Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ngaji di Lamban, Pendidikan Adat dan Agama Menyatu Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Masyarakat adat Lampung memandang kehidupan sebagai anyaman antara adat dan agama. Dalam pandangan hidup orang Lampung, adat bukan sekadar aturan sosial, melainkan jalan untuk menjaga keharmonisan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Bulan Ramadhan hadir sebagai ruang waktu yang memperkuat anyaman tersebut. Di sinilah nilai-nilai adat menemukan denyut spiritualnya, dan ajaran agama menyatu dengan tradisi lokal tanpa saling meniadakan.

Buku ini disusun sebagai seri fiksi tradisional yang berpijak pada cerita rakyat, sejarah marga, serta refleksi filosofis atas adat istiadat masyarakat adat Lampung. Fokus pembahasan diarahkan pada praktik Ngaji di Lamban sebagai simbol pendidikan adat dan agama yang hidup, diwariskan, dan dimaknai secara turun-temurun, khususnya dalam suasana Ramadhan.

Konon, pada suatu Ramadhan di masa lampau, hiduplah seorang tetua adat bernama Puyang Ratu Niti di sebuah lamban tua di kaki gunung Pesagi. Lamban itu tidak megah, namun dikenal sebagai tempat berkumpulnya anak-anak marga setiap malam selepas berbuka. Di sanalah lantunan ayat suci berpadu dengan kisah leluhur.
Setiap malam, Puyang Ratu Niti duduk bersila dengan kitab tua beraksara Arab Melayu dan Lampung Kuno. Anak-anak mengelilinginya, sebagian memegang mushaf, sebagian lagi menyimak kisah asal-usul marga mereka. Dalam satu majelis, mereka belajar membaca Al-Qur’an sekaligus memahami siapa diri mereka sebagai orang Lampung.

Dalam cerita rakyat ini, diceritakan bahwa suatu malam cahaya pelita di lamban itu bersinar lebih terang dari biasanya. Puyang Ratu Niti berkata, “Inilah cahaya adat yang dipelihara oleh iman. Jika salah satunya padam, gelaplah jalan hidup kita.” Cerita ini kemudian diwariskan sebagai simbol bersatunya pendidikan agama dan adat.

Baca Juga :  Jejak Khitanan dalam Adat Pepadun Pubian Bukuk Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Masyarakat adat Lampung terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu Saibatin dan Pepadun. Keduanya memiliki sistem marga yang kuat, berakar pada silsilah leluhur yang diyakini berasal dari keturunan Puyang-puyang Lampung.
Legenda tua yang tercatat dalam Kuntara Raja Niti, sebuah naskah adat Lampung, menyebutkan asal-usul marga dari perjalanan leluhur yang membuka wilayah, menetapkan hukum adat, dan membangun tatanan sosial. Dalam naskah tersebut tertulis: “Adat hulun sai tetakuk, hukum sai ditegak, janji sai dipatuh.”
Kutipan ini menegaskan bahwa adat Lampung berdiri di atas kepatuhan, penegakan hukum, dan kesetiaan pada janji. Dalam konteks Ramadhan, nilai ini diwujudkan dalam disiplin beribadah, menjaga lisan, serta mempererat ikatan kekeluargaan marga.

Silsilah marga biasanya disimpan dalam bentuk cerita lisan atau dokumen keluarga yang hanya dibacakan pada waktu tertentu, termasuk pada malam-malam Ramadhan. Pembacaan silsilah bukan sekadar mengenang nama, tetapi menanamkan kesadaran akan tanggung jawab moral sebagai penerus adat.
Ngaji di Lamban bukan hanya aktivitas keagamaan, melainkan institusi pendidikan tradisional. Lamban berfungsi sebagai ruang belajar, ruang musyawarah, dan ruang pembentukan karakter. Dalam bulan Ramadhan, fungsi ini semakin menguat.
Anak-anak belajar mengaji, sementara orang dewasa mendalami makna ayat dan mengaitkannya dengan hukum adat. Sebuah ungkapan adat Lampung menyebut: “Adat bejalan di atas syarak, syarak bejalan di atas Kitabullah.”
Ungkapan ini sejalan dengan kaidah dalam fikih Islam yang berbunyi: “Al-‘adah muhakkamah.”
Artinya, adat dapat menjadi dasar hukum selama tidak bertentangan dengan syariat. Analisis atas kutipan ini menunjukkan bahwa masyarakat Lampung secara sadar menempatkan adat sebagai sarana menjalankan nilai-nilai Islam, bukan sebagai tandingan.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan di Bumi Lampung, Jejak Adat yang Menyapa Waktu. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Pada masa lalu, beberapa upacara adat seperti begawi atau cangget disesuaikan dengan suasana Ramadhan. Jika tidak dilaksanakan secara penuh, unsur-unsur spiritualnya tetap hadir, seperti doa bersama, sedekah makanan, dan musyawarah marga.
Nilai utama yang ditonjolkan adalah piil pesenggiri, yakni harga diri yang bersumber dari akhlak. Dalam Ramadhan, piil pesenggiri diwujudkan melalui pengendalian diri, kepedulian sosial, dan penghormatan kepada sesama.
Filosofi ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an: “Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām…” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan tujuan puasa untuk membentuk ketakwaan. Dalam adat Lampung, ketakwaan tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial dan kultural.
Siger sebagai mahkota adat perempuan Lampung melambangkan kemuliaan dan tanggung jawab.
Dalam narasi adat, siger juga dimaknai sebagai cahaya ilmu. Pada Ramadhan, makna ini diperluas sebagai cahaya iman yang menerangi keluarga dan marga.
Penggunaan bahasa adat dalam nasihat Ramadhan memperlihatkan bagaimana simbol budaya menjadi media dakwah. Bahasa ibu digunakan agar nilai agama lebih mudah meresap dan terasa dekat.

Baca Juga :  Gulai Balak, Bukan Sekadar Sajian Hajatan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Di tengah perubahan sosial, tradisi Ngaji di Lamban menghadapi tantangan. Namun, esensinya tetap relevan. Pendidikan adat yang menyatu dengan agama menjadi benteng identitas dan moral generasi muda.
Cerita-cerita rakyat yang disampaikan dalam suasana Ramadhan berfungsi sebagai penguat memori kolektif. Ia tidak menggurui, tetapi menyentuh rasa dan imajinasi.
Ramadhan dalam jejak hidup dan adat Lampung bukan sekadar peristiwa tahunan, melainkan proses pewarisan nilai. Melalui Ngaji di Lamban, masyarakat adat Lampung menjaga kesinambungan antara iman, adat, dan sejarah. Di sanalah cahaya pelita leluhur tetap menyala, menerangi jalan generasi yang akan datang.

Daftar Pustaka
1. Abdullah, Irwan. Adat dan Islam di Lampung. Bandar Lampung: Pusat Studi Budaya Lampung.
2. Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandung: Alumni.
3. Kuntara Raja Niti. Manuskrip Adat Lampung, Arsip Daerah Lampung.
4. Pemerintah Provinsi Lampung. Inventarisasi Budaya dan Marga Lampung. Bandar Lampung.
5. Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini