MUTIARA PAGI : Kufur Nikmat, Awal Datangnya Bencana. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Nikmat adalah amanah. Ia bukan sekadar pemberian, tetapi ujian: apakah kita akan mensyukurinya atau justru mengingkarinya.

Sebuah negeri bisa saja dilimpahi keamanan, kemakmuran, dan ketenangan. Namun ketika nikmat itu tidak disyukuri, ketika manusia tenggelam dalam maksiat, kezaliman, dan kesombongan, maka nikmat bisa berubah menjadi petaka. Allah Ta’ala berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulu aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)

Baca Juga :  RAMADHAN MUBARAK (14) : Tarawih - Cahaya Malam Orang Beriman. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Perhatikanlah… Allah menggambarkan azab itu dengan istilah “libās” (pakaian). Seakan-akan rasa lapar dan takut itu menyelimuti mereka dari segala arah, sebagaimana pakaian menempel di tubuh. Tidak ada ruang aman. Tidak ada celah ketenangan. Semua terasa sempit dan mencekam.

Inilah sunnatullah dalam kehidupan umat dan bangsa. Kufur nikmat bukan hanya berarti tidak mengucap “alhamdulillah”, tetapi menggunakan nikmat untuk bermaksiat, menutup mata dari kebenaran, meremehkan keadilan, serta menzalimi sesama. Ketika itu terjadi, fitnah pun bermunculan: krisis ekonomi, konflik sosial, hilangnya rasa aman, dan merebaknya ketidakpercayaan.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Manusia dan Kejahatan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Sebaliknya, syukur adalah penjaga nikmat. Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.’” (QS. Ibrahim: 7)

Maka negeri yang ingin kokoh dan diberkahi hendaknya membangun dirinya di atas syukur: syukur dengan hati yang mengakui karunia Allah, syukur dengan lisan yang memuji-Nya, dan syukur dengan amal yang menegakkan keadilan serta ketaatan.

Baca Juga :  RAMADHAN MUBARAK (12) : Doa Orang yang Berpuasa Tidak Tertolak. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Karena ketika syukur ditegakkan, nikmat akan bertambah. Namun ketika kufur merajalela, jangan heran jika keamanan berubah menjadi ketakutan, kelapangan berubah menjadi kesempitan, dan kemakmuran berubah menjadi kelaparan.

Semoga Allah menjadikan kita dan negeri kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur, agar nikmat tetap terjaga dan keberkahan terus menyerta.(KIS/172).
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini