nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman dahulu kala, di tepian Way Rarem, hiduplah seorang pemuda bernama Legung. Ia dikenal sebagai anak yang rajin, namun seringkali merasa rendah diri karena berasal dari keluarga biasa. Suatu hari, saat membersihkan halaman, ia menemukan sepotong kaca bening yang terbawa arus sungai. Ketika ia melihat bayangannya, yang terpantul bukanlah wajahnya sendiri, melainkan sebuah telaga jernih yang memantulkan langit, hutan, dan segala yang ada di sekitarnya dengan sempurna.
Seorang tetua adat yang bijak, Menak Padang, kebetulan melintas dan berkata, “Legung, apa yang kau lihat?”
“Saya melihat diri saya yang kecil, Pak Menak,” jawab Legung lesu.
Sang tetua menggeleng, “Kau keliru, Nak. Kaca itu adalah hatimu. Ia tidak menciptakan bayangan, tetapi memantulkan kebenaran. Ia memantulkan martabatmu sebagai penjaga sungai, harga dirimu yang tak ternoda oleh kemalasan, dan kehormatan keluargamu yang telah setia pada adat. Itulah Piil Pesenggiri-mu. Janganlah kau lihat dirimu dari debu yang mengotori kakimu, tetapi lihatlah dari kemurnian telaga di dalam hatimu yang memantulkan cahaya Sang Pencipta.”
Kisah Legung dan Telaga Kaca Hati menjadi metafora abadi bagi masyarakat Lampung. Piil Pesenggiri bukanlah tentang kesombongan, melainkan tentang kesadaran untuk senantiasa membersihkan “kaca hati” agar dapat memantulkan martabat, harga diri, dan kehormatan yang sesungguhnya, yang bersumber dari iman kepada Allah SWT.
Hakikat Piil Pesenggiri , Bukan Sekadar Bangga Diri.
Piil Pesenggiri sering disalahartikan sebagai sikap arogan atau kebanggaan suku yang berlebihan. Padahal, dalam kajian yang lebih mendalam, falsafah ini adalah sebuah kerangka moral yang kompleks. Secara harfiah, Piil dapat dimaknai sebagai sikap, perilaku, atau perangai, sedangkan Pesenggiri berasal dari kata senggiri yang berarti malu, harga diri, atau martabat.
Jadi, Piil Pesenggiri adalah sikap hidup yang senantiasa dilandasi oleh rasa malu untuk berbuat tercela dan komitmen untuk menjaga martabat diri.
Dalam konteks Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah, Piil Pesenggiri menemukan sandaran spiritualnya yang kokoh. Bangga sebagai orang Lampung tidak lagi bersumber semata-mata pada garis keturunan atau kedudukan, tetapi pada sejauh mana individu tersebut dapat mengejawantahkan nilai-nilai ilahiyah dalam kehidupannya.
Konsep ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
Wa laqad karramnaa Baniii aadama wa hamalnaahum fil barri walbahri wa razaqnaahum minat taiyibaati wa faddalnaahum ‘alaa kasiirim mimman khalaqnaa tafdiilaa
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isrā’: 70)
Ayat ini menjadi fondasi teologis bagi Piil Pesenggiri. Kemuliaan dan martabat manusia bukanlah pemberian adat semata, melainkan anugerah langsung dari Allah SWT. Oleh karena itu, menjaga Piil Pesenggiri berarti menjalankan amanah untuk memelihara kemuliaan yang telah Allah berikan. Seorang yang memiliki Piil Pesenggiri tinggi akan malu untuk berbuat dusta, korupsi, atau menganiaya orang lain, karena perbuatan itu akan menodai kemuliaan yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Rukun Piil Pesenggiri dan Wujudnya dalam Kehidupan.
Piil Pesenggiri tidak hidup dalam ruang hampa; ia diwujudkan melalui prinsip-prinsip pokok yang menjadi pilar penyangganya. Beberapa rukun utama tersebut adalah:
1. Bejuluk Beadek (Berjuluk Beradat): Setiap individu dalam masyarakat adat Lampung memiliki julukan atau gelar adat (juluk) yang menyatakan posisi dan tanggung jawabnya. Gelar ini bukan untuk disombongkan, melainkan sebagai pengingat akan amanah yang harus dijalankan. Seorang Punyimbang (pemimpin) yang menyandang gelar Suttan, misalnya, harus memimpin dengan adil dan bijaksana, mencerminkan sifat-sifat mulia yang diajarkan Islam.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Analisisnya, gelar adat (bejuluk) menjadi instrumen untuk mengingatkan pemimpin dan masyarakatnya akan tanggung jawab mereka di hadapan Allah kelak. Keseimbangan antara otoritas adat dan akuntabilitas spiritual inilah yang mencegah penyalahgunaan kekuasaan.
2. Nemui Nyimah (Menerima Tamu dengan Murah Hati): Keterbukaan dan keramahan terhadap tamu adalah manifestasi nyata dari Piil Pesenggiri. Sebuah rumah yang selalu terbuka bagi tamu mencerminkan keluarga yang percaya diri dan berhati lapang. Dalam tradisi Lampung, tamu adalah kehormatan.
Filosofi ini berpadu dengan indah pada ajaran Islam: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Al-Bukhari)
Dengan demikian, Nemui Nyimah bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi bagian dari keimanan. Menjamu tamu dengan baik adalah wujud dari memuliakan anugerah rezeki dari Allah dan sekaligus menjaga kehormatan keluarga di mata masyarakat.
3. Nengah Nyappur (Aktif dalam Pergaulan): Seorang yang memiliki harga diri tidak akan menyendiri atau menjauhkan diri dari komunitas. Ia harus aktif dalam pergaulan, bermusyawarah, dan berkontribusi untuk kemaslahatan bersama. Ini mencerminkan etika sosial yang kuat.
Dalam Islam, prinsip ini selaras dengan konsep ukhuwah (persaudaraan) dan amar ma’ruf nahi munkar. Seorang yang Nengah Nyappur akan menjadi kekuatan positif dalam masyarakat, menjaga moralitas dan mencegah kerusakan.
4. Sakai Sambayan (Tolong-Menolong): Gotong royong adalah jiwa dari masyarakat Lampung. Konsep ini menekankan tanggung jawab sosial bahwa setiap anggota masyarakat harus saling membantu, terutama dalam kesusahan.
Nilai ini adalah refleksi nyata dari perintah Allah untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan
Ya ayyuhal-lazina amanu la tuhillu syaa’irallahi wa lasy-syahral-harama wa lal-hadya wa lal-qala’ida wa la amminal-baital-harama yabtaguna fadlam mir rabbihim wa ridwana(n), wa iza halaltum fastadu, wa la yajrimannakum syana’anu qaumin an saddukum anil- asjidil-harami an tatadu, wa taawanu alal-birri wat-taqwa, wa la taawanu alal-ismi wal-udwan(i), wattaqullah(a), innallaha syadidul-iqab
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridhaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Mā’idah: 2).
Piil Pesenggiri seseorang diukur dari seberapa besar kontribusinya untuk meringankan beban saudaranya.
Jejak Sejarah dan Legenda: Asal-Usul Marga dan Penjaga Piil Pesenggiri.
Menurut Kuntara Raja Niti dan naskah kuno lainnya, masyarakat adat Lampung terbagi dalam dua kekebuaian besar: Peminggir (Saibatin) dan Pepadun. Masing-masing kekebuaian ini memiliki sejarah dan silsilah (tarikh) yang dijaga turun-temurun.
Sebuah legenda menceritakan tentang empat bersaudara, Empu Pernong, Empu Belunguh, Empu Bejalan di Way, dan Empu Nyerupa, yang merupakan tokoh pemula dari beberapa marga utama.
Mereka diyakini sebagai orang-orang yang pertama kali menegakkan Piil Pesenggiri dengan menjadikan ajaran-ajaran luhur sebagai pedoman hidup. Silsilah ini bukan hanya dokumen genealogis, tetapi merupakan piagam moral. Setiap generasi yang menyandang nama marga tersebut diingatkan akan tanggung jawabnya untuk menjaga warisan Piil Pesenggiri dari leluhurnya.
Menelusuri silsilah berarti menyadari bahwa diri ini adalah mata rantai dalam sebuah perjalanan panjang menuju kemuliaan, yang harus dijaga dan diteruskan dengan integritas yang tak tergoyahkan.
Piil Pesenggiri di Zaman Modern, Menjaga Keseimbangan yang Terus Bergerak.
Dalam arus globalisasi, Piil Pesenggiri menghadapi ujian yang kompleks. Namun, prinsip Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah memberikan ketahanan yang dinamis. Piil Pesenggiri bukanlah benteng yang kaku, melainkan kompas yang selalu menunjuk pada kebenaran.
Menjaga martabat di dunia digital, misalnya, berarti menggunakan media sosial dengan penuh etika (adab), tidak menyebarkan kebencian atau hoaks, karena itu bertentangan dengan syara’. Harga diri seorang profesional Lampung diukur dari kejujuran dan amanahnya dalam bekerja, mencerminkan sikap Siddiq (benar) dan Amanah (dapat dipercaya) yang diajarkan Islam.
Dengan demikian, Piil Pesenggiri tetap relevan. Ia adalah “Telaga Kaca Hati” yang mengajak setiap generasi untuk senantiasa introspeksi: Sudahkah sikap dan perbuatan kita memantulkan martabat sebagai hamba Allah yang mulia dan sebagai bagian dari masyarakat adat Lampung yang berbudaya luhur? Inilah keseimbangan hidup yang hakiki.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Kuntara Raja Niti. (Naskah Kuno Adat Lampung). Transliterasi dan terjemahan oleh Pusat Studi Lampung.
3. Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya. (Kemenag RI).
4. Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

