nataragung.id – Pemanggilan – Di hamparan kehidupan, Allah menghadirkan sebuah kisah, bukan sekadar cerita, tetapi cermin bagi setiap jiwa yang mau merenung…
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”
Dahulu, negeri itu tenang. Langitnya seakan memayungi dengan kedamaian, buminya mengalirkan rezeki tanpa henti. Namun nikmat yang tak disyukuri berubah menjadi petaka. Hati yang lalai menjadikan karunia terasa biasa, hingga akhirnya hilang tanpa terasa.
Kelaparan dan ketakutan pun datang, bukan sekadar ujian, tetapi balasan yang menyelimuti, seperti pakaian yang melekat di tubuh mereka.
Lalu Allah menjelaskan sebab yang lebih dalam dari sekadar kufur nikmat.
وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِّنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
“Dan sungguh, telah datang kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka ditimpa azab, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”
Seorang rasul telah datang. Bukan orang asing, tetapi dari kalangan mereka sendiri, yang mereka kenal kejujurannya, yang mereka pahami bahasanya.
Namun kebenaran sering kali terasa berat bagi hati yang sombong. Mereka menolak, mendustakan, dan berpaling. Maka ketika azab itu datang,
ia bukanlah kezaliman, melainkan buah dari kezaliman mereka sendiri.
Lalu, di tengah peringatan yang mengguncang itu,
Allah membuka jalan keselamatan, jalan yang sederhana, namun sering dilupakan:
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Maka makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu yang halal lagi baik, dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”
Makanlah dari yang halal, nikmati yang baik, namun jangan pernah lupa dari mana semua itu berasal.
Syukur bukan sekadar kata “Alhamdulillah” di lisan, tetapi tunduknya hati,
dan taatnya amal dalam menggunakan nikmat.
Karena sejatinya,
ibadah yang benar akan melahirkan syukur, dan syukur yang tulus akan menjaga nikmat.
Maka renungkanlah. Berapa banyak kehidupan yang awalnya lapang, lalu berubah menjadi sempit, bukan karena dunia kejam, tetapi karena hati berhenti bersyukur.
Hari ini kita masih diberi rasa aman, rezeki yang mengalir, dan kesempatan untuk beribadah. Itu bukan tanda kita hebat, melainkan tanda Allah masih memberi waktu.
Jangan tunggu nikmat itu pergi, baru kita menyadari. Jangan tunggu sempit datang, baru kita menangisi.
Sebab, Nikmat itu dijaga oleh syukur. Dan dihancurkan oleh kufur. (229)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
#KIS
#Shobahul_khair
#Mutiara_pagi

