Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri – 9 – Bahasa Lampung dan Identitas Diri. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah tiyuh tua di lereng Sekala Brak, hiduplah seorang anak bernama Radin Jaya Niti. Sejak kecil ia sering bertanya kepada kakeknya mengapa namanya panjang dan terdengar berat. Sang kakek hanya tersenyum dan berkata, “Nama itu doa, cucuku. Dan bahasa yang menyebutkannya adalah penuntun hidupmu.”
Suatu hari, Radin Jaya Niti merantau ke tanah seberang. Di sana ia dipanggil dengan sebutan yang disederhanakan, bahkan sering keliru diucapkan. Lama-kelamaan ia merasa asing pada dirinya sendiri. Hingga pada satu malam, ia teringat petuah kakeknya dan mulai memperkenalkan diri dengan bahasa Lampung, lengkap dengan makna namanya. Sejak saat itu, ia merasa utuh kembali.
Cerita rakyat ini hidup dalam ingatan masyarakat Lampung sebagai pengingat bahwa bahasa bukan hanya alat bicara, melainkan penanda siapa diri seseorang di tengah dunia.

Dalam masyarakat adat Lampung, identitas diri tidak dilepaskan dari bahasa. Cara seseorang berbicara menunjukkan asal marga, kedudukan adat, dan sikap batinnya. Bahasa menjadi tanda pengenal yang lebih dalam daripada pakaian atau simbol lahiriah.
Ungkapan adat Lampung menyatakan: “Juluk adek sai nyandang diri.”
Ungkapan ini ditemukan dalam tradisi lisan dan naskah adat Lampung kuno. Juluk adek merujuk pada gelar adat yang melekat pada seseorang, dan hanya dapat dipahami secara utuh melalui bahasa Lampung. Analisisnya menunjukkan bahwa identitas tidak dibentuk secara individual semata, tetapi diakui secara sosial melalui bahasa adat.
Dengan demikian, kehilangan bahasa berarti kehilangan alat untuk mengenali dan dikenali.

Baca Juga :  Adat Saibatin dan Pepadun, Pilar Identitas Etnis. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Identitas masyarakat Lampung berakar kuat pada sistem marga. Setiap marga memiliki sejarah, legenda asal-usul, dan ciri kebahasaan sendiri. Marga-marga besar yang berakar dari Sekala Brak membawa bahasa sebagai penanda perjalanan leluhur.
Dalam hikayat adat disebutkan: “Anak cucu ulah lupa jama bahasa, sebab di sanalah asal muasal darah.”
Kutipan ini sering disampaikan oleh penyimbang adat dalam musyawarah. Secara filosofis, bahasa diposisikan sebagai pengikat silsilah. Bahasa Lampung tidak hanya menyimpan kosakata, tetapi juga memori kolektif tentang perpindahan, perjanjian adat, dan pembentukan tiyuh.
Perbedaan dialek Lampung Api dan Lampung Nyo bukan pemisah, melainkan penanda keragaman identitas dalam satu payung budaya.
Konsep pi’il pesenggiri merupakan inti identitas orang Lampung. Ia mencerminkan rasa harga diri, kehormatan, dan tanggung jawab moral. Bahasa menjadi sarana utama untuk mengekspresikan nilai ini.
Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, disebutkan: “Pi’il pesenggiri dijaga jama ucak.”
Maknanya, kehormatan dijaga melalui tutur kata. Analisis mendalam menunjukkan bahwa bahasa Lampung mengajarkan pengendalian diri. Seseorang dianggap kehilangan pi’il bukan karena kalah secara fisik, melainkan karena gagal menjaga ucapannya.
Bagi generasi muda, memahami bahasa Lampung berarti belajar menempatkan diri secara bermartabat di tengah perubahan zaman.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 3: Sakai Sambayan, Gotong Royong sebagai Wujud Amal Saleh. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam setiap ritual adat Lampung, bahasa memiliki peran sentral dalam membentuk identitas kolektif. Pada upacara begawi, misalnya, seseorang secara resmi diakui dalam struktur adat melalui bahasa.
Ungkapan adat yang sering diucapkan: “Sai diucak, sai diikat adat.”
Secara makna, apa yang diucapkan mengikat seseorang pada adat. Analisis filosofisnya menunjukkan bahwa identitas tidak lahir secara biologis semata, tetapi disahkan melalui bahasa adat yang sakral.
Bahasa dalam ritual berfungsi sebagai penghubung antara individu, masyarakat, dan leluhur. Di sinilah identitas pribadi menyatu dengan identitas budaya.

Di dalam keluarga adat Lampung, bahasa digunakan untuk membentuk karakter anak sejak dini. Petuah, pantun, dan peribahasa menjadi sarana pendidikan identitas.
Peribahasa Lampung mengatakan: “Ucak sai baik, jalan hidup sai lapang.”
Ungkapan ini menanamkan keyakinan bahwa tutur kata menentukan arah hidup. Analisisnya memperlihatkan bahwa bahasa Lampung mengajarkan kesadaran diri: siapa kita, dari mana asal kita, dan bagaimana seharusnya bersikap.
Melalui bahasa, anak-anak belajar menjadi bagian dari komunitas tanpa kehilangan keunikan dirinya.

Baca Juga :  Falsafah Hidup Orang Lampung. Seri 6: Falsafah Hidup Orang Lampung dalam Keluarga (Sakai Sambayan di Ranah Domestik). Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Modernisasi sering kali membuat bahasa daerah tersisih. Namun bagi masyarakat Lampung, bahasa justru menjadi jangkar identitas. Ketika bahasa digunakan dengan bangga, identitas tidak larut dalam arus global.
Buku ini mengajak generasi muda untuk melihat bahasa Lampung bukan sebagai beban masa lalu, melainkan sumber kekuatan jati diri. Bahasa daerah tidak menghambat kemajuan, justru memperkaya kepribadian.
Belajar bahasa Lampung adalah proses mengenal diri sendiri secara lebih dalam.
Seperti Radin Jaya Niti yang menemukan kembali dirinya melalui bahasa, masyarakat Lampung percaya bahwa jati diri tidak dapat dipisahkan dari bahasa ibu. Selama bahasa Lampung dijaga dan digunakan dengan bangga, identitas budaya akan tetap hidup.
Bahasa Lampung bukan sekadar warisan, melainkan cermin tempat masyarakatnya melihat siapa diri mereka sebenarnya.

Referensi Fisik dan Digital Terverifikasi
* Kitab Kuntara Raja Niti, manuskrip hukum adat Lampung.
* Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung.
* Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Struktur Bahasa Lampung.
* Arsip Lisan Penyimbang Adat Saibatin dan Pepadun.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini