Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 9 , Adat dalam Kehidupan Sehari-hari. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id -Bandar Lampung – Di tepian Way Semangka, hiduplah dua saudara sepupu: Singa, dari keturunan Saibatin di pesisir, dan Siger, dari klan Pepadun di tengah. Meski berbeda garis adat, mereka hidup bertetangga dengan damai. Suatu musim kemarau panjang melanda. Sumur Singa di dataran rendah mulai mengering, sementara mata air di lereng bukit Siger masih mengalir jernih. Bukan dengan perhitungan atau tawar-menawar, setiap pagi Siger dan anak-anaknya menuruni bukit membawa belimbing (wadah air dari bambu) berisi air untuk keluarga Singa.

Singa, yang ahli menangkap ikan, selalu membagi hasil tangkapannya lebih banyak untuk keluarga Siger, disertai sirih pinang sebagai tanda kehormatan.
Ketika ladang Siger akan dibuka, Singa datang dengan seluruh keluarganya, membawa cakak (golok) dan tenaga, tanpa diminta. Mereka bekerja bersama, bercanda, berbagi cerita. Saat perahu Singa hendak diluncurkan ke laut, Siger yang membawa beras, garam, dan doa sebagai pepadun (bantuan) untuk keberuntungan.

Konflik sempat muncul ketika seekor babi hutan merusak ladang jagung Siger.
Alih-alih saling tuduh, mereka duduk bersila di sesat (balai adat) kecil, memakan sirih bersama, dan berbicara dengan mulih malu (bahasa halus). “Tuanku Singa, mungkin alam memberi kita ujian untuk mengingatkan agar pagar kita perkuat bersama,” kata Siger. Singa menjawab, “Saudaraku Siger, engkau benar. Marilah kita perbaiki bersama, dan jagalah hasilnya untuk kita berdua.”

Masyarakat sekitar melihat dan bertanya, “Mengapa kalian, yang berbeda adat, begitu erat?” Mereka pun menjawab berbarengan, “Karena kami diajari bahwa adat bukan hanya untuk pesta; adat adalah bagaimana kita tidak membiarkan tetangga haus, adalah tangan yang membantu tanpa menunggu imbalan, adalah kata-kata yang menyembuhkan luka sebelum membengkak.” Kisah mereka, yang dikenal sebagai “Saibatin-Pepadun Nengah Nyappur”, menjadi teladan bahwa adat sejati hidup dalam tindakan harian yang tulus.

Adat Lampung tidak mengenal kata “asing” untuk tamu. Prinsip nemui nyimah (menerima dan menjamu dengan baik) adalah filosofi dasar pergaulan. Dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti, disebutkan: “Ulak tampak mak ngelamak, ulak teghi mak ngelanggah” (Datang tampak jangan diabaikan, datang malam jangan disuruh pergi). Ini bukan sekadar pepatah untuk upacara penyambutan resmi. Dalam keseharian, ini terwujud ketika seorang ibu rumah tangga Pepadun, saat memasak gulai, selalu menambahkan tiga porsi ekstra: satu untuk keluarga inti, satu untuk tetangga yang mungkin berkunjung, dan satu untuk musafir tak dikenal. Sirih dalam cerana (tempat sirih) selalu tersedia di ruang tamu, simbol kesediaan untuk berkomunitas dan berdiskusi dengan damai.

Baca Juga :  Buku Seri Denda Adat Pepadun Menurut Perspektif Islam. Seri 7 : “Riyal dan Kerbau” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis filosofisnya mendalam: Nemui nyimah adalah cermin dari kesadaran kosmologis bahwa manusia adalah bagian dari jaringan hubungan (beliyai) yang harus dijaga kehangatannya. Menyediakan makanan ekstra atau sekadar sirih adalah ritual mikro penyambungan energi sosial. Ini adalah bentuk spiritualitas praktis, keyakinan bahwa setiap pertemuan adalah anugerah dan setiap tamu bisa membawa berkah (rejeki) atau hikmah. Menolak tamu berarti memutus satu benang dari tenunan sosial yang lebih besar.

Sistem ekonomi tradisional Lampung tidak berdiri di atas kompetisi individual, tetapi pada prinsip sakai sambayan (saling membantu dan memikul beban bersama). Dalam kehidupan bertani, dikenal sistem nyero (mengolah ladang secara bergiliran) dan sebambangan (panen bersama). Ketika seorang petani Pepadun membuka ladang baru, tetangganya, baik Saibatin maupun Pepadun, datang membawa alat. Mereka bekerja dari subuh hingga petang. Upahnya bukan uang, tetapi makan siang bersama dan kepastian bahwa ketika giliran mereka, bantuan yang sama akan datang.

Naskah Piagem Adat Lampung menyatakan, “Sekala bejaku, nengah nyappur; sekala bekarya, sakai sambayan” (Dalam berbicara, tengahlah dan berbaurlah; dalam berkarya, bantulah dan pikullah bersama).

Analisisnya menunjukkan bahwa sakai sambayan adalah penangkal terhadap keserakahan dan kesenjangan. Ini adalah sistem keamanan sosial bawaan yang memastikan tidak ada anggota masyarakat yang kelaparan atau tertinggal. Dari sudut spiritual, kerja bersama menciptakan kebun jamaah, ladang yang dihidupkan oleh doa, keringat, dan tawa kolektif, yang diyakini akan lebih disuburkan oleh Yang Maha Kuasa. Nilai ini juga terlihat dalam dunia bahari masyarakat Saibatin pesisir, di mana nelayan membagi hasil tangkapan (bagi hasil) berdasarkan peran, bukan hanya kepemilikan kapal, mengakui bahwa keberhasilan melaut adalah usaha kolektif.
Piil pesenggiri sering disalahartikan sebagai keangkuhan aristokrat. Padahal, dalam keseharian, ini adalah etika menjaga martabat diri dan orang lain melalui perkataan dan perbuatan.

Baca Juga :  BADIK, Pelindung Harkat dan Harga Diri dalam Tradisi Lampung. Buku – 7: Warisan yang Tidak Pernah Tumpul. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Masyarakat Lampung sangat menghindari nyerocos (berkata kasar) dan mecah malu (memalukan). Dalam percakapan, digunakan bahasa mulih malu (bahasa yang mengembalikan malu) atau dialek andan (bahasa halus). Misalnya, daripada mengatakan “Kamu salah,” orang Lampung mungkin berkata, “Mungkin tuan hamba keliru memahami, mari kita renungkan bersama.” Dalam Kuntara Raja Niti diingatkan: “Cakak pepadun gantungi, bejuluk adek piil pesenggiri” (Golok pepadun itu digantungkan, gelar dan sebutan itu harga diri).

Analisis filosofisnya: Tutur kata halus adalah ritual linguistik yang bertujuan menjaga harmoni sosial. Setiap kalimat adalah jalinan yang bisa mengikat atau memutus. Piil pesenggiri dalam konteks ini adalah disiplin diri spiritual, mengendalikan ego dan emosi untuk menjaga kehalusan hidup bersama. Ini juga terlihat dalam kebiasaan menyelipkan julukan atau adek (sebutan adat) dalam memanggil seseorang, bahkan di pasar, seperti “Pak Raden” atau “Ibu Suttan,” yang mengingatkan setiap individu akan tanggung jawab adat yang melekat padanya, di mana pun ia berada.

Sejarah marga dan silsilah (tarikh ranji) bukan hanya untuk upacara cangget (penganugerahan gelar). Setiap malam, terutama dalam masyarakat Saibatin yang sangat patrilineal, orang tua menceritakan asal-usul keluarga kepada anak-anaknya. Legenda seperti asal-usul Marga Pubian yang konon diturunkan dari seorang tokoh sakti Si Pahit Lidah, atau Marga Sungkai yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Sekala Brak, menjadi dongeng pengantar tidur. Dokumen kuno seperti tambo (catatan sejarah keluarga) yang ditulis di atas daluang (kertas kulit kayu) kadang dikeluarkan dan dibacakan ringkasannya, bukan untuk pamer, tetapi untuk menanamkan identitas.

Sebuah tambo keluarga Saibatin tua menulis: “Dari Bukit Pesagi turun ke Selagai, diam di Way Kanan, beranak pinaklah kami, jagalah sungai ini karena ia ibu kami.”
Analisisnya: Ritual bercerita ini adalah sekolah adat pertama. Setiap legenda mengandung kode moral dan geografis. Mengetahui asal-usul berarti mengenal paksi (pusat orientasi) spiritual dan sosial seseorang. Ini membentuk mentalitas “kami adalah bagian dari sejarah panjang,” yang memperkuat rasa memiliki (sense of belonging) dan tanggung jawab untuk meneruskan kehormatan nama besar. Dalam konteks spiritual, mendengar silsilah adalah seperti mendengar mantra peneguhan jati diri, sebuah pengingat bahwa hidup individu adalah mata rantai dalam rentang waktu yang sakral.

Baca Juga :  Buku Seri Tradisional daerah Lampung. Seri 2 — Daur Hidup, Upacara Kelahiran. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Kisah Singa dan Siger, serta uraian keseharian di atas, membuktikan bahwa Adat Saibatin dan Pepadun, meski berbeda dalam struktur hierarki, bersatu dalam jiwa penerapannya yang sehari-hari. Adat tidak tinggal di balai-balai megah saja, tetapi hidup di sumur tetangga, di ladang yang dikerjakan bersama, dalam sapaan di warung kopi, dan dalam cerita sebelum tidur. Ia adalah lensa melalui masyarakat Lampung memandang dunia: sebuah dunia di mana hubungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam, harus selalu dilandasi kehormatan, keramahan, gotong royong, dan kesadaran akan sejarah bersama. Adat dalam kehidupan sehari-hari adalah spiritualitas yang berjalan; dua jalan (Saibatin dan Pepadun), namun dengan satu jiwa: Jiwa Lampung yang menghormati kehidupan itu sendiri.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Adat Istiadat Lampung Pepadun oleh Hilman Hadikusuma (1989). Penerbit: CV. Mandar Maju, Bandung. (Fisik/Digital)
2. Buku: Masyarakat dan Adat Budaya Lampung oleh M. Yuanda Zara dkk. (2021). Penerbit: Aura Publishing, Bandarlampung. (Fisik).
3. Naskah: Kuntara Raja Niti (Transkripsi dan Terjemahan). Disimpan di Pusat Dokumentasi Kebudayaan Lampung (PDKL). (Digital/Fisik Terfaksimili).
4. Buku: Sistem Kepemimpinan dan Kekerabatan Masyarakat Adat Lampung oleh Reni Melya Sari (2018). Penerbit: Universitas Lampung Press. (Fisik/Digital).
5. Jurnal: “Piil Pesenggiri sebagai Etika Sosial Masyarakat Lampung” dalam Jurnal Filsafat, Vol. 28, No. 2, 2018. (Digital terindeks).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini