nataragung.id – Pemanggilan – Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subḥanahu wata’ala yang telah memberi kita nikmat iman dan kesempatan menikmati hari-hari Ramadhan.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, teladan dalam kesabaran dan ketakwaan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan besar untuk menundukkan hawa nafsu. Nafsu yang sering menyeret manusia pada kelalaian, kesombongan, bahkan kemaksiatan.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)
Ramadhan melatih kita untuk berkata “tidak” pada keinginan yang sebenarnya halal di siang hari. Makan halal, minum halal, suami-istri halal, semua ditahan karena perintah Allah. Jika yang halal saja kita mampu menahannya, maka seharusnya yang haram lebih mudah kita tinggalkan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, siapa yang mampu menikah maka menikahlah, karena itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Dan siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu adalah perisai baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa disebut sebagai wijā’, benteng, perisai, pengendali syahwat. Artinya, puasa memiliki kekuatan spiritual untuk melemahkan dominasi hawa nafsu.
Jamaah sekalian.
Sering kali manusia kalah bukan karena kurang kuat, tetapi karena tidak terlatih. Ramadhan adalah pusat pelatihan ruhani.
Setiap rasa lapar mengajarkan kesabaran. Setiap dahaga mengajarkan ketahanan. Setiap godaan mengajarkan pengendalian diri.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:
إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
“Apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat gaduh. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah puasa yang sesungguhnya: menahan amarah, menjaga lisan, mengontrol emosi. Bukan hanya menahan makan, tetapi menahan diri dari keburukan.
Jamaah yang dimuliakan Allah, Jika setelah Ramadhan kita masih mudah marah, masih sulit menjaga lisan, masih berat meninggalkan maksiat, berarti ada yang belum sempurna dalam latihan kita.
Mari jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk:
Mengendalikan emosi, menjaga pandangan, menata hati dan menguatkan kesabaran
Semoga Allah Subḥanahu wata’ala menjadikan puasa kita sebagai puasa yang berkualitas, bukan sekadar rutinitas.
اللهم أعنّا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
Ya Allah, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kami kepada-Mu.
Amin ya Rabbal ‘alamin. (KIS/179).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

