Menyambut Fajar Lebaran. Tata Krama dan Martabat Keluarga Saibatin di Pesisir Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Konon, pada suatu masa ketika perahu-perahu kayu masih menjadi urat nadi perdagangan di Teluk Semangka, hiduplah seorang penyimbang tua bernama Pangeran Jaya Kesuma. Ia dikenal sebagai penjaga martabat marga dan penutur adat yang tak pernah salah menyebut silsilah. Setiap kali bulan Ramadan beranjak ke penghujung, masyarakat di pesisir berkumpul di halaman luas menghadap laut. Mereka menanti takbir pertama dengan hati berdebar, seolah-olah fajar membawa lembaran hidup yang baru.
Pangeran Jaya Kesuma selalu berpesan kepada anak cucunya, “Lebaran bukan sekadar hari berganti pakaian. Lebaran adalah hari ketika kita menegakkan kembali harga diri, menata tutur kata, dan membersihkan hati.”
Pada malam terakhir Ramadan itu, seorang anak kecil bertanya, “Kakek, mengapa kita harus bersalaman dengan cara yang sangat tertib? Mengapa kami harus menundukkan kepala di hadapan para penyimbang?”
Sang kakek tersenyum. “Karena di situlah martabat keluarga dijaga. Siger yang dikenakan perempuan dan gelar yang disandang lelaki bukan sekadar perhiasan. Itu adalah tanda bahwa kita memikul amanah leluhur.”
Kisah itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Setiap Lebaran tiba, cerita Pangeran Jaya Kesuma kembali diulang, menjadi pengingat bahwa adat bukanlah beban, melainkan cahaya yang menuntun.
Cerita rakyat ini menjadi pintu masuk untuk memahami kehidupan masyarakat adat Lampung Saibatin di pesisir pada masa lampau. Ia bukan sekadar dongeng, melainkan cerminan nilai yang hidup dan dijalankan dalam keseharian.
Dalam struktur adat Saibatin, marga memegang peranan sentral. Beberapa manuskrip tua yang tersimpan dalam keluarga penyimbang, ditulis dengan aksara Lampung, memuat silsilah panjang keturunan. Salah satu naskah yang sering dirujuk adalah tambo atau hikayat keluarga yang menuturkan asal-usul marga dari keturunan para ulun lampung yang menetap di pesisir.
Dalam sebuah salinan manuskrip yang disebut “Kuntara Raja Niti”, terdapat petikan berbunyi: “Adat iku hukum sai tuha, nyakak muli sai megou, sai ngedok pengatu, sai nyimbang margana.”
Secara bebas dapat dimaknai: adat adalah hukum yang tua, yang menjaga kemuliaan gadis dan bujang, yang menegakkan aturan, dan yang memayungi marga.
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa adat diposisikan sebagai hukum moral dan sosial. Ia bukan sekadar aturan lahiriah, melainkan sistem nilai yang mengatur hubungan antarindividu, keluarga, dan marga.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan dan Etika Bergaul di Lingkungan Kampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam sejarah lisan Saibatin, disebutkan bahwa setiap marga memiliki garis keturunan yang dijaga dengan cermat. Pada masa lalu, silsilah dibacakan kembali menjelang perayaan besar, termasuk Lebaran. Hal ini dilakukan agar generasi muda tidak lupa pada asal-usulnya. Penyebutan nama leluhur menjadi bentuk penghormatan spiritual, seolah-olah ruh para pendahulu turut hadir menyaksikan.
Analisis terhadap tradisi pembacaan silsilah ini menunjukkan bahwa lebaran menjadi momentum rekonsiliasi bukan hanya antarmanusia, tetapi juga antara generasi kini dan generasi lampau. Di sinilah martabat keluarga menemukan maknanya: ia berdiri di atas ingatan kolektif yang dijaga bersama.

Menjelang Lebaran, rumah-rumah di pesisir dibersihkan secara menyeluruh. Lantai dipel dengan air bercampur wewangian alami, tikar dijemur di bawah matahari, dan kain tapis terbaik dikeluarkan dari peti kayu.
Dalam pandangan adat, rumah bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah simbol kehormatan keluarga. Membersihkan rumah berarti menyucikan ruang batin. Seorang ibu biasanya berkata kepada anak perempuannya, “Rumah yang bersih adalah wajah keluarga.”
Secara filosofis, tindakan ini mencerminkan konsep keseimbangan lahir dan batin. Dalam ajaran Islam yang telah menyatu dengan adat, kebersihan adalah bagian dari iman. Nilai religius ini dipadukan dengan nilai adat, sehingga lebaran menjadi titik temu antara syariat dan tradisi.
Ruang tamu ditata sedemikian rupa untuk menerima tamu. Tempat duduk diatur berdasarkan hierarki adat. Penyimbang akan duduk di tempat terhormat, sementara anggota keluarga muda duduk lebih rendah sebagai tanda hormat. Tata ruang ini bukan sekadar teknis, melainkan simbol struktur sosial yang diakui bersama.

Pada pagi lebaran, perempuan Saibatin mengenakan tapis dengan motif yang menunjukkan asal marga. Di kepala mereka bertengger siger, mahkota berlekuk yang menjadi simbol kemuliaan perempuan Lampung.
Siger bukan hanya hiasan. Ia melambangkan kebijaksanaan dan tanggung jawab moral. Dalam beberapa tambo disebutkan bahwa lekuk pada siger melambangkan nilai luhur yang harus dijunjung tinggi.

Baca Juga :  Harga Diri di Ambang Dua Zaman. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Laki-laki mengenakan pakaian adat lengkap dengan kopiah atau penutup kepala. Gelar adat disebutkan saat memperkenalkan diri kepada tamu yang lebih tua.
Busana menjadi bahasa simbolik. Ia menyampaikan pesan bahwa pemakainya siap tampil sebagai wakil keluarga. Dalam konteks Lebaran, mengenakan pakaian terbaik berarti menghadirkan diri dalam keadaan terhormat, bukan untuk pamer, melainkan untuk menunjukkan kesiapan menerima dan memberi maaf.
Analisis budaya menunjukkan bahwa estetika dalam busana adat berfungsi sebagai penguat identitas kolektif. Ketika seluruh keluarga mengenakan busana adat, tercipta kesadaran bersama bahwa mereka adalah bagian dari mata rantai sejarah.
Saat bersilaturahmi, anak-anak diajarkan menundukkan kepala dan mencium tangan orang tua. Kalimat maaf diucapkan dengan runtut dan sopan. Tidak boleh tergesa-gesa atau disertai tawa berlebihan.

Dalam tradisi Saibatin, bahasa adalah cermin jiwa. Terdapat tingkat tutur yang membedakan cara berbicara kepada sebaya dan kepada penyimbang. Kesalahan dalam bertutur dianggap mencederai kehormatan keluarga.
Nilai ini selaras dengan ajaran Islam tentang menjaga lisan. Namun, adat Saibatin memberikan struktur yang lebih rinci melalui aturan sosial yang diwariskan turun-temurun.

Lebaran menjadi ajang pendidikan karakter. Anak-anak belajar langsung melalui praktik. Mereka tidak hanya mendengar nasihat, tetapi mengalami sendiri proses meminta maaf dengan penuh kesadaran.
Penyimbang memegang peran sentral dalam struktur adat Saibatin. Pada hari Lebaran, keluarga besar biasanya mendatangi rumah penyimbang untuk bersilaturahmi terlebih dahulu sebelum berkunjung ke kerabat lain.
Tradisi ini menunjukkan pengakuan terhadap hierarki adat. Namun, hierarki tersebut tidak dimaksudkan untuk menindas, melainkan menjaga harmoni sosial. Penyimbang bertugas sebagai penengah konflik dan penjaga nilai.
Dalam perspektif filosofis, penghormatan kepada penyimbang mencerminkan kesadaran kolektif bahwa kehidupan bermasyarakat memerlukan figur teladan. Lebaran menjadi momentum untuk memperbarui komitmen terhadap kepemimpinan adat yang berlandaskan moral.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah. Seri 9: Harmoni Adat dan Agama dalam Keluarga Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Lebaran dalam masyarakat Saibatin bukan hanya perayaan religius, tetapi juga peristiwa budaya. Ia menyatukan nilai Islam dan adat dalam satu ruang simbolik.
Takbir yang berkumandang di tepi laut menghadirkan suasana sakral. Ombak seakan menjadi saksi bahwa manusia kembali kepada fitrahnya. Setelah salat Id, masyarakat berbaris rapi, saling berjabat tangan.
Makna spiritualnya terletak pada kesadaran kolektif untuk kembali pada kesucian. Adat memperkuat nilai ini dengan tata krama yang terstruktur. Tidak ada tindakan yang dibiarkan tanpa makna. Setiap gerak dan tutur memiliki pesan moral.

Kisah Pangeran Jaya Kesuma dan tradisi Lebaran di pesisir Lampung Saibatin mengajarkan bahwa martabat keluarga dibangun melalui adab. Ia tidak diwariskan secara otomatis, melainkan dipelajari dan dijalankan.
Dalam arus modernisasi, nilai-nilai tersebut dapat menjadi jangkar identitas. Lebaran bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan ruang refleksi untuk meneguhkan kembali tata krama dan kehormatan.
Fajar akan selalu terbit di pesisir Lampung. Ombak akan terus menyentuh pantai. Namun, cahaya yang paling penting adalah cahaya adab yang dijaga dalam hati setiap generasi.

Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandung: Alumni, 1989.
2. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press, 1990.
3. Kuntara Raja Niti. Manuskrip adat Lampung (salinan keluarga penyimbang Saibatin).
4. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta: Depdikbud, 1985.
5. Sai Batin Pesisir. Arsip Tambo dan Silsilah Marga (dokumen keluarga, tidak diterbitkan).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini