nataragung.id – Yogyakarta – Serangan koaliasi Amerika-Israel ke Iran, menguatkan tuntutan publik agar Indonesia mencabut keanggotaannya dari Board of Peace (BoP).
Menurut Kliwon, tuntutan mundur itu sangat bisa dimengerti. Pasalnya Amerika, melalui Trump sebagai penggagas BoP, dengan tujuan menciptakan situasi damai, nama organisasi juga begitu, tak layak lagi diikuti.
“Sebagai pemimpin lembaga perdamaian tetapi malah bikin gaduh internasional,” kata Pakde Kliwon berargumentasi.
Padahal saya yakin benar enggak ada yang meragukan ketepatan gagasannya. Namun, saya yakin juga, meskipun desakan muncul untuk mundur, tentu tidak semudah balik kanan seperti Anggota Pramuka mengikuti aba-aba Ketua Regu.
“Lah, itu sudah ramai di media berita dan juga media sosial. Katanya enggak bisa gegabah mundur dari BoP,” kata Pakde No.
Suara pelaku reformasi tahun 1998 itu, timbul tenggelam di antara pikuk warga desa Bluwangan yang sedang belanja di pasar tiban. Di desa Bluwangan, warga memang memiliki tradisi pasar tiban setiap tanggal 16 Ramadan.
Ramainya bukan kepalang. Pedagang dan pembeli tumplek blek. Berebut jajanan dengan harga sedikit miring ketimbang di pasar biasanya.
“Bagaimana?” tanya Kliwon yang enggak bisa menangkap sepenuhnya omongan Pakde No.
“Biarkan lah berlalu yang sudah berlalu,” kata Pakde No sambil melirik ke arah Yuk Nah yang sedang sibuk melayani pelanggan.
Kliwon sangat mengerti sindiran Pakde No. Tentu itu soal cerita masa lalu, cerita saat mereka berempat muda. Ada jiwa yang kandas seperti kapal perang yang di sambit peluru dari kapal selam.
Saya merasa situasi dua gaek itu akan meruncing. Dan lebih mengkhawatirkan kalau sampai berantem kan bisa batal tuh puasa mereka. Enggak bisa daldiri (mengendalikan diri). Saya mencoba menengahi dengan mengembalikan obrolan mengenai tuntutan mundur dari BoP.
“Ketua NU saja mengatakan bergabungnya ke BoP tepat karena bisa berperan untuk perdamaian,” kataku berharap visNe srok kemabli diskusi produktif, ketimbang hanya obrolan masa lalu dan penuh luka.
“Kita lanjutkan besok sore saja. Azan sudah berkumandang,” kata Kliwon dengan nada suara sedikit sinis.
Azan dari Masjid desa memang sudah berkumandang. Yuk Nah menyiapkan pesanan kami bertiga dengan cekatan dan tepat sasaran. Enggak seperti soal bantuan yang selalu meleset atau memang dipelesetkan.
“Kalau memang ragu-ragu, mundur atau tidak, mestinya bisa itung kancing saja. Kalau mau berbaik spiritual yang minta tokoh agama untuk salat istikharah,” kata Pakde No seperti menggumam.
Dan kata-kata Pakde No tidak lebih menarik ketimbang kolak kolang-kaling yang aromanya menari-nari disapu angin senja. (*)
*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

