Mengemis SP3. Oleh : Pepih Nugraha *)

0

nataragung.id – Jakarta – Ada sebuah garis tipis yang memisahkan antara perjuangan dan keputusasaan. Garis itu bernama harga diri. Dalam riuh rendah isu ijazah Jokowi yang tak kunjung usai, saya melihat garis itu mulai memudar di wajah Roy Suryo.

Judul besarnya kini bukan lagi “Membongkar Kebenaran”, melainkan sebuah upaya getir: “Mengemis SP3” .

Secara filosofis, “mengemis” adalah pengakuan atas kekalahan sebelum vonis dijatuhkan. Ketika seseorang yang tadinya berdiri gagah di mimbar forensik, menguliti piksel demi piksel dengan nada pongah, tiba-tiba berbisik memohon agar perkara dihentikan (SP3), di situlah retorika itu mati. Ia tidak lagi mencari kebenaran, ia hanya sedang mencari selamat.

Baca Juga :  Menghargai Guru, Membentuk Masa Depan Bangsa. (Kado Kecil Hari Guru Nasional Tahun 2025) Oleh : Gunawan Handoko *)

Secara eksistensial, “mengemis” berarti menyerahkan kedaulatan diri kepada pihak yang sebelumnya ia tantang. Ini adalah ironi yang paling telanjang.

Secara sosiologis, fenomena “Mengemis SP3” ini adalah sinyal padamnya lampu di panggung sandiwara. Roy Suryo mulai ditinggalkan. Para pendukung fanatik yang dulu mengerumuninya seperti laron mendatangi cahaya, kini satu per satu terbang menjauh. Mereka mencium bau kekalahan.

Di sisi lain masyarakat memiliki radar alami terhadap sesuatu yang dipaksakan; jika sebuah isu terus digoreng tanpa bumbu fakta yang baru, orang akan mual dan pergi meninggalkan meja makan.

Di belakangnya, para purnawirawan jenderal yang dulu memberi “aura komando” pun mulai tampak canggung. Ada beban sosiologis yang berat ketika sosok-sosok yang terbiasa memimpin pertempuran besar, kini harus berdiri di samping seseorang yang sedang memohon belas kasihan administratif. Wibawa bintang di pundak terasa meredup saat dipaksa membela narasi yang jalan di tempat. Mereka terjebak dalam loyalitas yang salah alamat.

Baca Juga :  Pesantren dan Perjuangan Bangsa. Oleh : M. Habib Purnomo *)

Mengemis SP3 adalah sebuah pesan sosiologis bahwa energi publik ada batasnya. Rakyat sudah lelah dengan drama “fotokopi” di tengah ancaman krisis ekonomi yang nyata. Ketika dukungan massa menguap, yang tersisa hanyalah kepanikan individu.

Kini, panggung itu mulai sunyi. Roy Suryo memang masih berdiri di sana, mungkin masih memegang berkas hasil zoom-in fotonya, tapi matanya tak lagi menatap kamera dengan tajam. Matanya kini melirik ke arah pintu keluar, berharap aparat mengetukkan palu tanda “Selesai melalui SP3” .

Baca Juga :  Ketika Dunia Bicara, Mereka Tertampar. (Gibran Akan Terus Melangkah, Dengan Atau Tanpa Mereka). Oleh : Herry Tjahjono

Sungguh sebuah akhir yang melankolis. Berteriak seperti singa di awal cerita, namun berakhir dengan mengeong meminta pintu dibukakan di akhir laga.

Inilah duka dari sebuah ambisi yang telah kehilangan pijakan fakta. Samar tapi nyata. (*)

*) ✍️ Owner and Founder Pepnews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini