Mutiara Pagi: Hidup di Dunia Adalah Menulis, Hidup di Akhirat Adalah Membaca. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Mari kita simak Firman Allah SWT di QS. Al-Kahfi: 49:

﴿وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا﴾

“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya. Mereka berkata, ‘Betapa celaka kami! Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan mencatat semuanya.’ Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan hadir (di hadapan mereka). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Ada satu kenyataan yang sering dilupakan manusia.

Hari ini kita menulis. Besok kita membaca.

Yang menulis adalah tangan, lisan, mata, hati, dan seluruh anggota badan kita melalui amal-amal yang dilakukan setiap hari.

Dan yang akan dibaca adalah kitab amal yang tidak pernah salah mencatat.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Datang dan Kembali Sendiri-Sendiri. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Allah berfirman:

﴿وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا﴾

“Mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan hadir di hadapan mereka.”

Perhatikan, Allah tidak mengatakan bahwa mereka mendapati apa yang diingat. Tidak pula apa yang diakui. Tetapi apa yang dikerjakan.

Karena amal tidak pernah hilang. Ia hanya menunggu hari untuk ditampakkan.

Tidak Ada yang Benar-Benar Tersembunyi.

Di dunia, seseorang mungkin mampu menyembunyikan dosanya. Ia dapat menghapus pesan. Menghilangkan bukti. Menutupi jejak. Mengelabui manusia.

Namun tidak ada satu pun yang dapat dihapus dari catatan Allah.

Sebaliknya, kebaikan yang tidak diketahui siapa pun juga tidak akan hilang.

Air mata yang jatuh saat tahajud. Sedekah yang dilakukan diam-diam. Doa yang dipanjatkan tanpa diketahui manusia. Semuanya akan hadir dengan sempurna. Allah adalah Pencatat yang tidak pernah lalai.

Dunia Adalah Ruang Persiapan

Setiap hari kita sedang menyusun “biografi akhirat” kita.

Setiap ucapan menjadi satu kalimat. Setiap amal menjadi satu halaman. Setiap pilihan menjadi satu bab.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Ketika Allah Menghendaki Jalan Keluar. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Dan suatu hari nanti, seluruh buku itu akan dibuka tanpa ada satu halaman pun yang hilang.

Maka pertanyaannya bukan: “Apa yang akan aku katakan saat kitab itu dibuka?”

Tetapi:b”Apa yang sedang aku tulis hari ini?”

Filosofi Kehidupan

Banyak orang sibuk memperindah citra di hadapan manusia. Padahal yang menentukan nasib kita kelak bukan citra, melainkan catatan.

Manusia hanya melihat penampilan. Allah melihat kenyataan. Karena itu, lebih penting memperbaiki amal daripada memperbaiki pencitraan.

Inspirasi Kehidupan

Jika kita ingin tampil mulia di hadapan Allah pada hari kiamat, maka hendaknya kita memulai memperindah catatan amal kita hari ini.

Jangan kita menunggu usia tua untuk berubah. Jangan menunggu waktu luang untuk beramal.

Karena setiap hari adalah satu halaman yang tidak akan pernah bisa ditulis ulang.

Sebagai renungan. Surat Al-Kahfi ayat 49 mengajarkan bahwa akhirat bukanlah tempat membuat alasan, melainkan tempat melihat hasil dari apa yang telah kita lakukan. Semua yang kita anggap kecil akan tampak nyata, dan semua yang kita lakukan dengan ikhlas akan mendapatkan balasan yang sempurna.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI - Istiqamah - Jalan Tengah yang Lurus dalam Al-Qur’an. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Maka, mari kita melakukan yang terbaik di dunia ini. Berbicara dengan baik, beribadah dengan tulus, bekerja dengan amanah, dan berbuat baik meski tidak ada yang melihat. Sebab hari ini kita sedang menulis kisah kita sendiri. Dan kelak, di hadapan Allah, kita akan membacanya tanpa ada satu huruf pun yang dapat dihapus.

Semoga ketika kitab amal itu dibuka, yang tampak bukanlah penyesalan, melainkan senyum seorang hamba yang mendapati rahmat Allah atas amal-amal yang dahulu ia kerjakan dengan ikhlas. (*/292)
WaAllahu A’lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini