Falsafah Hidup Sederhana dalam Rumah Tangga Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Di tengah arus modernisasi dan gaya hidup serba instan, masyarakat Lampung, khususnya yang masih memegang nilai-nilai adat, memiliki falsafah hidup yang kaya akan makna. Salah satu prinsip penting yang masih lestari dalam kehidupan rumah tangga masyarakat Lampung adalah “kesederhanaan”.

Kesederhanaan dalam konteks ini bukan berarti hidup dalam kekurangan, tetapi hidup secukupnya, tidak berlebihan, dan selaras dengan nilai etika, sosial, serta spiritual.

Falsafah ini diwariskan turun-temurun dan tetap dijaga dalam praktik sehari-hari, baik dalam pola konsumsi, hubungan keluarga, maupun cara menghadapi persoalan hidup.

1. Kesederhanaan sebagai Cerminan Etika Kehidupan
Dalam budaya Lampung, hidup sederhana bukan hanya soal materi, tetapi juga menjaga keluhuran budi pekerti. Prinsip ini tercermin dalam pepatah adat seperti:
“Beguai Jejama, Sakai Sambayan” (Bekerja bersama, saling membantu dalam kehidupan)
Dalam rumah tangga, falsafah ini diterapkan melalui:
* Pembagian peran yang adil antara suami dan istri, tidak berdasarkan dominasi, tapi berdasarkan musyawarah dan gotong royong.
* Tidak membanggakan harta atau pencapaian materi, sebab yang lebih dihormati dalam masyarakat adalah kelakuan baik, bukan kekayaan.

Kesederhanaan menjadi dasar agar tidak ada kesombongan, iri hati, atau tekanan sosial yang timbul karena gaya hidup konsumtif.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Dapur Tradisional dan Aroma Ramadhan Tempo Dulu. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

2. Pola Konsumsi: Secukupnya, Tidak Boros
Keluarga Lampung yang memegang nilai tradisional umumnya menerapkan prinsip “cukup untuk hidup, bukan hidup untuk berfoya”.

Hal ini terlihat dari:
* Pola makan sehari-hari: konsumsi pangan lokal seperti singkong, pisang, dan ikan air tawar lebih diutamakan dibanding makanan cepat saji mahal.
* Pola belanja: membeli kebutuhan seperlunya, bukan karena tren. Mereka lebih menghargai kegunaan daripada merek.
* Pengelolaan keuangan keluarga: selalu ada tabungan darurat, dan utang sebisa mungkin dihindari kecuali untuk hal produktif.

Dalam acara adat pun, meski harus menjamu banyak orang, masyarakat Lampung tetap mengutamakan gotong royong, bukan pemborosan. Semua dilakukan sesuai kemampuan, dengan menjaga kehormatan bersama, bukan pamer kemewahan.

3. Kesederhanaan dalam Hubungan Sosial dan Keluarga
Dalam rumah tangga Lampung, kesederhanaan juga berarti menjaga sikap rendah hati dan saling menghormati, terutama dalam struktur keluarga besar.
Beberapa bentuknya antara lain:
* Anak-anak diajarkan berbicara sopan kepada orang tua, dengan istilah panggilan khusus seperti “pak tua,” “mak tua,” atau “nyai,” “awai.”
* Konflik rumah tangga diselesaikan secara internal dan musyawarah, bukan diumbar ke luar. Hal ini berakar pada nilai piil pesenggiri, yaitu menjaga harga diri keluarga dengan cara bermartabat.
* Gotong royong antar tetangga dan saudara masih hidup, terutama saat ada hajatan, panen, atau musibah.

Baca Juga :  Serial Buku - Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung Buku 5: "Warisan Bukan Harta, Tapi Nilai" Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Kesederhanaan menjaga agar hubungan sosial tetap harmonis, tanpa kompetisi yang tidak sehat.

4. Modernitas dan Tantangan terhadap Falsafah Hidup Sederhana.

Saat ini, banyak rumah tangga Lampung yang mulai terpapar oleh gaya hidup instan dan konsumtif. Tantangan tersebut antara lain:
* Media sosial mendorong gaya hidup pamer dan kompetisi gaya hidup (rumah mewah, perabot mahal, liburan ke luar negeri).
* Kredit konsumtif meningkat, karena tekanan untuk memiliki barang modern demi status sosial.
* Generasi muda mulai meninggalkan prinsip hidup sederhana, karena dianggap tidak keren atau kuno.

Namun masih banyak juga keluarga yang berpegang pada nilai adat sebagai pedoman moral, membentengi diri dari arus modernisasi yang destruktif.

5. Kembali ke Akar: Menghidupkan Kembali Kesederhanaan sebagai Solusi
Dalam krisis ekonomi, lingkungan, dan sosial seperti saat ini, justru falsafah hidup sederhana dalam rumah tangga Lampung menawarkan solusi berkelanjutan:
* Kemandirian pangan: keluarga bisa bertahan karena tidak tergantung pada makanan impor.
* Keharmonisan keluarga lebih terjaga karena nilai saling menghormati lebih diutamakan daripada materi.
* Kesehatan mental lebih stabil, karena hidup tidak diburu-buru oleh gaya hidup penuh tekanan sosial.

Baca Juga :  Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 3 , Nemui Nyimah: Budaya Ramah dan Saling Menghormati. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda

Pemerintah daerah, lembaga adat, dan tokoh masyarakat perlu mendorong penguatan nilai-nilai ini, dengan memasukkan materi etika dan budaya lokal dalam pendidikan serta mendukung komunitas masyarakat adat sebagai penjaga nilai-nilai luhur.

Kesimpulan.

Falsafah hidup sederhana dalam rumah tangga masyarakat Lampung bukan hanya bagian dari masa lalu. Ia adalah warisan hidup yang terus relevan hingga hari ini. Dalam kesederhanaan, terkandung nilai ketulusan, ketahanan sosial, dan kebijaksanaan hidup.
Di tengah dunia yang semakin konsumtif, keluarga Lampung yang berpegang pada kesederhanaan tidak sekadar bertahan, mereka justru menjadi teladan. Kesederhanaan bukan kelemahan, tapi kekuatan untuk hidup lebih bermakna, terhormat, dan berdaya.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini