Melanjutkan Cita Kartini di Era Digital. Oleh : Gunawan Handoko //Pemerhati masalah sosial, tinggal di Bandar Lampung

0

nataragung.id – Bandar Lampung – SETIAP 21 April, pemandangan di sekolah dan kantor pemerintahan selalu sama, anak-anak TK dan SD lucu berkebaya, ibu-ibu PKK anggun bersanggul sambil berjalan jinjit pelan-pelan. Sementara di instagram penuh dengan foto Kartinian yang seru dan meriah, bapak-bapak pakai daster ikut lomba memasak dan ditonton ibu-ibu. Lalu muncul pertanyaan yang mengganjal, kalau Raden Ajeng Kartini masih hidup dan menyaksikan ini semua, kira-kira beliau tersenyum haru atau mengernyit kecut? Saya justru curiga yang kedua, karena kita merayakan simbolnya Kartini, tapi alpa melanjutkan esensi perjuangannya. Dulu R.A. Kartini melawan gelap yang konkret ketika kaum perempuan dikurung, dilarang sekolah tinggi-tinggi, dinikahkan paksa usia belia, tidak boleh bersuara. Senjata bagi R.A Kartini adalah tulisan dan surat, pikiran dan keberanian untuk mendobrak.

Mimpinya, Habis Gelap Terbitlah Terang. Bagi Kartini, terang adalah kemerdekaan berpikir, kebebasan memilih, dan kesetaraan kesempatan. Dalam konteks ini, terang itu artinya akses pendidikan, kerja layak, hak menentukan nasib. Lalu, lihat peringatan kita 100 tahun lebih setelah suratnya dibaca dunia. Gelap yang kita lawan setiap 21 April adalah susahnya memakai konde, ribetnya jalan memakai kain, bingungnya bapak-bapak mengulek sambal dan memasak sayur lodeh. Emansipasi direduksi jadi event organizer tahunan. Selesai lomba, tepuk tangan, bagi-bagi hadiah, foto-foto, setelah itu bubar. Besoknya, 22 April, gelap yang asli asal.

Masih ada anak perempuan yang dinikahkan usia 15 tahun, ibu-ibu masih takut lapor KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) karena disuruh menjaga aib keluarga. Kaum perempuan di kantor perusahaan swasta masih digaji lebih murah dengan beban kerja yang sama. Calon legislatif perempuan masih sering cuma menjadi pemanis daftar, agar kuota 30% calon perempuan terpenuhi. Data BPS 2024 mencatat Indeks Pemberdayaan Gender di berbagai daerah masih dibawah rata-rata nasional. Jumlah kepala dinas perempuan di instansi pemerintahan bisa dihitung dengan jari. Tapi (maaf), yang kita perangi tiap 21 April justru rambut yang susah disasak dan disanggul. Mungkin ada pihak yang menyanggah, Lho, kebaya dan sanggul kan budaya. Harus dilestarikan, itu juga bentuk menghormati Kartini. Betul, budaya wajib dijaga, tapi sangat bahaya jika sanggul dan kebaya jadi satu-satunya wajah peringatan Hari Kartini. Pelan-pelan generasi Z dan Alpha akan menyimpulkan bahwa R.A. Kartini itu pahlawan yang hobi berdandan dan masak. Padahal Kartini adalah pahlawan yang hobi mikir, membaca, menulis, dan melawan. Kalau simbol sampai mengubur substansi, maka sesungguhnya kita sedang mengurung Kartini untuk jilid kedua. Dulu dikurung tembok Jepara, sekarang dikurung seremonial 21 April. Kartini pasti tidak butuh kaumnya pakai kebaya setahun sekali. Beliau butuh kepastian bahwa tidak ada lagi Kartini-Kartini baru yang nasibnya sama seperti zamannya. Karena itu peringatan 21 April harus naik kelas, dari seremonial jadi struktural. Dari lomba sanggul dan kebaya jadi lomba gagasan. Di sekolah, lomba fashion show kebaya diganti lomba esai. Misal, Surat untuk Kartini 2026: Gelap apa yang masih kau lawan di sekolahku?. Atau, ganti dengan lomba debat seperti Kodrat Perempuan: Takdir atau Konstruksi Sosial? Untuk ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita bisa menyelenggarakan lomba digital skill emak-emak. Siapa paling cepat bisa buka toko di Shopee, membuat pembukuan sederhana di HP, desain produk di Canva, diberi hadiah modal usaha dan laptop. Untuk bapak-bapak bisa membuat tantangan dengan 1 hari penuh menggantikan peran domestik isteri, lalu vlog-kan refleksinya. Supaya empati lahir bukan dari tepuk tangan, tapi dari pengalaman langsung mencuci, masak, antar sekolah anak sambil kerja.

Baca Juga :  Kesurupan Cukup Diruwat, Bukan Mengganti Tanggal Lahir. Catatan lepas Gunawan Handoko *)

Mungkin ini emansipasi ekonomi yang nyata, bisa dilakukan oleh instansi pemerintahan termasuk DPRD setiap peringatan Hari Kartini. Rayakan Kartini dengan kebijakan, bukan sekedar upacara dan membaca pidato sambutan. Perlu dicatat, bahwa Kartini menulis Habis Gelap Terbitlah Terang, bukan Habis Gelap Terbitlah Kebaya. Terang itu, ketika anak perempuan bebas memilih cita-cita tanpa ditanya kapan nikah. Terang itu, saat ibu-ibu berani lapor ke polisi ketika dilecehkan dan negara hadir membelanya. Terang itu, saat perempuan memimpin karena kapasitas, bukan karena belas kasihan. Selama peringatan kita masih berkutat di sanggul dan kebaya, berarti kita masih merasa nyaman hidup di dalam gelap, sambil berpura-pura meyalakan terang. Maka, sebelum menggelar lomba 21 April tahun depan, perlu bertanya pada diri sendiri. Sudah berapa persen gelap yang berhasil kita usir sejak 21 April setahun lalu? Kalau jawabnya belum banyak atau belum ada, berarti PR kita belum kelar. Dan ibu kita Kartini, kalau bisa menulis lagi mungkin akan ganti judul bukunya menjadi Terangnya Kapan, Jika Kalian Masih Sibuk Sanggulan. Memang, emansipasi perempuan bukan berarti dapat berbuat dan melakukan apa saja, sebagaimana yang dilakukan kaum laki-laki. Sebagai bangsa Timur, sifat kodrati kaum perempuan wajib dijaga dan dipertahankan.

Baca Juga :  OPINI : BUKAN GERTAK ANYING Oleh : Budi Setiawan

RA. Kartini berwasiat agar kaum perempuan tidak meninggalkan naluri keibuannya yang penuh sentuhan, perhatian dan kasih sayang terhadap anak serta hormat dan menjunjung tinggi martabat suami, sebagaimana tergambar dalam tulisan RA. Kartini pada Serat Centhini. Yang pasti perjuangan RA. Kartini harus tetap menjadi inspirasi bagi gerakan emansipasi perempuan dari segala macam bentuk penindasan. Pandangan feodalistik yang memosisikan kaum perempuan dibawah subordinasi kaum laki-laki harus dihilangkan. Kartini masa kini adalah sosok perempuan yang dapat memberi inspirasi bagi keluarga, lingkungan sekitar, bertanggungjawab dan senantiasa berupaya untuk mewujudkan persamaan hak tanpa meninggalkan sifat kodrati sebagai perempuan.

Baca Juga :  Pendidikan, Warisan Termahal Bagi Anak (Menyambut Hari Anak Nasional ke 41 Tahun 2025) Oleh : Gunawan Handoko *)

Selamat Hari Kartini 21 April 2026. Perempuan Berdaya, Indonesia Jaya !!!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini