Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Dapur Tradisional dan Aroma Ramadhan Tempo Dulu. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Orang-orang tua di wilayah pesisir Lampung Selatan kerap memulai cerita mereka dengan kalimat yang sama: bahwa setiap adat memiliki jejak yang lebih tua dari rumah yang mereka tempati. Di sebuah kampung tua yang menghadap aliran Way Semangka, diceritakan kisah tentang seorang perempuan tua bernama Niyai Lungsir yang menjadi penjaga dapur adat pada masa lalu.
Konon, setiap menjelang bulan Ramadhan, dapur rumah panggungnya tidak pernah sepi. Asap kayu bakar mengepul dari tungku tanah liat, dan aroma santan yang dimasak perlahan menyatu dengan wangi daun pandan. Orang-orang kampung percaya bahwa dapur Niyai Lungsir bukan sekadar tempat memasak, melainkan ruang tempat adat diwariskan.

Suatu malam menjelang Ramadhan, seorang anak muda bernama Sang Batin Jaya datang kepadanya. “Mak, mengapa setiap tahun kita memasak makanan yang sama sebelum puasa?” tanya pemuda itu. Niyai Lungsir tersenyum. Ia menaburkan sedikit beras ke dalam periuk lalu berkata pelan: “Anakku, makanan itu bukan sekadar makanan. Ia adalah ingatan. Ingatan tentang siapa kita.”
Cerita itu kemudian diwariskan turun-temurun sebagai kisah yang menjelaskan bagaimana masyarakat adat Lampung memandang Ramadhan: bukan hanya sebagai kewajiban agama, tetapi juga sebagai ruang spiritual tempat adat dan iman bertemu.

Kisah Niyai Lungsir hanyalah satu dari banyak cerita rakyat yang berkembang di wilayah Lampung. Cerita-cerita seperti ini sering menjadi pengantar untuk memahami adat, karena masyarakat Lampung sejak dahulu lebih banyak menurunkan pengetahuan melalui tutur lisan dibandingkan tulisan. Dalam tradisi lisan tersebut, dapur dan bulan Ramadhan memiliki kedudukan simbolik yang sangat kuat.
Untuk memahami hubungan antara Ramadhan dan dapur tradisional, seseorang harus terlebih dahulu memahami struktur adat masyarakat Lampung.

Masyarakat adat Lampung mengenal sistem marga, yakni kesatuan genealogis yang memiliki wilayah, pemimpin adat, serta aturan sosial yang mengikat anggotanya.
Dalam naskah kuno yang sering disebut oleh para peneliti sebagai Kuntara Raja Niti, terdapat kalimat yang sering dikutip dalam kajian adat Lampung: “Adat Lampung sai tumbuh dari asal muasal marga, sai dijunjung dengan piil pesenggiri.”
Secara bebas kalimat ini dapat dimaknai bahwa adat Lampung tumbuh dari kesatuan marga dan dijaga dengan nilai piil pesenggiri, yakni harga diri dan kehormatan.
Dalam manuskrip yang tersimpan dalam koleksi keluarga adat di wilayah Krui, terdapat silsilah yang menyebutkan bahwa beberapa marga Lampung pesisir berasal dari keturunan tokoh legendaris bernama Umpu Bejalan Diway. Tokoh ini dipercaya hidup pada masa awal penyebaran Islam di pesisir barat Sumatra.

Baca Juga :  Simbol, Makna, dan Asal-Usul Sejarah Keberadaan Siger Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Menurut cerita yang berkembang, Umpu Bejalan Diway adalah seorang pemimpin adat yang menerima kedatangan para ulama dari Aceh dan Banten. Ia kemudian memerintahkan agar adat tidak ditinggalkan, tetapi dipadukan dengan ajaran agama. Dalam sebuah petikan teks tua yang ditulis menggunakan aksara Lampung disebutkan: “Adat tetap adat, syarak tetap syarak; keduanya bagai dua sisi perahu yang membawa manusia menuju selamat.”
Makna filosofis dari kutipan tersebut sangat dalam. Ia menunjukkan bahwa masyarakat Lampung tidak melihat adat sebagai sesuatu yang bertentangan dengan agama. Sebaliknya, adat menjadi sarana untuk meneguhkan nilai-nilai spiritual. Ramadhan kemudian menjadi momen ketika kedua unsur tersebut, adat dan syariat, bertemu secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Di rumah adat Lampung, dapur bukan ruang yang tersembunyi. Ia justru menjadi bagian penting dari rumah panggung. Dapur sering berada di bagian belakang rumah, tetapi aktivitasnya menjalar ke seluruh ruang. Anak-anak bermain di dekat tungku, perempuan menumbuk padi, sementara para tetua duduk sambil bercerita. Dalam konteks Ramadhan tempo dulu, dapur menjadi pusat persiapan spiritual masyarakat.
Beberapa hari sebelum bulan puasa, keluarga besar akan berkumpul untuk menyiapkan berbagai bahan makanan tradisional seperti: seruit, tempoyak, lapis legit Lampung, bubur sekura.
Setiap makanan memiliki makna simbolik. Seruit misalnya, merupakan hidangan ikan bakar yang dicampur sambal terasi dan tempoyak. Hidangan ini biasanya dimakan bersama-sama.
Dalam pandangan adat, makan seruit melambangkan nilai sakai sambayan, yaitu semangat gotong royong dan kebersamaan. Nilai ini sangat penting menjelang Ramadhan karena puasa bukan hanya latihan menahan lapar, tetapi juga latihan memperkuat solidaritas sosial.

Seorang tetua adat dari wilayah Lampung Barat pernah berkata dalam sebuah wawancara budaya: “Kalau makan seruit sendirian, rasanya tidak lengkap. Seruit itu makanan persaudaraan.” Ungkapan tersebut menggambarkan bagaimana makanan menjadi simbol nilai sosial.
Salah satu tradisi lama masyarakat Lampung adalah beghakak, yakni kegiatan membersihkan rumah dan lingkungan sebelum Ramadhan. Tradisi ini memiliki akar spiritual yang kuat. Dalam sebuah naskah agama yang sering dibaca di surau-surau tua disebutkan sebuah hadis Nabi: “Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan.” Kutipan hadis ini sering digunakan oleh para ulama lokal untuk menjelaskan pentingnya kebersihan sebelum Ramadhan.
Namun masyarakat Lampung menafsirkan kebersihan tidak hanya secara fisik. Membersihkan rumah dianggap sebagai simbol membersihkan hati.

Di beberapa kampung tua, tradisi ini disertai dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama. Mereka membaca ayat Al-Qur’an dari Surah Al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Analisis terhadap ayat ini sering disampaikan oleh para ulama kampung dalam bahasa sederhana. Menurut mereka, tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi mencapai takwa, yaitu kesadaran spiritual yang mendalam. Dalam adat Lampung, kesadaran ini diwujudkan melalui perilaku sosial: saling menghormati, menjaga ucapan, dan mempererat hubungan keluarga.
Ketika Ramadhan tiba, suasana kampung Lampung berubah secara perlahan. Menjelang sore hari, dapur-dapur kembali hidup. Asap kayu bakar mengepul dari rumah-rumah panggung. Bau santan yang dimasak bersama gula merah memenuhi udara. Para perempuan biasanya menyiapkan makanan berbuka seperti: kue sekubal, bubur kanji rumbi, pisang goreng kelapa. Anak-anak duduk menunggu di dekat dapur sambil mendengar cerita dari orang tua.
Di sinilah cerita rakyat kembali memainkan peran. Para tetua sering menceritakan kisah tokoh-tokoh adat yang dikenal karena kesalehan mereka selama Ramadhan.

Baca Juga :  Buku Seri : Siger, Mahkota Emas yang Menyala dalam Setiap Upacara. Seri - 5: Sakai Sambayan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Salah satu kisah yang terkenal adalah cerita tentang Sang Batin Laksana, seorang pemimpin marga yang dikenal sangat dermawan. Konon, setiap malam Ramadhan ia berjalan diam-diam ke rumah orang miskin untuk meninggalkan makanan di depan pintu mereka. Ketika suatu hari seorang pemuda bertanya mengapa ia melakukan itu, Sang Batin Laksana menjawab: “Ramadhan bukan tentang siapa yang paling banyak makan ketika berbuka. Ramadhan adalah tentang siapa yang paling sedikit membuat orang lain merasa lapar.”
Kalimat tersebut kemudian sering dikutip dalam ceramah adat sebagai contoh nilai nemui nyimah, yakni sikap ramah dan suka memberi kepada tamu maupun sesama.

Salah satu konsep paling penting dalam adat Lampung adalah piil pesenggiri. Istilah ini sering diterjemahkan sebagai harga diri atau kehormatan, tetapi maknanya jauh lebih luas.
Piil pesenggiri mencakup beberapa nilai utama: Juluk adek (identitas kehormatan), Nemui nyimah (keramahan), Nengah nyappur (kemampuan bergaul) dan Sakai sambayan (gotong royong)
Dalam konteks Ramadhan, nilai-nilai ini diwujudkan melalui berbagai aktivitas sosial. Misalnya ketika keluarga membuka rumah mereka untuk acara berbuka bersama. Tamu yang datang tidak pernah ditanya asal-usulnya. Selama ia datang dengan niat baik, ia diperlakukan sebagai saudara. Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam tentang persaudaraan.
Dalam sebuah hadis disebutkan: “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.”
Para tetua adat sering menafsirkan hadis ini sebagai dasar spiritual dari tradisi gotong royong dalam masyarakat Lampung. Dengan kata lain, adat bukan sekadar tradisi sosial, melainkan refleksi nilai-nilai agama yang diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Buku Seri : Tradisi Ngejalang, Ziarah ke Makam Leluhur. Seri - 6. Ngejalang di Era Modern, Adaptasi dan Tantangan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Bagi masyarakat adat Lampung, Ramadhan juga berfungsi sebagai ruang untuk mengingat masa lalu. Ketika keluarga berkumpul di dapur atau di ruang tengah rumah panggung, cerita tentang leluhur kembali diceritakan. Kisah tentang perjalanan marga, tentang perpindahan dari pesisir ke pedalaman, atau tentang pertemuan pertama dengan para ulama yang membawa ajaran Islam. Cerita-cerita ini membentuk memori kolektif yang menjaga identitas masyarakat.
Seorang peneliti budaya pernah menulis bahwa: “Di Lampung, dapur adalah arsip hidup. Ia menyimpan sejarah bukan dalam bentuk tulisan, tetapi dalam aroma, rasa, dan cerita.”
Kalimat ini menggambarkan bahwa sejarah tidak selalu hidup di perpustakaan. Ia juga hidup di dalam tradisi sehari-hari.
Ramadhan dalam kehidupan masyarakat adat Lampung bukan hanya peristiwa keagamaan. Ia adalah ruang pertemuan antara adat, sejarah, dan spiritualitas. Dapur tradisional menjadi simbol penting dalam pertemuan tersebut. Di sanalah makanan dimasak, cerita diceritakan, dan nilai-nilai diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Melalui cerita rakyat seperti kisah Niyai Lungsir, melalui silsilah marga yang tercatat dalam manuskrip tua, dan melalui ritual sederhana seperti membersihkan rumah atau memasak bersama, masyarakat Lampung menjaga hubungan mereka dengan masa lalu. Ramadhan dengan demikian bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah perjalanan ingatan. Perjalanan yang membawa manusia kembali kepada akar budaya, kepada leluhur, dan kepada nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi kehidupan mereka.
Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandung: Alumni.
3. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
4. Syarifuddin, A. Piil Pesenggiri: Falsafah Hidup Orang Lampung. Bandar Lampung: Pusat Studi Budaya Lampung.
5. Manuskrip Kuntara Raja Niti (Salinan koleksi keluarga adat Lampung).
6. Arsip Budaya Lampung. Catatan Silsilah Marga Lampung Pesisir. Bandar Lampung: Balai Pelestarian Nilai Budaya.
7. Al-Qur’an al-Karim.
8. Al-Nawawi. Riyadhus Shalihin. Beirut: Dar al-Fikr.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini