Ramadhan Mubarak (26) : Puasa dan Kesehatan Ruhani. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subḥanahu wata’ala yang telah mensyariatkan puasa sebagai jalan menuju ketakwaan.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, teladan terbaik dalam ibadah dan kesucian hati.

Jamaah yang dirahmati Allah…

Kita sering berbicara tentang manfaat puasa bagi kesehatan jasmani. Namun yang lebih utama adalah kesehatan ruhani.

Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah takwa. Takwa adalah kondisi hati yang hidup, peka terhadap dosa, dan selalu merasa diawasi Allah.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Ketika Keadaan Menjadi Cermin Ketulusan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Jamaah sekalian…

Hati juga bisa sakit. Penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit fisik. Di antaranya:
– Riya (ingin dipuji)
– Hasad (iri dengki)
– Ujub (bangga diri)
– Takabbur (sombong)

Puasa adalah terapi untuk penyakit-penyakit ini. Saat kita lapar dan haus, kita sadar bahwa kita lemah. Kesadaran ini menghancurkan kesombongan. Saat kita menahan diri dari membalas amarah, kita sedang membersihkan hati dari dendam.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Artinya, puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan lisan, menahan emosi, dan menahan hati dari keburukan.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Kata Baik yang Menghidupkan Jiwa. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Jamaah yang dimuliakan Allah…

Ramadhan adalah klinik ruhani. Di bulan ini kita:
– Memperbanyak istighfar
– Menghidupkan malam dengan qiyam
– Mendekatkan diri dengan Al-Qur’an
– Melatih sabar dan syukur

Semua itu membersihkan hati yang kotor dan menghidupkan ruh yang lemah.

Pertanyaannya, apakah hati kita lebih lembut dibanding awal Ramadhan Apakah kita lebih mudah menangis karena dosa?
Apakah kita lebih ringan dalam bersedekah? Jika iya, maka ruh kita sedang sehat.

Jamaah sekalian…

Mari manfaatkan sisa Ramadhan untuk benar-benar menyembuhkan hati. Karena ketika hati sehat, hidup pun akan tenang.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Perjalanan Panjang Menuju Ketenangan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

“Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Semoga Allah Subḥanahu wata’ala membersihkan hati kita, menyembuhkan penyakit batin kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa.

اللهم طهر قلوبنا من النفاق وأعمالنا من الرياء وألسنتنا من الكذب وأعيننا من الخيانة

Ya Allah, bersihkan hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya, lisan kami dari dusta, dan mata kami dari pengkhianatan.
Amin ya Rabbal ‘alamin. (KIS/203)
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini