Buku Seri – Nengah Nyappur, Seni Merajut Silaturahmi dan Memperluas Pergaulan. Seri 10: Benang Emas di Era Badas (Zaman Modern). Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, seorang pemuda bernama Arya dari Marga Selagai yang sedang menempuh pendidikan di ibukota, terbangun oleh notifikasi ponselnya. Sebuah pesan grup keluarga besar mengabarkan akan diadakannya cangget adat di kampung halaman. Layar ponselnya juga dipenuhi oleh undangan webinar jaringan profesional dan notifikasi media sosial. Di tengah kebimbangannya, ia teringat pesan almarhum neneknya yang tersimpan dalam sebuah rekaman suara: “Arya, dunia mayamu itu seperti badas (kabut) di pagi hari. Indah dilihat, tetapi mudah menghilang. Jangan lupa pada benang emas yang menjahit jantung hati orang Lampung: Nengah Nyappur.”

Pesan itu menggema dalam benaknya, memaksa Arya untuk mempertanyakan di mana sebenarnya tempatnya berada: dalam pusaran dunia digital yang tanpa batas, atau dalam ikatan adat yang penuh dengan tata krama? Perjalanannya menemukan jawaban pun dimulai.
Kearifan pertama yang diuji adalah konsep sakai sambayan (gotong royong dan rasa senasib). Dahulu, nilai ini diterjemahkan dalam membangun rumah bersama atau menggarap ladang. Kini, generasi muda Lampung mempraktikkannya dalam bentuk yang baru. Seorang mahasiswa asal Lampung yang kesulitan biaya kuliah dapat langsung mendapatkan bantuan dari grup Facebook “Anak Lampung Peduli” yang beranggotakan ribuan orang dari berbagai marga dan latar belakang.
Sebuah analisis terhadap fenomena ini menunjukkan bahwa semangat sakai sambayan tidak hilang, tetapi bermigrasi. Seorang tetua adat pernah berkata, “Sakai sambayan itu bagai air sungai, mencari jalannya sendiri.” Dalam konteks modern, “jalan baru” itu adalah platform digital. Nilai intinya tetap sama: solidaritas. Tantangannya adalah menjaga kedalaman makna. Bantuan melalui transfer digital mungkin cepat, tetapi bisa kehilangan nuansa nyappur yang hangat seperti saat berjabat tangan dan menatap mata langsung. Di sinilah diperlukan kreativitas untuk memadukan kecepatan teknologi dengan kehangatan adab tradisional.
Nilai piil pesenggiri (harga diri, martabat, dan etika) menghadapi ujian terberat di era digital. Sebuah unggahan di media sosial yang tidak sopan atau hoaks yang disebarkan dapat merusak reputasi tidak hanya individu, tetapi juga keluarganya, bahkan marganya. Padahal, dalam kitab Kuntara Raja Niti disebutkan: “Jagou pekhek jama ghop, piil pesenggiri khagou lupakan.” (Jaga ucapan dan perbuatan, harga diri jangan dilupakan.)

Baca Juga :  Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri - 3 – Bertutur dengan Sopan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis mendalam terhadap kutipan ini di era modern menjadi sangat krusial. “Ucapan” kini mencakup status, komentar, dan story di media sosial. Piil pesenggiri menuntut generasi muda untuk menjadi lebih bijak dalam curhat atau berekspresi di ruang publik virtual. Nilai ini justru menjadi tameng yang relevan. Ketika banyak orang tergoda untuk oversharing atau membuat konten provokatif, piil pesenggiri mengajarkan untuk menjaga malu dan titian (filter) dalam berkomunikasi. Dengan demikian, jejaring sosial yang mereka bangun bukanlah jejaring yang rapuh berdasarkan sensasi, tetapi yang kuat berdasarkan respek.
Tantangan terbesar adalah mempertahankan esensi Nengah Nyappur yang bersifat fisik dan penuh rasa. Namun, pandemi beberapa waktu lalu memaksa adanya inovasi. Beberapa komunitas adat mulai mengadakan webinar atau live streaming dialog antargenerasi. Seorang anak muda di Jakarta dapat menyimak langsung penjelasan seorang punyimbang (pemangku adat) dari Lampung tentang filosofi sebuah ritual.
Ini adalah bentuk adaptasi yang cerdas. Seperti dikatakan seorang budayawan, “Adat itu seperti pohon, diam di tempat tetapi ranting-rantingnya meraih cahaya baru.” Platform virtual menjadi “cahaya baru” untuk memperluas jangkauan silaturahmi. Akan tetapi, nuansa spiritual seperti berjabat tangan (salim) untuk memohon berkah, atau makan bersama dalam selametan, sulit tergantikan. Karena itu, pertemuan virtual seharusnya dilihat sebagai pengantar, bukan pengganti, untuk pertemuan fisik. Ia adalah cara untuk merawat benih hubungan, yang suatu saat harus ditanam dan dipupuk melalui pertemuan langsung.
Di sinilah peran strategis generasi muda seperti Arya. Mereka adalah “penerjemah” dua dunia. Mereka dapat mengambil alih peran sebagai anak biku (penyair) modern yang menyampaikan nilai-nilai luhur adat melalui bahasa yang dipahami sebayanya: konten kreatif di Instagram, podcast sejarah marga, atau video dokumenter tentang upacara adat yang dikemas secara menarik.

Baca Juga :  Buku Seri : PIIL PESENGGIRI.. Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri 2: Filsafat Hidup yang Abadi, Memaknai Piil Pesenggiri. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Legenda modern pun tercipta. Arya, setelah pulang kampung dan menghadiri cangget, tidak hanya menjadi peserta pasif. Ia merekam prosesi tersebut dengan hormat, mewawancarai tetua adat, dan membuat thread informatif di Twitter yang menjelaskan makna di balik setiap gerakan tari dan ucapan adat. Karyanya viral dan justru menginspirasi banyak anak muda lain untuk kembali mempelajari adatnya. Ia telah melakukan Nengah Nyappur gaya baru: menjembatani generasi tua dan muda, serta memperkenalkan kekayaan budayanya kepada khalayak yang lebih luas.
Arya akhirnya menyadari bahwa dunia digital dan adat bukanlah dua kutub yang bertentangan. Dunia digital adalah alat, sementara nilai-nilai Nengah Nyappur adalah jiwanya. Tantangan terbesar bagi generasinya bukanlah menolak modernitas, tetapi menjadi punyimbang bagi nilai-nilai luhur di tengah arus badai informasi.

Baca Juga :  Buku Seri : Sakai Sambayan Filosofi Tolong Menolong yang Tak Pernah Pudar. Seri - 1: Akar Filosofi yang Tertanam Dalam. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Benang emas Nengah Nyappur itu tetap ada, hanya saja kain yang ditenunnya kini lebih beragam: ada tenun tradisional, ada juga kain digital. Esensinya tetap sama: merajut silaturahmi dengan penuh kesadaran, rasa hormat, dan tanggung jawab. Bagi generasi muda Lampung, merawat benang emas ini berarti menjadi pribadi yang unggul secara global tanpa kehilangan akar lokalnya. Mereka adalah penerus yang akan memastikan bahwa dalam setiap gawai yang mereka pegang, tetap berdetak jantung piil pesenggiri dan semangat sakai sambayan yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka di Bumi Ruwa Jurai.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Adat Istiadat Daerah Lampung oleh Hilman Hadikusuma (1989). Penerbit: Depdikbud. (Format Fisik).
2. Jurnal Ilmiah: “Transformasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Piil Pesenggiri dalam Kehidupan Generasi Muda Lampung di Era Globalisasi” oleh Diah Kurniawati, dalam Jurnal Sociologie, Vol. 3, No. 2 (2019). (Format Digital, terindeks di portal jurnal).
3. Buku: Anak Muda dan Adat: Dinamika Revitalisasi Budaya Lokal di Era Digital (Editor: R. Saptono), 2021. Penerbit: Pustaka Pelajar. (Format Fisik – terdapat bab khusus tentang Lampung).
4. Naskah Digital: Kuntara Raja Niti: Edisi Kritik dan Terjemahan oleh Suryadi. Dimuat dalam Wacana, Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya, Vol. 12, No. 2 (2010). (Format Digital, terindeks di portal jurnal ilmiah).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini