nataragung.id – Yogyakarta – Saya dan tiga teman setiaku terdiam membisu saat sahur di warung Yuk Nah. Warung berdinding bambu itu tampak muram dalam dekapan tetes embun, dan angin malam. Sejak sore memang hujan, dan membuat warga enggan keluar.
Melalui pesan di grup WA desa Bluwangan, Yuk Nah mengumumkan warung tutup sebagai rasa duka mendalam atas wafatnya Presiden Iran Ali Khamenei setelah nendapatkan serangan dari Israel dan Amerika Serikat.
“Memang enggak niatan untuk memerdekakan Palestina. Iran diserang karena dukungannya terhadap Palestina tidak terbantahkan,” Yuk Nah sambil meneteskan air mata tiada hentinya.
Pakde Kliwon yang duduk di sebelahnya menjulurkan kemasan tisu baru. Puluhan lembaran basah air mata menumpuk di depan Yuk Nah.
“Bagaimana bisa Indonesia duduk bersama dengan Amerika dan Israel di Board of Peace (BoP) besutan Trump,” tanyaku dengan nada sedikit ketus.
Penguasa negeri ini, kata Yuk Nah, telah mencederai semangat pembelaaan habis-habisan yang dirintis para pendiri bangsa ini. Alasan apapun yang dinarasikan bergabungnya Indonesia dengan BoP sebagai upaya damai dan memberikan kemerdekaan kepada Palestina hanya omong kosong belaka.
“Saya tak mengerti apa yang saat ini ada di kepala bangsa ini, terutama kalangan akademisi dan aktivis sosial ketika semua elemen penguasa tak ada lagi yang mempersoalkan keputusan Presiden,” kata Pakde No.
Saya dan teman yang lain tahu, kalau Pakde No sudah mau angkat bicara, biasanya menjadi penanda persoalan itu sangat serius. Ia mengatakan sikap mbudek dan mbuta terhadap keputusan yang melawan keadilan dan akal sehat sangat tidak bisa dibenarkan.
Menurut Pakde No, Prabowo itu manusia biasa, memiliki keterbatasan dalam melihat berbagai persoalan nasional apalagi global.
“Kalau kalian yang ada di kekuasaan membiarkan meski keputusan tidak rasional, itu berarti sedang membiarkan proses pembusukan,” ujarnya.
Saya menikmati benar gagasan Pakde No yang disampaikan dengan kritis. Saya tahu, ungkapan Pakde No bukan berdasarkan kebencian tetapi cintanya terhadap negeri khatulistiwa ini. Tempatnya ia dibesarkan, dan beranak pinak.
Benarlah yang disebutkan Pakde No. Ada sebuah keputusan dalam politik yang disebut politik pembiaran. Praktiknya, apapun yang dilakukan penguasa dibiarkan saja, atau bahkan sebagian kelompong menjerumuskannya.
Prabowo sebagai penguasa tertinggi bisa jadi tak merasakan adanya pembiaran dan penjerumusan dirinya. Karena dukungan terus mengalir ia menganggap kebijakannya benar. Padahal para pemburu keuntungan politik sedang membiarkan ia terus masuk semakin dalam, yang penting keuntingan dari posisi politik terus baik, dan mengalirkan dana ke dalam kocek pribadi dan kelompoknya.
“Apakah Prabowo tak sadar tindakannya dengan berbagai kebijakan yang merugikan rakyat, mengorbankan sikap politik luar negeri yang bebas aktif itu akan merugikannya saat hendak maju di 2029?” ujar Yuk Nah.
“Keblinger akan menuju pada kehancuran,’ ujar Yuk Nah.
Lalu, ketika pengeras suara di masjid desa mengumumkan waktu imsak, Yuk Nah mengambil gelas berisi air putih, dan meminumnya dengan perlahan. Masih ada air mata yang mengalir perlahan, dan sebagiannya jatuh ke dalam gelas itu.
Ketika Pakde Kliwon hendak mengambil gelas itu, Pakde No menghalanginya, dan mengatakan, “enggak ada berkahnya.” (*)
*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

