nataragung.id – Bandar Lampung – Masyarakat Pubian adalah salah satu subkelompok utama dalam komunitas adat Lampung Pepadun, yang secara genealogis dan spiritual diyakini berasal dari Keratuan Pugung di daerah Sekala Brak, wilayah hulu yang menjadi pusat awal peradaban adat Lampung.
Berdasarkan Kitab Kuntara Raja Niti, masyarakat Lampung berasal dari keturunan lima orang anak Umpu Serunting, salah satunya adalah Pa’lang, yang diyakini sebagai leluhur masyarakat Pubian.
Nama Pubian sendiri berasal dari kata “Puyang” atau “Pu’un” yang dalam bahasa Lampung berarti “asal”, “akar”, atau “leluhur”, yang mempertegas identitasnya sebagai salah satu komunitas adat yang menjaga silsilah dan nilai-nilai tradisi.
Konsep ini ditegaskan melalui adat-istiadat yang masih dijalankan, seperti sistem gelar, nilai-nilai sosial spiritual seperti Pi’il Pesenggiri, serta penghormatan terhadap Dalom atau penyimbang marga sebagai representasi adat tertinggi. Dalam perjalanannya, masyarakat Pubian berpindah dari wilayah hulu ke dataran rendah sebagai bagian dari perluasan wilayah adat dan pemukiman.
Secara genealogi, Pubian memiliki hubungan darah dan adat dengan kelompok Abung Siwo Mego, Mego Pak Tulang Bawang, serta Sungkai Bunga Mayang. Keempat kelompok ini bersama-sama membentuk struktur besar komunitas Pepadun.
Kesamaan ini tampak pada struktur adat, penggunaan sistem gelar berdasarkan cakak pepadun, dan ritual penting seperti naik pepadun atau adok. Namun, Pubian memiliki keunikan tersendiri karena posisi geografisnya yang relatif berada di tengah wilayah Lampung, sehingga menjadi simpul pertemuan antar marga dan pusat pertumbuhan kampung-kampung adat.
Dalam Kuntara Raja Niti, disebutkan bahwa masyarakat Pubian berasal dari keturunan Pa’lang dan memiliki garis lurus dengan Belenguh (pesisir/Saibatin) dan Indra Gajah (Abung). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara struktur sosial mereka lebih egaliter (Pepadun), secara asal-usul mereka sejajar dengan aristokrasi adat Lampung yang lebih tua.
Masyarakat Pubian awalnya berdiam di wilayah Kota Agung dan Sekala Brak, kemudian melakukan migrasi ke arah Padang Ratu, Seputih Barat, dan Way Tenong, serta menyebar ke wilayah yang kini menjadi bagian dari Lampung Tengah, Lampung Utara, Way Kanan, bahkan sebagian Lampung Timur.
Dalam proses migrasi ini, muncul pembentukan kampung-kampung awal yang kemudian berkembang menjadi tiyuh atau marga. Kampung-kampung tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga pusat adat yang memiliki balai adat, dalom, dan rumah agung yang menjadi simbol kekuatan sosial.
Di sinilah kemudian muncul pembagian marga dan submarga, serta struktur sosial yang berkembang dari sistem kekeluargaan. Masyarakat Pubian dikenal kuat dalam membangun komunitas melalui asas sakai sambayan dan nemui nyimah, sehingga mudah menjalin hubungan dengan marga lain dalam wilayah Pepadun.
Dalam catatan sejarah lisan dan beberapa sumber seperti Ringkasan Masyarakat Adat Lampung Pepadun (2025) dan Pubian Telu Suku di Lampung Tengah, disebutkan bahwa Pubian Telu Suku terbentuk sebagai hasil dari pengelompokan tiga suku utama:
* Manyarakat (Minak Patih Tuha)
* Tambapupus (Minak Demang Lanca)
* Bukuk Jadi (Minak Handak Hulu)
Ketiga suku ini menjadi poros utama penyebaran dan kekuatan sosial masyarakat Pubian hingga berkembangnya Pubian 2 Suku, 3 Suku, dan Pubian Bukuk Jadi di kemudian hari.
Masyarakat Pubian merupakan bagian integral dari komunitas adat Lampung Pepadun yang memiliki akar historis di Keratuan Pugung dan Sekala Brak. Hubungan genealogisnya dengan kelompok Pepadun lain menunjukkan posisi strategis Pubian sebagai simpul adat dan budaya.
Proses migrasi yang panjang dan dinamis membawa masyarakat Pubian menyebar ke berbagai wilayah, membentuk kampung-kampung adat yang berfungsi sebagai pusat sosial dan spiritual. Dari sinilah berkembang struktur marga dan suku yang kemudian membentuk pembagian Pubian sebagaimana dikenal saat ini.Pemahaman terhadap asal-usul ini menjadi dasar penting dalam memahami perbedaan internal dalam kelompok Pubian, serta kekuatan budaya yang masih dijaga hingga kini. (*)
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

