nataragung.id – Yogyakarta – Suara ketukan terdengar dari pintu ruang kerjaku. Waktu jam istirahat, biasanya para kurir yang akan mengantarkan pesanan makanan. Namun, ini bulan puasa, dan saya tidak memesan makanan apapun. Apalagi saya sudah berjanji, sore nanti akan berbuka bersama dengan istri dan anak-anak.
Rupanya, memang bukan kurir, melainkan temanku yang berprofesi sebagai pekerja seks. Mbak Ranti–bukan sebenarnya, masuk ke ruanganku. Tumben dia enggak merias diri, menggunakan jeans warna biru, dan kaos berkerah warna putih bertuliskan ‘Penuhi Hak Kesehatan Reproduksi.’
“Puasa enggak nih?” tanyaku tak lama setelah ia duduk di kursi tamu, dan nafasnya sudah terlihat teratur.
“Alhamdulillah, Gusti Allah kasih kemampuan bisa berpuasa,” jawabnya.
Ia bercerita banyak masyarakat menganggap sebagai pekerja seks enggak mungkin berpuasa. Manusia yang dituduh berlimang dosa, mana mungkin lah puasa.
“Saya biarkan saja apa anggapan mereka. Padahal imanku dengan iman Bapak saja masih lebih kuat,” katanya tampak ragu dalam mengucapkannya.
Mungkin dia merasa khawatir ucpannya Aan menyinggungku. Setidaknya karena selama ini, meski saya memiliki hubungan pertemanan yang setara, tetapi bagaimana pun saya seorang pimpinan di lembaga ternama di Yogyakarta.
Untuk mengurangi kecanggunganya saya bertanya, “kenapa kamu begitu yakin?”
Sesaat ia memandang ke arahku, seperti sedang mencari sesuatu yang telah begitu lama hilang dari dirinya. Setelah membenarkan posisi duduknya, ia bilang, “sangat yakin, Pak,” ujarnya.
Ranti bercerita, dia sering dikutuk sebagai kerak neraka, Gusti Allah selalu murka seperti kata para tokoh agama itu. Namun, saya yakin benar, pandangan dan penilaian Gusti Allah sendiri, berbeda dengan makhluk-Nya, para manusia itu.
Ia yakin benar, selagi selalu dekat dengan Gusti Allah, mengingat-Nya, Allah pasti memahami apa yang ada dalam hati.
“Kalau Bapak wajar salat rajin, puasa penuh satu bulan, kan enggak pernah dikutuk seperti itu,” katanya.
Saya merasa terbentur-bentur batu karang yang tajam di dasar samudera. Bagaimana perempuan yang duduk tenang di hadapanku begitu teguh iman dan pendiriannya. Ia sangat meyakini kasih dan sayang Gusti Allah tidak akan memandang segala hal buruk yang disangkakan kepadanya.
Dalam hati saya mendoakan, Allah mendengar semua yang ia simpan dalam hatinya. Ia menjadi hamba pilihan-Nya untuk mendapatkan anugerah surga.
Tiga hari setelah itu, saya berdiri gemetar di antara padatnya orang-orang yang bertakziyah di rumahnya. Lalu ketika modin meminta kesaksian almarhumah sebagai orang baik, saya menjawab dengan sepenuh hati, “baik, baik, baik.” (*)
*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

