yang paling lantang berbicara, tetapi yang paling teguh bertahan dalam kebenaran.
Karena pada akhirnya, iman yang sejati tidak diukur saat lapang, tetapi dibuktikan saat sempit. Dan krisis adalah cermin yang jujur. Ia memisahkan yang kotor dari yang suci, yang palsu dari yang murni. (KIS/170).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

