Cermin Retak: Geger Dunia Media. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Pakde Kliwon mengernyitkan dahi. Beberapa punggung jarinya nggosok kedua mata yang warna putihnya mulai kelabu. Telunjuknya menyentuh layar telepon genggamnya. Naik turun.

“Sibuk amat jarimu,” kataku penasaran dengan polah aktivis gaek itu.

Ia menengok ke arahku sebentar. Lalu sibuk kembali memelototi layar teleponnya. Setelah menyeruput kopi hitam tanpa gula, terdengar decak keheranan dari mulutnya.

“Ini lo berseliweran di berandaku, media pada menyatakan sikap,” kata Pakde Kliwon.

“Oh …,” sahutku setelah memahami sebab musabab keheranannya.

Baca Juga :  Epithumia dan Program Makan Bergizi Gratis

Rupanya Pakde Kliwon sedang tak mengerti tiba-tiba banyak media menolak disebut telah bergabung dengan Badan Komunikasi (Bakom) pemerintah di bawah kepemimpinan Qodari.

Sebagai mantan aktivis pers mahasiswa, Pakde Kliwon mengerti benar etika berkomunikasi, termasuk etika jurnalistik.

Kegerahan media yang merasa dirinya tak pernah diajak berkomunikasi, tetapi tetiba namanya masuk dalam daftar, tentu saja wajar-wajar saja. Dan bisa dimengerti manakala mereka menyatakan tak pernah bekerja sama, tak memiliki afiliasi, dan dengan begitu independen.

“Bagaimana kalau ternyata mereka diajak komunikasi, diajak terlibat? Apakah mereka mau?” tanyaku.

Baca Juga :  Jauhilah Narkoba Dalam Perspektif Psikologi. Oleh : Maulana Komarudin *)

Menurut Pakde Kliwon, menolak atau menerima itu persoalan lain. Faktanya saat ini, nama mereka dicatut seakan sudah menjadi bagian dari Bakom.

Pakde Kliwon juga bilang, Bakom ini bisa jadi sebagai bagian dari agenda pemerintah melakukan kooptasi dan kontrol terhadap media. Setidaknya, agar berita-berita mengenai pemerintah selaku positif. Narasinya menyatakan Indonesia baik-baik saja

“Kalau benar seperti ini, media mestinya menolak bergabung,” kataku.

“Media dengan visi dan misi yang jelas mungkin tak hendak bergabung. Namun, media yang hanya berorientasi pada uang bisa saja antri berbaris,” ujar Pakde Kliwon dengan suara satir.

Baca Juga :  CERMIN RETAK : Dari Sok-sokan, Tidak Realistis, dan Desakan Mundur. Oleh : Mukhotib MD *)

” Eh, maaf saya pamit dulu,” ujarku tanpa menunggu jawaban Pakde Kliwon.

” Wah, jangan-jangan dia mau bikin media. Sontoloyo!” teriak Pakde Kliwon. (*/37)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini