Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri – 4 – Bahasa dalam Kehidupan Sehari-hari. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Bahasa tidak hanya hidup di ruang adat atau upacara besar. Dalam kebudayaan Lampung, bahasa justru menemukan denyut terkuatnya dalam kehidupan sehari-hari: di rumah, di pasar, di ladang, dan di jalanan kampung. Di sanalah bahasa bergerak mengikuti napas masyarakat, menyesuaikan diri dengan kerja, canda, dan kebersamaan.
Seri keempat ini mengajak pembaca melihat bahwa percakapan sederhana, yang sering dianggap remeh, sesungguhnya menyimpan nilai adat, filosofi hidup, dan makna spiritual yang diwariskan tanpa disadari dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pada masa ketika pasar-pasar tua Lampung masih beratapkan daun rumbia, hiduplah seorang pedagang kain bernama Inang Lembayung. Setiap pagi, ia membuka lapaknya dengan sapaan yang sama kepada siapa pun yang melintas. Tidak ada teriakan keras, tidak ada paksaan. Ia hanya bertutur dengan bahasa Lampung yang luwes dan bersahabat.
Konon, orang-orang datang bukan semata untuk membeli kain, tetapi untuk mendengar kata-kata yang menenangkan. Dalam cerita rakyat yang berkembang di wilayah pesisir dan pedalaman, Inang Lembayung dikenang sebagai simbol bahwa bahasa sehari-hari mampu menghidupkan suasana kampung.
Dongeng ini menjadi pengantar bahwa bahasa Lampung dalam keseharian bukan sekadar alat tukar kata, melainkan sarana merawat hubungan sosial. Dari percakapan ringan, lahir rasa saling percaya dan kebersamaan.

Dalam sejarah masyarakat adat Lampung, kehidupan sehari-hari selalu terikat dengan struktur marga. Setiap marga memiliki wilayah, mata pencaharian, dan kebiasaan yang membentuk ragam bahasa keseharian.
Dokumen adat yang tersimpan dalam catatan kuno marga Abung menyebutkan: “Bahasa ulun di lamban, tandanya adat di tanah.”
Artinya, bahasa manusia di rumah menandakan adat berakar di tanahnya. Analisis kutipan ini menunjukkan bahwa bahasa sehari-hari dipandang sebagai bukti hidupnya adat dalam praktik nyata, bukan hanya dalam aturan tertulis.
Dalam silsilah marga, bahasa digunakan untuk menandai kedekatan dan jarak sosial. Cara berbicara kepada sesama anggota marga berbeda nuansanya dengan cara berbicara kepada orang luar. Perbedaan ini tidak dimaksudkan untuk membatasi, melainkan untuk menjaga keteraturan hubungan.

Baca Juga :  Falsafah Hidup Orang Lampung. Seri 7: Kepemimpinan Menurut Falsafah Lampung Bersendi Kitabullah (Konsep Penyimbang). Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Di dalam rumah, bahasa Lampung mengalir tanpa formalitas berlebihan. Percakapan antara orang tua dan anak, antara suami dan istri, menjadi ruang pertama penanaman nilai adat.
Dalam petuah adat yang sering diulang para tetua disebutkan: “Kata di lamban, akar di ulun.”
Maknanya, kata-kata di rumah menjadi akar dalam diri manusia. Analisis mendalam terhadap kutipan ini menunjukkan bahwa bahasa sehari-hari di rumah dipercaya membentuk watak seseorang. Oleh sebab itu, tutur kata kasar dihindari, karena diyakini akan merusak keseimbangan batin.
Bahasa rumah mengajarkan kesabaran, empati, dan rasa saling memahami. Nilai-nilai ini tidak diajarkan melalui ceramah panjang, melainkan melalui percakapan sederhana yang diulang setiap hari.

Pasar tradisional Lampung bukan hanya tempat jual beli, tetapi juga ruang sosial. Bahasa yang digunakan di pasar mencerminkan etika berdagang dan sikap hidup masyarakat.
Dalam naskah adat Pepadun tertulis: “Dagangan dijual, adat dijaga.”
Kutipan ini mengandung makna bahwa mencari nafkah tidak boleh mengorbankan etika. Analisisnya menunjukkan bahwa bahasa dalam transaksi sehari-hari berfungsi menjaga kejujuran dan rasa saling menghormati.
Tawar-menawar dilakukan dengan kata-kata yang santun. Bahkan dalam perbedaan pendapat soal harga, bahasa Lampung mengajarkan agar suara tetap terjaga dan perasaan tidak dilukai. Dari sini terlihat bahwa bahasa keseharian adalah perpanjangan dari nilai adat.

Baca Juga :  Ngebabali (Prosesi adat menjelang perkawinan). Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Di lingkungan kampung, bahasa Lampung menjadi alat menjaga harmoni. Sapaan ringan kepada tetangga, percakapan singkat di jalan, atau obrolan di bawah rumah panggung membentuk jalinan sosial yang kuat.
Dalam catatan lisan masyarakat Saibatin disebutkan: “Nyapa sehari, jaga setahun.”
Artinya, sapaan sehari dapat menjaga hubungan selama setahun. Analisis kutipan ini menunjukkan keyakinan bahwa hubungan sosial dirawat melalui interaksi kecil yang konsisten.
Bahasa dalam lingkungan sekitar berfungsi sebagai penanda kehadiran sosial. Diam tanpa sapa sering dianggap sebagai tanda renggangnya hubungan. Oleh sebab itu, masyarakat Lampung menempatkan bahasa sehari-hari sebagai perekat sosial yang penting.
Secara spiritual, bahasa sehari-hari diyakini membawa pengaruh pada keseimbangan hidup. Kata-kata yang diucapkan dengan niat baik dipercaya menarik kebaikan, sementara kata yang kasar dianggap mengundang ketegangan.
Dalam petikan adat lama disebutkan: “Kata sai dilepas, balik ke ulun.”
Maknanya, kata yang dilepaskan akan kembali kepada manusia. Analisis ini memperlihatkan pandangan kosmologis masyarakat Lampung bahwa bahasa memiliki daya pantul spiritual.
Oleh sebab itu, bertutur baik dalam keseharian dipandang sebagai laku batin. Bahasa tidak hanya ditujukan kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri dan alam sekitar.

Modernisasi membawa perubahan pada pola komunikasi. Bahasa Lampung dalam kehidupan sehari-hari menghadapi tantangan dari bahasa global dan gaya komunikasi cepat. Namun, perubahan ini tidak serta-merta menghapus nilai lama.
Adat Lampung mengajarkan penyesuaian tanpa kehilangan jati diri. Bahasa sehari-hari dapat berkembang, selama nilai dasar seperti sopan santun, empati, dan kebersamaan tetap terjaga.
Dalam konteks ini, bahasa Lampung tidak harus selalu sempurna secara struktur, tetapi harus jujur secara nilai. Selama bahasa digunakan untuk merawat hubungan, adat tetap hidup.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Perempuan Lampung dan Perannya di Bulan Puasa. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Bahasa Lampung dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa yang berjalan bersama hidup. Ia tidak selalu indah, tidak selalu teratur, tetapi selalu bermakna. Dari rumah ke pasar, dari ladang ke kampung, bahasa menjadi saksi perjalanan masyarakat Lampung menjaga adatnya dalam kesederhanaan.
Seri keempat ini menegaskan bahwa budaya tidak hanya hidup dalam peristiwa besar, melainkan dalam percakapan kecil yang terus diulang. Selama bahasa itu digunakan dengan kesadaran, ia akan tetap menjadi cermin budaya Lampung.

Daftar Referensi (Fisik dan Digital Terverifikasi)
1. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Kantor Bahasa Provinsi Lampung. Pemakaian Bahasa Lampung dalam Kehidupan Sehari-hari.
3. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatra. Tradisi Lisan dan Bahasa Lokal Lampung.
4. Koleksi Kuntara Raja Niti, Museum Negeri Provinsi Lampung.
5. Arsip wawancara lisan tokoh adat Saibatin dan Pepadun (dokumentasi budaya daerah).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini