nataragung.id – Yogyakarta – Warung Yuk Nah tampak ramai tak seperti biasanya. Bisa jadi karena warga desa sudah pada mudik dari tanah rantai. Mereka tentu saja rindu dengan olahan khas Yuk Nak.
Setidaknya itu yang dengan samar saya dengar dari bisik-bisik para warga yang sedang antri. Gaya mereka macam-macam saat bicara, sesuai yang hendak mereka pamerkan.
Sebut, misalnya, ada yang ingin memamerkan gelang atau jam tangan mereka bicara dengan mengangkat tangan dan menarik lengan panjang bajunya. Sebagian lain berulang-ulang mengeluarkan telepon genggam dari sakunya, seperti membuka aplikasi, tetapi enggak lama kemudian dimasukkan ke saku lagi
Ada yang lebih narsis, mereka tetap duduk di dalam mobil, membuka kaca jendela, dan beteriak, “Yuk Nah, pesan kolak 15 bungkus, banyak tetangga, nih.”
Saya perhatikan wajah Pakde Kliwon berubah-ubah warnanya, persis lampu disko, berubah dari kuning, ungu, biru, merah, entah warna apalagi. Mungkin ia sedang merasa tidak suka dengan gaya para tetangganya itu.
“Begini ini, yang saya enggak suka,” katanya dengan suara teramat lirih, mungkin khawatir terdengar banyak orang.
Menurut Pakde Kliwon, bukan itu caranya jika hendak menunjukkan kecintaan kepada Allah Sang Pencipta. Cinta terhadap pujian sesama manusia, sama sekali tidak benar. Hanya Gusti Allah yang berhak atas pujian manusia.
Orang-orang seperti itu tidak akan mendapatkan panggilan sebagai jiwa-jiwa yang tenang. Manusia yang mendapatkan panggilan kasih sayang dari pemilik cinta sejati. Gusti Allah yang Maha Kasih dan Sayang.
Pengejar cinta, orang-orang yang rindu kepada Allah, bukan lah orang yang cinta terhadap dunia secara berlebihan, bahkan menjadi tujuan utama hidupnya. Mereka bukan kah orang-orang yang memiliki hasrat kepada sesama secara berlebihan.
Pada hakikatnya, kata Pakde Kliwon, orang-orang yang merindu kepada-Nya adalah mereka yang selalu mengingat-Nya pagi dan petang, memuji-Nya dalam setiap tarikan nafasnya.
Orang-orang yang mencintai-Nya melebihi apapun, istri, anak, emas, ternak dan sawah ladang. Semuanya tak akan diperhitungkan di hadapan-Nya.
“Mereka yang rindu kepada-Nya, mereka itulah yang akan mendapatkan cinta-Nya. Banyak jalan menuju ke sana,” ungkap Kliwon.
Saya hanya membatin, Pakde Kliwon, ibarat ular sanca, ia benar-benar sudah nylungsumi. Malih rupa. (*/27)
*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

