Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Gabal Ughang, Warisan Adat dan Persaudaraan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami di tanah Lampung hidup rukun berdampingan dengan alam. Sungai-sungai yang membelah daratan menyimpan limpahan anugerah, salah satunya adalah udang-udang kecil yang menjadi sumber kehidupan. Dari kedekatan itulah tercipta sebuah kuliner yang bukan sekadar makanan, melainkan simbol persaudaraan dan warisan adat yang dijaga turun-temurun hingga kini: Gabal Ughang. Sebuah hidangan yang mengajarkan kita tentang makna kebersamaan dan rasa syukur atas karunia alam.

Di sebuah kampung tua di tepian Sungai Komering, hiduplah sekelompok masyarakat yang sangat menghormati alam. Mereka meyakini bahwa setiap rezeki yang datang dari sungai adalah titipan dari Yang Maha Kuasa yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Udang, atau dalam bahasa Lampung disebut ughang, menjadi salah satu hasil alam yang melimpah. Untuk menghormati berkah tersebut, mereka menciptakan sebuah olahan istimewa.
Menurut cerita lisan yang diwariskan tetua adat, Gabal Ughang pertama kali diciptakan oleh seorang Punyimbang (tokoh adat yang dituakan) yang bijaksana. Suatu hari, ketika musim panen udang tiba, penduduk kampung mendapatkan hasil tangkapan yang sangat melimpah. Tidak ingin menyia-nyiakan karunia, sang Punyimbang mengajak seluruh warga untuk mengolah udang tersebut bersama-sama. Mereka memadukannya dengan bumbu-bumbu khas yang tumbuh di sekitar mereka, menciptakan sebuah hidangan yang kemudian dikenal sebagai Gabal Ughang.

Kata “Gabal” sendiri dalam tradisi Lampung merujuk pada sesuatu yang diolah dengan penuh kebersamaan. Bukan hanya sekadar makanan, proses pembuatannya merupakan ritual yang mempererat tali persaudaraan. Setiap orang, dari anak-anak hingga orang tua, dilibatkan dalam kegiatan mengupas udang, menumbuk bumbu, dan menyiapkan santan. Suasana akrab dan penuh canda tawa mewarnai dapur-dapur tradisional mereka, menjadikan momen tersebut pengalaman yang tak terlupakan.

Gabal Ughang lebih dari sekadar hidangan di atas meja. Setiap elemen dalam kulinernya menyimpan pesan moral bagi masyarakat Lampung. Kuah santannya yang gurih mengajarkan kita tentang kemakmuran dan kelembutan. Udang-udang yang berpadu di dalamnya melambangkan persatuan, di mana setiap individu, sekecil apapun, memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Rasa pedas dari bumbunya mengingatkan akan pentingnya semangat dan keberanian dalam menghadapi tantangan.

Bagi masyarakat adat Lampung, menyantap Gabal Ughang bukanlah aktivitas biasa. Ini adalah momen untuk merenungkan Piil Pesenggiri, falsafah hidup yang menjadi dasar perilaku mereka. Piil berarti harga diri, sementara Pesenggiri berarti kompetisi untuk mencapai kehormatan. Dalam setiap suapan Gabal Ughang, tertanam nilai bahwa untuk hidup terhormat, seseorang harus rajin bekerja, berpengetahuan luas, dan menjaga harga diri pribadi serta keluarganya.
Falsafah ini termaktub dalam naskah kuno masyarakat Lampung. Kita bisa menyimak petikan adi-adi atau pantun yang memuat falsafah hidup ulun Lappung dalam dialek ‘A’:
“Tandani ulun Lappung, wat piil-pusanggiri
Mulia heno sehitung, wat liyom khega dikhi
Juluk-adok kham pegung, nemui nyimah muakhi
Nengah-nyampukh mak ngungkung, sakai-sambayan gawi”
Kutipan di atas mengajarkan bahwa orang Lampung sejati memiliki piil-pusanggiri (harga diri), liyom (rasa malu), juluk-adok (gelar kehormatan), nemui nyimah (keramahan), nengah-nyampukh (keterbukaan), dan sakai-sambayan (gotong royong).
Gabal Ughang adalah perwujudan dari nilai-nilai tersebut, di mana setiap langkah pembuatan dan penyajiannya sarat dengan pesan-pesan kebaikan.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah. Seri 1: Piil Pesenggiri, Martabat dan Harga Diri dalam Bingkai Iman. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Hingga kini, resep Gabal Ughang masih dijaga keasliannya oleh masyarakat adat Lampung. Bahan utamanya adalah udang segar yang diambil langsung dari sungai atau danau. Udang ini kemudian dibersihkan dan dimasak dengan santan kental yang diperas dari kelapa tua, dipadukan dengan bumbu-bumbu seperti cabai, kunyit, jahe, dan serai. Proses memasaknya dilakukan dengan perlahan agar bumbu meresap sempurna.
Keunikan Gabal Ughang terletak pada cara menghidangkannya. Hidangan ini biasanya disajikan dalam wadah besar yang disebut dulang, ditempatkan di tengah-tengah meja. Setiap orang yang hadir mengambil bagiannya bersama-sama, melambangkan kebersamaan dan kesetaraan. Menurut adat, tidak ada yang diperbolehkan menyantap hidangan ini sendirian. Gabal Ughang harus dinikmati dalam suasana kekeluargaan, seiring dengan obrolan hangat dan canda tawa.
Dalam tradisi cuak mengan, yang merupakan acara makan bersama dalam suasana resmi yang dihadiri oleh tokoh adat (punyimbang) dan tamu undangan, Gabal Ughang sering kali menjadi hidangan utama. Penyajiannya dilakukan dengan tata cara adat yang khas, mencerminkan penghormatan kepada tamu dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak ada larangan bagi tamu yang datang membawa menu tambahan, bahkan tuan rumah akan menyambutnya dengan tangan terbuka sebagai wujud persaudaraan yang erat.
Sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun, Gabal Ughang memiliki dimensi spiritual yang dalam. Kegiatan memasak dan menyantapnya sering diawali dengan doa bersama, sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan. Nilai-nilai keislaman sangat terasa dalam setiap tahapannya. Ajaran tentang kebersamaan, berbagi, dan tidak menyia-nyiakan makanan selaras dengan prinsip-prinsip Islam.
Dalam hal ini, falsafah hidup Piil Pesenggiri tidak bertentangan dengan syariat. Justru, nilai-nilai seperti nemui nyimah (keramahan dan saling memberi) serta sakai sambayan (gotong-royong) sejalan dengan ajaran Islam tentang silaturahmi dan tolong-menolong.

Baca Juga :  Serial Buku Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung. Kata Pengantar Dari 6 Seri Tulisan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Para tetua adat selalu menekankan bahwa menjaga tradisi seperti Gabal Ughang adalah bagian dari ibadah, selama tidak melanggar aturan agama dan tetap mengedepankan niat baik.
Jika kita telaah lebih dalam, dalam tradisi Lampung dikenal istilah adok atau ade, yang dalam bahasa setempat merujuk pada nama panggilan untuk pria atau wanita yang sudah menikah. Tradisi pemberian nama atau gelar (juluk) ini mengajarkan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk keluarga dan masyarakat.

Tradisi Gabal Ughang berkaitan erat dengan struktur sosial masyarakat Lampung yang terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu Pepadun dan Saibatin. Kedua kelompok ini memiliki dialek dan adat yang sedikit berbeda, namun tetap bersatu dalam falsafah Sai Bumi Ruwa Jurai (satu bumi dua kelompok). Menurut adat, kelestarian kuliner ini dijaga oleh masing-masing marga (klan) sebagai bagian dari identitas mereka.
Dalam naskah-naskah kuno seperti Kuntara Raja Niti, yang merupakan kitab undang-undang adat Lampung, terdapat banyak aturan tentang bagaimana masyarakat harus menjaga alam dan hasil buminya. Salah satu kutipan dari kitab tersebut, meskipun dalam bahasa aslinya berbunyi: “Pepat belah depati, adek ngeliyom mak ngungkung wat balak”
Yang secara sederhana dapat dimaknai bahwa keputusan dalam masyarakat diambil melalui musyawarah, dan perilaku baik tidak mengenal sekat. Gabal Ughang adalah simbol dari semangat musyawarah dan kebersamaan tersebut.

Di tengah arus modernisasi, tradisi Gabal Ughang tetap bertahan. Masyarakat Lampung, terutama generasi muda, mulai menyadari pentingnya melestarikan warisan kuliner ini. Berbagai festival dan acara budaya sering menampilkan Gabal Ughang sebagai daya tarik utama, tidak hanya sebagai makanan tetapi juga sebagai media pendidikan tentang adat istiadat.

Nilai-nilai Pancasila secara natural terpatri dalam tradisi ini. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, tercermin dalam doa dan rasa syukur sebelum menyantap hidangan. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, terlihat dari sikap nemui nyimah yang mengajarkan keramahan dan saling menghargai. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, diwujudkan dalam semangat kebersamaan saat memasak dan menyantap Gabal Ughang bersama. Sila keempat, Kerakyatan, terlihat dari musyawarah dalam menentukan cara penyajian adat. Sementara sila kelima, Keadilan Sosial, tercermin dalam sakai sambayan yang mengedepankan gotong royong.
Gabal Ughang bukan sekadar makanan khas Lampung. Ia adalah cerminan kedekatan masyarakat dengan alam, simbol persaudaraan yang kuat, dan warisan adat yang sarat dengan nilai-nilai luhur. Dari kisah leluhur yang menciptakannya hingga cara penyajian yang penuh makna, Gabal Ughang mengajarkan kita tentang harga diri, keramahan, keterbukaan, dan gotong royong.
Dengan memahami dan melestarikan Gabal Ughang, kita tidak hanya menjaga warisan kuliner tetapi juga merawat jati diri sebagai masyarakat Lampung yang berbudaya, beragama, dan ber-Pancasila. Marilah kita jaga tradisi ini agar tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang. Sebagaimana kata nenek moyang kita, “Orang Lampung itu keras kepala dalam memegang prinsip, tapi lembut hati dalam bersaudara,” begitulah Gabal Ughang, keras dalam rasa, tetapi lembut dalam menyatukan hati.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 7. “Tapis Berbicara: Makna yang Dijahit oleh Ibu-Ibu Adat” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Daftar Pustaka
1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menyeruit Yuk!. Jakarta: Kemdikbud, 2019.
2. Saibani, Ahmad, et al. Mengenal Budaya Lampung Dalam 4 Bahasa. Bandung: Ad-Print Mitra Pustaka, 2013.
3. Mustika, I Wayan. Sekilas Budaya Lampung Dan Seni Tari Pertunjukan Tradisionalnya. Bandar Lampung: Buana Cipta, 2011.
4. Martiara, Rina. Nilai Dan Norma Budaya Lampung: Dalam Sudut Pandang Strukturalisme. Yogyakarta: Badan Penerbit Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2012.
5. Sholihin, Bunyana. “Menyingkap Jiwa Dan Rasa Keadilan Hukum Bangsa Indonesia Dalam Naskah Klasik Beraksara Lampung (Undang-Undang Kuntara Rajaniti Dan Jugulmuda).” Jurnal Asas, Vol. 11 No. 01, 2019.
6. Puspawidjaja, Rizani. Hukum Adat Dalam Tebaran Pemikiran. Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2006.
7. Kesuma, Tubagus Ali Rachman Puja, dan Cicilia, Deri. “Piil Pesenggiri : Strategi Resolusi Konflik Menggunakan Nilai-Nilai Agama dan Pancasila.” Jurnal Masyarakat Dan Budaya, Vol. 19 No. 2, 2018.
8. Lestari, Indah. Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin (P5PPRA) Berbasis Kearifan Lokal di MIN 2 Lampung Barat. Skripsi: UIN Raden Intan Lampung, 2024.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini