nataragung.id – Yogyakarta – Satu situasi yang hampir tak pernah absen dalam diri manusia: rindu. Ingin mengulangi peristiwa indah dalam kehidupan, pun leinginan untuk bisa bertemu dengan seseorang yang dicintai, dan kehendak untuk bertemu dengan Sang Peciptanya.
Selama bulan suci Ramadan, Pakde Kliwon mengarungi dengan sungguh-sungguh tiga rindu sekaligus. Sungguh ia ingin mengulangi segala peristiwa indah saat di Pesantren dulu. Lantunan ayat-ayat suci yang tak pernah sepi membalut pohon-pohon dan dinding asrama. Bahkan hingga embun pergi menyingkir memeluk malu kepada matahari.
Pesantren, di sana, Pakde Kliwon, setengah masa mudanya dihabiskan di Pesantren. Kasih sayang Kiai dan Nyai, seakan mengganti sementara kasih bapak dan ibu yang terus menenun doa tak lelah sepanjang detik waktu.
Teman-teman, yang dulu dengan fasih saling memanggil dengan sebutan ente, dan menyebut diri sendiri dengan ana. Panggilan yang saat ini telah begitu jauh pergi dari kebisingan nyanyian duniawi.
“Saya sungguh merindukannya,” kata Pakde Kliwon, nafanya seperti berkejaran berebut waktu untuk keluar dari dua lubang hidung yang sejujurnya sungguh jauh dari mancung. Hanya ketika itu, teman-temannya tak tega, sehingga tak pernah membicangkannya.
Saya lihat wajahnya begitu mendung dan mengelabu dalam siraman lampu berbalut tama-rama di warung Yuk Nah. Mengusir hewan pencinta cahaya itu, Yuk Nah mengurangi cahaya lampu di warungnya. Nyaris menjadi warung reman-remang dengan alunan musik kesukaannya: dangdut.
Saya bilang, semua orang yang pernah menjadi santri tentu selalu merindukan masa-masa indah itu. Kadang reunian, tak juga bisa membunuh rindu itu sampai ke akar-akarnya.
Pakde Kliwon menyalakan telepon genggamnya. Telunjuknya lincah menyentuh ikon yang ada di layar. Setelah beberapa waktu ia menunjuk layar itu ke Yuk Nah dan kepada saya.
Yuk Nah dan saya tentu saja langsung melahap gambar-gambar reproduksi masa lalu itu. Seragam biru putih, dengan celana panjang dan baju kurung. Kami bertiga tertawa, berbarengan dengan titik bening menyusuri pipi kami.
“Ah, wajah itu, wajah imut dan syahdu ada di sana,” kataku.
Senyum khas mengambang dan berenang di antara dua bibirnya. Ah, sungguh aku pun merindukannya. Mungkin juga asa wajah yang begitu rapih tersimpan dalam sisi gelap paling rahasia pada Pakde Kliwon dan juga Yuk Nah.
Sampai warung saatnya tutup beristirahat, kami tak lagi ada yang berbicara. Di radio suara penyiar terus deras merambati angin malam. Iwan Fals menyanyikan larik lagi Kemesraan.
Aduh … (*/25)
*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

