Makan Bersama di Waktu Buka. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Buka bersama menjadi satu dari banyak hal yang enggak bisa ditinggalkan, bahkan nyaris mendekati wajib setiap bulan suci Ramadan. Institusi, kelompok pelajar dan mahasiswa, dan tak tertinggal reunian angkatan sekolah, lukisan pondok, dan kelompok terbang haji

Saya, Pakde Kliwon, Yuk Nah, dan Pakde No, juga memiliki niat yang sama mengundang teman-teman nongkrong di masa lalu untuk buka bersama. Semua teman diundang termasuk teman dari agama dan kepercayaan yang lain.

Undangan disiapkan, tidak main-main, Pakde Kliwon meminta anaknya yang lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) untuk membuatkan undangan berbasis web. Gambarnya herois, ketika Pakde Kliwon berorasi di atas panggung. Persis Mas Tio saya memplesetkan kepanjangan MBG menjadi Maling Bersama Gratis.

Celakanya, para undangan yang datang ternyata hanya teman lama yang beragama Islam. Sebagian kecil yang dulu menjadi aktivis masjid untuk mendapatkan kos-kosan gratis.

Baca Juga :  Cermin Retak: Hilangnya Sumber Pendapatan Anak. Oleh : Mukhotib MD *)

Pakde Kliwon melakukan rapat evaluasi mengenai sedikitnya undangan yang datang. “Salah undangan,” kata Yuk Nah.

“Eh, jangan main-main, itu undangan dirancang dengan begitu sulitnya,” ujar Pakde Kliwon dengan nada suara seperti orang yang tersinggung.

“Bukan rancangannya, tetapi undangannya buka bersama. Wajar dong yang enggak puasa ya enggak pada datang,” lanjut Yuk Nah, mencegah kesalahpahaman lebih lanjut.

Bagi Yuk Nah kesalahpahaman dengan Kliwon telah terjadi pada masa lalu. Karena sikapnya yang baik kepada Kliwon, sering mengajak makan bersama, dan tak jarang merangkul saat berjalan, eh, Pakde Kliwon mengira Yuk Nah senang padanya.

Baca Juga :  Ruang Belajar dan Kesehatan Mental: Perspektif Psikologi Pendidikan. Oleh: Resti Aulia // Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung

Saya membenarkan pandangan Yuk Nah. Perempuan yang memang sejak zaman kuliah di Yogyakarta dulu sudah terlihat kemoandaiannya. Kalau sudah diskusi merencanakan aksi demonstrasi menentang kebijakan negara, wah, enggak ada yang bisa menandinginya.

Usulan disepakati, melakukan Buka Bersama Jilid II. Pakde No tetap mengusulkan yang membuat desain anaknya Pakde Kliwon. Hanya bunyi undangan tidak lagi buka bersama. Namun, undangan makan bersama di waktu buka.

Hasilnya, semua teman lama datang. Bahkan mereka yang sudah jadi pejabat tinggi, seperti menteri atau kepala lembaga, di Komisi-komisi Inpenden, dan juga yang menjadi Ketua RT dan dai atau pendeta kondang, Biksu, dan tokoh lainnya.

Masing-masing orang boleh berorasi, tetapi hanya diizinkan bercerita masa lalu, bukan masa kini. Tentu ini untuk menghindari kecemburuan posisi saat sekarang. “Kan repot kalau pada pamer posisi apalagi pendapatan. Di forum ini hanya boleh tukar pendapat,” ujar Yuk Nah.

Baca Juga :  Ziarah Kubur Jelang Ramadan sebagai Persiapan Spiritual

Kalau buka bersama Jilid I makanan yang disediakan berlebih-lebihan, kini persediaan logistik kurang-kurang. Sebagian yang enggak kebagian jatah, terpaksa pesan sendiri melalui aplikasi belanja online.

Setelah puas bercerita, makan-makan, masing-masing yang ingin berdoa dipersilakan. Doa bebas apa saja, terutama untuk rakyat yang sedang merana, untuk aktivitas muda yang sedang berjuang di persidangan.

Dan untuk semua yang sedang tidak baik-baik saja. (*)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini