nataragung.id – Pemanggilan – Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ – أَوِ الْمُؤْمِنُ – فَغَسَلَ وَجْهَهُ، خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ، أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ، خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ، أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ، خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ، أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ، حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ» (رواه مسلم، رقم 244)
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu’ kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua kakinya, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu’ atau bersama tetesan akhir air wudhu’, hingga ia selesai dari wudhu’nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa.” (HR. Muslim no. 244)
Wudhu bukan sekadar gerakan membasuh anggota badan, melainkan ibadah yang menyatukan antara kesucian lahir dan kebersihan batin.
Ketika air menyentuh wajah, bukan hanya debu yang luruh, tetapi dosa-dosa pandangan yang pernah mencuri hak kesucian hati ikut berguguran. Mata yang pernah melihat yang tidak halal, kini disucikan dengan tetesan air yang mengalir penuh rahmat. Seakan setiap tetes itu membawa pesan: Allah masih membuka pintu ampunan.
Saat kedua tangan dibasuh, maka tangan-tangan yang mungkin pernah tergelincir dalam dosa, baik yang halus maupun yang nyata, dibersihkan oleh karunia Allah.
Ini menunjukkan betapa anggota tubuh menjadi saksi atas amal, dan wudhu menjadi sarana penghapus jejak kesalahan itu.
Demikian pula ketika kaki dibasuh, setiap langkah yang pernah mendekat kepada maksiat dihapuskan. Kaki yang dahulu mungkin melangkah ke tempat yang tidak diridhai, kini disucikan agar kembali berjalan menuju ketaatan.
Namun yang perlu dipahami bahwa dosa-dosa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil (ash-shaghā’ir), itupun dengan syarat seorang hamba menjauhi dosa besar.
Adapun penghapusan dosa ini terkait dengan kesempurnaan wudhu, yakni dilakukan dengan ikhlas, sesuai tuntunan, dan disertai kehadiran hati.
Maka wudhu bukan hanya persiapan untuk shalat, tetapi ia adalah perjalanan pembersihan diri. Dari wajah yang dibasuh, tangan yang disucikan, hingga kaki yang dimuliakan, semuanya menjadi saksi bahwa seorang hamba sedang kembali kepada Rabb-nya.
Betapa indah jika setiap kita berdiri di tempat wudhu dengan kesadaran ini: bahwa air yang mengalir bukan sekadar air, tetapi rahmat yang menggugurkan dosa. Bahwa setiap basuhan adalah peluang untuk memulai kembali, lebih bersih, lebih dekat, dan lebih layak menghadap Allah.
Maka, berwudhulah dengan benar, bukan hanya pada anggota badan, tetapi juga pada hati yang penuh harap akan ampunan-Nya. (222)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
#KIS
#Shobahul_Khair
#Mutiara_Pagi

