Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Hidangan Berbuka sebagai Simbol Kebersamaan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Buku ini menghadirkan Ramadhan sebagai peristiwa ruhani yang hidup dalam denyut adat masyarakat Lampung. Ia bukan sekadar bulan suci dalam kalender Islam, melainkan ruang perjumpaan antara syariat, adat, sejarah marga, dan nilai kebersamaan yang diwariskan turun-temurun.
Melalui kisah fiksi rakyat yang berakar pada legenda dan dokumen adat, buku ini mengajak pembaca menelusuri makna berbuka puasa sebagai simbol persatuan dalam jejak hidup orang Lampung.

Konon, pada suatu senja di pesisir Sekala Brak, seorang tetua marga Saibatin bernama Minak Ratu Jaya berdiri memandang laut yang memerah oleh cahaya matahari. Angin membawa harum masakan dari dapur-dapur kayu. Ramadhan telah tiba.
Di halaman balai adat, perempuan-perempuan mengenakan tapis bersulam benang emas. Laki-laki memakai kopiah dan kain sarung dengan ikat kepala khas Lampung. Tidak ada rumah adat yang ditonjolkan, hanya hamparan alam: gunung yang tegak seperti saksi zaman dan pantai yang memantulkan cahaya senja.

Minak Ratu Jaya memanggil cucunya, Siger Purnama. “Anakku,” katanya pelan, “ingatlah pesan leluhur: adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.”
Siger Purnama mengangguk. Ia tahu bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang menjaga marwah marga dan kehormatan bersama.

Di tengah halaman, hamparan hidangan berbuka disiapkan: seruit ikan bakar, tempoyak, gulai taboh, dan kolak pisang. Semua duduk melingkar tanpa memandang derajat. Pepadun dan Saibatin, tua dan muda, berkumpul dalam satu hamparan.
Ketika azan magrib berkumandang dari surau kecil di tepi pantai, Minak Ratu Jaya berdoa dengan suara bergetar: “Ya Allah, jadikanlah kebersamaan ini sebagai jalan kami menjaga adat dan iman.”
Mereka berbuka bersama. Tidak ada yang makan sebelum semua siap. Tidak ada yang mengambil bagian berlebih. Dalam keheningan itu, kebersamaan terasa lebih kuat daripada kata-kata.
Cerita ini hidup dari generasi ke generasi, menjadi simbol bahwa Ramadhan di Lampung selalu bertaut dengan adat dan kehormatan marga.

Baca Juga :  Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri - 1 – Mengenal Tata Krama Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Masyarakat adat Lampung terbagi dalam dua kelompok besar: Saibatin dan Pepadun. Keduanya memiliki sistem adat, struktur kepemimpinan, serta silsilah marga yang berbeda, namun dipersatukan oleh nilai piil pesenggiri.
Dalam manuskrip kuno yang sering disebut Kuntara Raja Niti, terdapat nasihat adat: “Sapa nyang ngagai piil, maka tegaklah ia dalam marga; sapa nyang lupai piil, maka hilanglah ia dalam pergaulan.”

Secara harfiah, piil berarti harga diri atau kehormatan. Namun secara filosofis, piil pesenggiri bukan sekadar gengsi, melainkan etika hidup. Ia mengatur bagaimana seseorang bersikap dalam keluarga, masyarakat, dan terutama dalam momen sakral seperti Ramadhan.
Legenda menyebut bahwa nenek moyang Lampung berasal dari Sekala Brak, wilayah tua di Lampung Barat. Dalam kisah turun-temurun, empat paksi besar, Paksi Buay Pernong, Paksi Buay Belunguh, Paksi Buay Nyerupa, dan Paksi Buay Bejalan Diway, menjadi akar silsilah marga.
Setiap marga memiliki tambo atau catatan asal-usul. Beberapa di antaranya tersimpan dalam bentuk tulisan Arab-Melayu pada kulit kayu atau kertas daluang. Dalam salah satu arsip lisan disebutkan: “Asal mula kami dari puncak gunung, turun mengikuti alur air, membangun negeri, memegang adat.”
Makna simboliknya jelas: gunung melambangkan keteguhan iman, air melambangkan keluwesan hidup.

Dalam Ramadhan, kedua simbol itu bersatu, keteguhan dalam menahan diri dan keluwesan dalam menjalin silaturahmi.
Ramadhan dalam masyarakat Lampung tidak pernah berdiri sendiri. Ia masuk dalam kerangka adat melalui prinsip: “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.”
Ungkapan ini mencerminkan integrasi Islam dalam struktur adat. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

Yaa ayyuhal laziina aamanuu kutiba ‘alaikumus Siyaamu kamaa kutiba ‘alal laziina min qablikum la’allakum tattaquun
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa adalah takwa. Dalam konteks Lampung, takwa diterjemahkan melalui praktik sosial: berbagi, menahan amarah, menjaga kehormatan keluarga, dan memperkuat marga.
Analisis filosofisnya menunjukkan bahwa puasa bukan hanya ibadah individual. Ia adalah latihan kolektif. Ketika satu kampung berpuasa bersama, ritme hidup berubah serempak. Dari sini lahir solidaritas sosial.
Begawi adalah upacara adat besar yang biasanya berkaitan dengan pernikahan atau pemberian gelar. Cangget adalah tari pergaulan adat yang melibatkan muda-mudi.

Baca Juga :  Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri - 6 – Etika Berpakaian dan Penampilan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Pada bulan Ramadhan, begawi tidak dilaksanakan secara meriah seperti bulan lain. Namun semangatnya tetap hadir dalam bentuk sederhana: musyawarah keluarga, doa bersama, dan buka puasa bersama.
Secara filosofis, begawi adalah simbol legitimasi sosial. Ia menandakan pengakuan masyarakat terhadap peran seseorang. Dalam Ramadhan, legitimasi itu tidak dicapai melalui pesta besar, melainkan melalui pengendalian diri.
Cangget, yang biasanya riang, dalam suasana Ramadhan menjadi lebih sakral. Gerakannya melambangkan harmoni antara manusia dan alam. Ketika muda-mudi berkumpul setelah tarawih, mereka tidak sekadar bersuka cita, tetapi juga menjaga adab.
Dalam hadis Nabi disebutkan: “Man lam yada‘ qaul az-zūr wal ‘amala bihi falaysa lillāhi hājatun fī an yada‘a tha‘āmahu wa syarābahu.” (Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.)

Hadis ini memperkuat filosofi adat bahwa pengendalian diri adalah inti dari puasa. Dalam konteks Lampung, ia selaras dengan piil pesenggiri.
Hidangan berbuka di Lampung bukan sekadar makanan. Seruit, misalnya, adalah ikan bakar yang disantap bersama sambal tempoyak. Cara makannya pun kolektif.
Filosofinya sederhana tetapi dalam: satu wadah untuk banyak tangan. Ini melambangkan persamaan derajat. Tidak ada kursi istimewa. Bahkan pemimpin adat duduk sejajar.
Kolak pisang dan minuman manis melambangkan kelembutan setelah sehari menahan diri. Dalam tradisi lisan disebutkan: “Makanlah secukupnya, berbicaralah seperlunya, dan tertawalah sewajarnya.”
Nilai ini menegaskan keseimbangan.

Dalam Ramadhan, keseimbangan antara lapar dan kenyang, antara ibadah dan sosial, menjadi inti kehidupan.
Secara antropologis, makan bersama memperkuat kohesi sosial. Ia mengurangi jarak sosial antar-marga. Dalam konteks sejarah Lampung yang pernah mengalami pergeseran kepemimpinan adat, momen berbuka menjadi ruang rekonsiliasi.
Tiga nilai utama yang menonjol dalam Ramadhan adat Lampung adalah:
1. Piil Pesenggiri. Harga diri yang dijaga melalui akhlak. Puasa melatih pengendalian diri agar tidak mencederai kehormatan.
2. Nemui Nyimah. Keramahan dalam menerima tamu. Dalam Ramadhan, rumah-rumah terbuka untuk siapa saja yang ingin berbuka.
3. Sakai Sambayan. Gotong royong. Persiapan berbuka dan pembagian takjil dilakukan bersama.
Ketiga nilai ini membentuk struktur sosial yang kokoh. Ramadhan memperbarui komitmen terhadap nilai tersebut setiap tahun.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 8: Adat di Era Modern , Menjaga Nilai di Tengah Perubahan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Ramadhan dalam adat Lampung bukan sekadar tradisi, melainkan jembatan antara masa lalu dan masa kini. Ia menghubungkan legenda Sekala Brak, silsilah marga, prinsip piil pesenggiri, dan ajaran Islam dalam satu rangkaian makna.
Hidangan berbuka menjadi simbol paling nyata dari kebersamaan itu. Dalam satu suapan, tersimpan sejarah; dalam satu gelas air, terpantul nilai adat; dalam satu senyum, terjaga kehormatan marga.
Sebagaimana pesan Minak Ratu Jaya kepada cucunya: “Jagalah adatmu seperti engkau menjaga puasamu. Karena keduanya adalah jalan pulang kepada kehormatan dan kepada Tuhan.”
Ramadhan akan berlalu, tetapi jejak hidup dan adat Lampung akan terus menyala dalam kebersamaan.

Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Adat Istiadat Lampung. Bandung: Alumni, 1989.
2. Iskandar, Syamsudin. Sekala Brak: Sejarah dan Kebudayaan Lampung Barat. Bandar Lampung: Dinas Kebudayaan Lampung, 2005.
3. Pemerintah Provinsi Lampung. Kuntara Raja Niti (Transliterasi dan Kajian). Bandar Lampung: Arsip Daerah Lampung, 1994.
4. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
5. Al-Qur’an al-Karim.
6. Az-Zuhaili, Wahbah. Tafsir al-Munir. Damaskus: Dar al-Fikr, 1991.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini