Mutiara Pagi : Jejak yang Menyesatkan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Di antara gelapnya zaman dan hiruk pikuk kehidupan, manusia sering berjalan tanpa arah, bukan karena tidak ada petunjuk, tetapi karena ia memilih mengikuti langkah orang lain tanpa mau bertanya: ke mana jalan ini akan berakhir?

Betapa banyak hati yang tersesat, bukan karena ia tak mengenal kebenaran, tetapi karena ia lebih memilih tunduk kepada suara para pembesar, tokoh, dan arus kebiasaan. Ia berjalan di belakang mereka, meniru tanpa berpikir, mengikuti tanpa menimbang, hingga kebenaran terasa asing di dalam dadanya sendiri.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Jebakan Halus Syetan dalam Pandangan Ibnul Qayyim. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Padahal Allah telah memperingatkan dengan jelas dalam firman-Nya:

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا

“Dan mereka berkata: ‘Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.’” (QS. Al-Ahzab: 67)

Ayat ini bukan sekadar kisah, tetapi cermin bagi jiwa-jiwa yang enggan berpikir dan malas merenung. Di hari ketika penyesalan tak lagi berguna, manusia akan menyadari bahwa ketaatan buta adalah awal dari kesengsaraan.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Adat sebagai Penopang Keadilan dalam Muamalah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Karenanya, jangan kita jadikan manusia sebagai kiblat kebenaran. Jangan kita biarkan arus dunia menyeret kita tanpa kendali. Karena kebenaran bukan diukur dari siapa yang mengatakannya, tetapi dari apakah ia sesuai dengan cahaya wahyu dan petunjuk kebenaran.

Mari berpikir sebelum melangkah, merenung sebelum mengikuti. Sebab setiap langkah kelak akan dimintai pertanggungjawaban, dan setiap pilihan akan menentukan arah perjalanan menuju keabadian.

Maka jangan sampai kelak kita termasuk yang berkata dengan penuh sesal: “Ya Rabb… kami hanya mengikuti, tetapi ternyata kami tersesat.”

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Di Ujung Sempit, Ada Cahaya. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Mari kita bangkit dan mencari kebenaran dengan cahaya iman, bukan dengan bayang-bayang manusia. (225).
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

#KIS
#Shobahul_khair
#Mutiara pagi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini