Cermin Retak: Tak Hanya Tanah yang Retak, Kepercayaan pun Retak. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Hujan belum berhenti, derasnya seperti senandung duka untuk saudara-saudara di Sulawesi Utara. Butiran-butiran airnya umpama orkestra menampar atap-atap seng warung Yuk Nah. Ada aroma yang menggelisahkan, kopi tubruk dari warung Yuk Nah. Dinding dari anyaman bambu seperti tak mampu menahan tepukan air hujan yang melompat setelah terbentur tanah. DI sana sini, terlihat paku-paku menonjol dan berkarat.

Telepon genggam Yuk Nah masih memamerkan kepanikan warga dengan guncangan tanah, rumah-rumah yang bergoyang, dan tentu saja wajah ketakutan, dan mungkin akan meninggalkan trauma jangka panjang bagi anak-anak. Reporter terus mengabarkan angka-angka korban gempa. Suaranya serak, terliputi rasa duka.

Yuk Nah menghentikan platform media sosial video itu dengan gerakan cepat. Tangannya tapak sedikit gemetar. Sendok logam beradu dengan kaca bening, suaranya menyeruak di antara curah hujan, bunyi kecil yang menjadi terdengar nyaring di tengah kegalauan batin di ujung hari.

“Setiap angka itu orang,” katanya pelan, ada bulir bening mengalir menuruni cengkung pipi di sebelah kanan dan kiri hidungnya. “Bukan statistik,” lanjutnya.

Baca Juga :  CERMIN RETAK : Salat Istikharah, Mr. President. Oleh : Mukhotib MD *)

Pakde Kliwon duduk di bangku panjang. Punggungnya terlihat membungkuk atau mmemang sudah bungkuk beneran digerogoti usia. Rambutnya memutih sepanjang bahu, tetapi tertata rapi. Ada bening kecil bias air hujan di ujung-ujung rambutnya. Ia menghela napas panjang dan berat. Meski sudah hapal. Tetap saja dadanya menyesak, sudah terlalu sering menyaksikan negara datang terlambat.

“Negara selalu punya alasan untuk tak segera bertindak. Cuaca, logistik, dan prosedur. Dan celakanya, gempa sungguh tak pernah menunggu prosedur,” katanya.

Saya mengunyah singkong goreng yang sudah dingin, dan tentu saja keras. Kekentalan minyaknya seakan menyisakan getir menjalari seluruh permukaan lidah. Rasanya tak ubah pernyataan para pejabat yang berkilah atau bergaya: menggampangkan, begitu licin, terasa hambar, dan tentu saja tak mampu membasuh luka.

Yuk Nah berdiri di balik etalase warungnya. Matanya merah. Mungkin saja irisan bawang di tangannya atau munculnya video tentang reruntuhan, tangis, dan orang-orang yang lari tak tentu arah. Atau video tentang rumah-rumah patah umpama lidi-lidi yang usang, tenda-tenda yang tak mampu tegak, anak-anak bertekuk lutut, dan tatapan kosong.

Baca Juga :  DUNIA WANITA - 9 Cara Kembalikan Mood Wanita Agar Ceria, Nomor 7 Sering Diabaikan

“Katanya bantuan mulai bergerak. Bergerak ke mana? Ke ruang konferensi pers?” kata Yuk Nah, suaranya naik satu setengah oktaf.

Ia tertawa. Tawa yang patah, seperti cermin jatuh dari gantungnnya. Pakde Kliwon mengusap kening. Menurutnya, keterlambatan dalam persoalan kesehatan, itu bisa berarti nyawa. Dan keterlambatan dalam bencana, selalu berarti kematian yang sesungguhnya bisa dicegah.

Saya menyela, seperti tak sabar dan mungkin terlalu dini karena terpancing pernyataan Pakde Kliwon, “Keliru, ini bukan sekadar soal terlambat. Namun, memang sudah menjadi pola. Negara sibuk menyusun narasi, dan warga sibuk menyelamatkan sesama.”

Di luar, motor melintas berbaris-baris. Mereka membawa karung-karung berisi pakaian bekas, dan kebutuhan di wilayah pengungsian. Debunya menerobos masuk ke warung, dan kami terbatuk bersama tanpa aba-aba. Anak-anak muda desa Bluwangan bergerak cepat. Patungan. Ada yang jual ayam, menjual kambing, dan ada pula yang menggadaikan cincin kawin.

Baca Juga :  Cermin Retak: MBG Sampai ke MK

Yuk Nah, masih menatap lurus konvoi motor yang tak habis-habis. Lehernya bergerak, menelan ludah, lalu berbisik lirih, “cantik, ya? Kepedulian ternyata memang selalu datang dari yang tak punya kuasa.”

Saya mengangguk. Di kepala saya berputar ingatan 1998—teriakan, gas air mata, keyakinan perubahan lahir dari jalanan. Dua puluh sekian tahun berlalu, dan kita masih berdiri di titik yang sama, warga mendahului negara.

Saya melihat di antara retakan tanah di Sulawesi Utara, ada retakan yang lebih dalam, retakan kepercayaan. Namun, di sana tumbuh sesuatu yang indah, solidaritas warga, mereka tak menunggu sampai negara menyadari setiap detik yang hilang, ada nyawa yang tak seharusnya pergi. (*/32)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini