MUTIARA PAGI : Para Pengkhianat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Ada sebuah ungkapan yang membagi siapa saja para pengkhianat itu :

الخائنون أربعة: قادرٌ لم يفعل، وغنيٌّ لم يُنفق، وقاعدٌ لم يُبادر، ولسانٌ لم يتكلم.

“Pengkhianat itu ada empat: orang yang mampu tetapi tidak berbuat, orang yang kaya tetapi tidak berinfak, orang yang duduk (diam) tetapi tidak segera bertindak, dan lisan yang tidak berbicara.”

Narasi ini bukan tentang pengkhianatan dalam arti menusuk dari belakang. Ia lebih halus, lebih sunyi, tetapi dampaknya jauh lebih luas: pengkhianatan terhadap amanah.

Pertama, قادرٌ لم يفعل — orang yang mampu tetapi tidak berbuat.
Betapa banyak di antara kita diberi ilmu, tenaga, kedudukan, dan kesempatan. Namun kemampuan itu dibiarkan membeku. Padahal Allah berfirman:

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْـُٔولُونَ

“Tahanlah mereka, sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Ash-Shaffat: 24)

Kemampuan adalah amanah. Diamnya kemampuan adalah bentuk pengingkaran terhadap nikmat.

Kedua, غنيٌّ لم يُنفق orang kaya yang tidak berinfak.

Harta bukan sekadar milik, tetapi titipan. Allah mengingatkan:

وَأَنفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ

“Infakkanlah sebagian dari harta yang Allah telah menjadikan kamu sebagai pengelolanya.” (QS. Al-Hadid: 7)

Kekayaan yang tidak mengalir pada kebaikan, akan menjadi saksi yang memberatkan. Harta yang ditahan dari haknya, adalah pengkhianatan terhadap amanah rezeki.

Ketiga, وقاعدٌ لم يُبادر orang yang duduk tetapi tidak berinisiatif.

Ia melihat kemungkaran, tetapi tidak bergerak. Ia tahu ada kebaikan yang bisa dilakukan, tetapi memilih menunda. Padahal Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya…” (HR. Shahih Muslim)

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Naiknya Kata yang Baik. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Tidak semua pengkhianatan berupa tindakan jahat. Kadang ia berupa kelambanan, penundaan, dan sikap pasif ketika keadaan menuntut keberanian.

Keempat, ولسانٌ لم يتكلم lisan yang tidak berbicara.

Lisan yang tahu kebenaran tetapi memilih diam. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Sunan Abu Dawud)

Diam dari kebenaran, ketika mampu menyampaikannya, adalah bentuk pengkhianatan terhadap ilmu dan nurani. Betapa sering kita takut disebut berlebihan, takut kehilangan kenyamanan, takut dianggap berbeda.

Padahal yang lebih patut ditakuti adalah saat Allah bertanya: Mengapa engkau tidak berbuat padahal engkau mampu?

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Keyakinan yang Butuh Bukti. (Reflektif Tentang Kehidupan Sosial yang diilhami dari QS. Al-Baqarah ayat 260) Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Mengapa engkau tidak memberi padahal engkau berkecukupan?

Mengapa engkau tidak bergerak padahal kesempatan terbuka?

Mengapa engkau tidak berkata padahal engkau tahu kebenaran?

Semoga Allah menjadikan kita bukan termasuk orang yang mengkhianati amanah kemampuan, harta, waktu, dan lisan.

Sebab hidup ini bukan sekadar tentang apa yang kita lakukan, tetapi juga tentang apa yang kita biarkan terjadi karena kita memilih diam. (KIS/174)
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini