Whoosh dan AHY. Oleh : Pepih Nugraha *)

0

nataragung.id – Jakarta – Satu lagi definisi politik: seni menyembunyikan rasa malu sekaligus keki di depan publik. Begini, meski saya bukan cenayang, tapi sedikit bisa membayangkan betapa bingung dan kikuknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat menerima titah bin perintah atasannya, Presiden Prabowo Subianto. Apa perintahnya? Perintah yang tidak biasa dan di luar nurul publik: lanjutkan proyek Whoosh sampai Banyuwangi! Oalah…

Sebagai bawahan yang baik -dan paham makna perintah atasan- tidak ada kata “tidak” atau “ogah” sebagai jawaban. Di depan Prabowo, dengan sigap dan sikap sempurna AHY menjawab, “Siap, Komandan!” meski sesungguhnya hati kecil berkata sebaliknya.

Lho kenapa? Ngarang aja! Bentar… begini, Bro, coba buka lembaran berita lama tentang betapa nyinyirnya AHY mengenai segala hal yang baik mengenai hasil nyata pembangunan Presiden Jokowi, termasuk Whoosh.

Proyek kereta api cepat China yang sudah mewujud di negeri ini -dan kini menjadi kebanggaan sekaligus ikon baru Indonesia- oleh sementara orang (sebutlah para pembenci Jokowi) menjadi gorengan renyah untuk menihilkan usaha Jokowi. Whoosh disebutkan sebagai proyek gagal (malu dong kalau disebut “mangkrak” karena identik dengan proyek Hambalang), Whoosh hanyalah proyek yang hanya mempertinggi gunung utang Negara.

Baca Juga :  Fenomena Pragmatisme. Oleh : M.Habib Purnomo *)

Tapi itu tadi, Prabowo dengan tegas memerintah AHY untuk menggawangi proyek Whoosh sampai Banyuwangi. Ini artinya Prabowo sesungguhnya ingin menyumpal mulut-mulut nyinyir orang-orang yang mempersoalkan Whoosh. Apakah AHY berada di kelompok kaum nyinyier? Tentu tidak, meski itu tadi, hati kecil bisa saja bicara lain.

Tidak dapat dibantah, keinginan menjaga nama baik ayahandanya, Presiden SBY, membuat AHY berusaha menihilkan keberhasilan Jokowi. Padahal AHY bisa cemerlang dan berkibar seperti saat ini berkat tangan Jokowi yang terulur di akhir masa jabatannya: mengangkat AHY sebagai menteri ATR. Prabowo tentu melihat Jokowi, sebab AHY tanpa uluran tangan Jokowi mungkin jabatan resminya hanya sebagai ketua umum partai.

Secara politik, AHY memang tidak suka Jokowi dan selalu menyindir pembangunan era Jokowi. Ini sulit disangkal. Dikatakanlah, pembangunan di masa Jokowi itu hanya fisik, tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya seperti IKN atau Whoosh ini. Masih ingat ‘kan tiga tahun lalu AHY mengatakan 70-80% infrastruktur yang dibangun Jokowi adalah sejatinya pembangunan yang direncanakan era bapaknya, SBY. What!?

Baca Juga :  Tragedi Gas Melon dan Sebotol Minyak Goreng Gunawan Handoko *)

Ya memang bicara begitu kok. Tetapi ada semacam “contradictio in terminis”, seolah-olah AHY menjawab pernyataannya sendiri yang mengatakan pembangunan era Jokowi salah sasaran, tetapi AHY pulalah yang mengatakan 70-80% adalah perencanaan era SBY. Ah, peduli amir (jangan amat terus).

Prabowo sendiri dengan titahnya kepada AHY untuk melanjutkan Whoosh seolah-olah ingin mengatakan, “Udahlah, Bro, jangan nyinyir, ini proyek bagus kok!” Ya memang gila aja kalau seorang Presiden bertekad melanjutkan “proyek gagal” macam Whoosh. Dengan ini pula Prabowo ingin menyampaikan, tak ada yang salah dengan Whoosh yang diwujudkan semasa Jokowi ini, ape lo!?

Prabowo paham dengan adanya pihak-pihak yang ingin menceraikan ikatan kuat dirinya dengan Jokowi. Dia sudah membacanya. Di mata lawan-lawan politiknya yang masih bersembunyi -tapi cuma memajukan poin macam Roy, Rismon, Didu, Refly, Gerung dan semacamnya- cara untuk melemahkan Prabowo adalah dengan memisahkannya dengan Jokowi.

Baca Juga :  Rajawali Tak Berkicau. Oleh : Herry Tjahyono *)

Ketika menghantam Prabowo mereka tidak berani dan tak punya nyali, maka sasaran empuk memang Jokowi yang dianggap lemah, planga-plongo dan klemar-klemer. Tapi sungguh mereka salah sasaran, malah nimpuk cadas di tengah hutan. Gagal. Akhirnya teriak-teriak di hutan macam bodat mabuk kepayang.

Sadar Jokowi bagai cadas, sasaran dialihkan kepada mangsa yang lebih lemah dengan berbagai isu, si Gibran, anaknya. Tidak tanggung-tanggung, gerombolan purnawirawan pun dikerahkan untuk memakzulkan Gibran sekaligus mengadili Jokowi. Sayangnya Gibran ini anak singa, sementara yang mau menerkamnya baru sebatas kucing Garong, meoooong….

*) Penulis adalah : Founder Kompasiana.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini