Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 1: Harga Diri dalam Laku Sehari-hari. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Buku seri pertama ini mengajak pembaca menyelami jiwa masyarakat Lampung melalui konsep Pi’il Pesenggiri. Bukan sekadar tentang kebanggaan semu, melainkan sebuah komitmen suci untuk menjaga martabat melalui tutur kata dan perbuatan.
Dikemas dengan gaya bertutur ala dongeng pengantar tidur, bab ini mengisahkan bagaimana leluhur Lampung menanamkan harga diri sebagai benteng moral. Diselaraskan dengan nilai Islam dan Pancasila, tulisan ini menjadi pengingat bahwa menjadi manusia bermartabat adalah kunci keberadaban di Bumi Lampung.

Di ufuk timur Bumi Lampung, ketika kabut masih menyelimuti pucuk-pucuk lada dan kopi, ada sebuah napas yang tak pernah putus di dada para leluhur. Napas itu bukan sekadar udara, melainkan sebuah prinsip hidup yang disebut Pi’il Pesenggiri. Bagi masyarakat adat Lampung, baik yang menganut sistem kekerabatan Saibatin (Pesisir) maupun Pepadun (Penyimbang), harga diri adalah mata uang yang paling berharga. Ia tidak bisa dicetak di percetakan, melainkan ditempa dalam laku sehari-hari.

Konon, dalam salah satu catatan tutur tua yang diwariskan secara lisan dari Punyimbang (penyimbang adat) ke generasi penerus, disebutkan bahwa seorang Lampung lebih rela kehilangan harta daripada kehilangan muka di hadapan masyarakat. Ini bukan tentang kesombongan. Ini tentang tanggung jawab. Jika seorang ayah berjanji, maka itu adalah utang nyawa. Jika seorang ibu berbicara, maka itu adalah cerminan pendidikan anak-anaknya.

Dalam filosofi Saibatin, gelar kebesaran seperti Sutan atau Ratu disandangkan berdasarkan keturunan, namun kemuliaan gelar itu hanya akan bersinar jika pemegangnya memiliki Pesenggiri. Sementara dalam sistem Pepadun, gelar diperoleh melalui upacara Ngekik atau Kenaikan Pangkat Adat, yang syarat utamanya adalah kemampuan seseorang menjunjung tinggi nama baik marga.
Ada sebuah pepatah pemei (peribahasa) yang sering digaungkan dalam sidang adat: “Janji dipegang, kata dipatuhi. Malu berbuat noda, berani karena benar.”
Kutipan lisan ini, meski sederhana, mengandung analisis spiritual yang dalam. “Janji dipegang” bermakna integritas. Dalam konteks kekinian, ini adalah anti-korupsi dan anti-hoaks. “Malu berbuat noda” adalah mekanisme kontrol sosial internal. Rasa malu inilah yang mencegah seseorang berbuat zalim, karena ia tahu bahwa noda itu akan melekat bukan hanya pada dirinya, tetapi juga pada Marga atau keluarganya.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Menjaga Hubungan Sosial di Tengah Lapar dan Dahaga. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sejarah marga di Lampung bukan sekadar daftar nama. Ia adalah dokumen hidup. Dalam tradisi lisan, silsilah atau Cano dihafalkan untuk memastikan bahwa setiap individu tahu dari mana ia berasal. Mengapa ini penting? Karena dalam adat Lampung, seseorang tidak hidup sebagai individu tunggal. Ia adalah representasi dari leluhurnya.

Sebuah legenda rakyat dari wilayah Lampung Tengah menceritakan tentang seorang pemuda yang ingin menikah. Sebelum prosesi Bejuluk Beadok (pemberian gelar/nama adat) dilaksanakan, pihak keluarga besar melakukan penyelidikan latar belakang. Bukan untuk mencari aib guna dipermalukan, melainkan untuk memastikan bahwa calon tersebut mampu memikul beban Pesenggiri. Jika ia dikenal suka berbohong atau mencuri, maka gelar adat akan ditahan. Ini adalah bentuk pendidikan karakter yang sangat ketat.
Dokumen kuno berupa Suatan (aksara Lampung) yang tersimpan di beberapa museum daerah dan koleksi pribadi penyimbang, sering kali memuat aturan adat tentang sanksi bagi mereka yang melanggar norma. Namun, sanksi terberat bukanlah denda materi, melainkan dikucilkan secara halus. Rasa terasing inilah yang menjadi pelajaran paling menyakitkan bagi orang Lampung yang menjunjung Nengah Nyappur (bergaul dan terbuka).
Nilai Pi’il Pesenggiri ini ternyata berjalan beriringan dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. (QS. Al-Hujurat: 13).”

Baca Juga :  Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri - 8: Warisan untuk Generasi Penerus, Menjaga Martabat di Era Digital. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ayat ini menganalisis bahwa kemuliaan bukan karena keturunan atau marga, melainkan karena ketakwaan. Di sinilah letak titik temu yang indah. Adat Lampung melalui Pi’il Pesenggiri mengajarkan untuk menjaga martabat, dan Islam mengajarkan bahwa martabat tertinggi diraih melalui ketakwaan. Ketika orang Lampung menjaga perilakunya agar tidak mencoreng nama marga, secara tidak langsung ia sedang menjaga dirinya dari dosa, yang merupakan bentuk ketakwaan.
Selain itu, nilai ini juga menjadi pondasi Sila Kedua Pancasila, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Harga diri (Pi’il Pesenggiri) adalah manifestasi dari peradaban. Manusia yang beradab adalah manusia yang tahu diri, tahu tempat, dan menghormati orang lain. Dalam praktik Nemui Nyimah (saling memberi dan menerima), harga diri tidak digunakan untuk menindas, melainkan untuk memuliakan tamu dan sesama. Kita menjaga harga diri kita agar tidak direndahkan, dan kita menjaga harga diri orang lain agar tidak kita injak.

Sering terjadi kesalahpahaman bahwa Pi’il Pesenggiri adalah ego sektoral atau mudah tersinggung. Analisis terhadap filosofi ini menunjukkan sebaliknya. Pesenggiri adalah tentang standar moral. Ketika seseorang merasa “tersinggung” karena dituduh berbohong, itu bukan karena egonya terluka, melainkan karena integritasnya dipertaruhkan.
Dalam Sakay Sambayan (saling membantu), harga diri ditunjukkan dengan tidak mau merepotkan orang lain tanpa alasan yang jelas. Orang Lampung yang memiliki Pesenggiri tinggi akan berusaha sekuat tenaga untuk mandiri sebelum meminta bantuan. Jika dibantu, ia akan membalasnya dengan berlipat ganda. Ini menciptakan siklus ekonomi dan sosial yang sehat di masyarakat.
Nilai spiritualnya terletak pada kesadaran bahwa setiap tindakan diawasi. Diawasi oleh masyarakat, diawasi oleh leluhur, dan yang paling utama, diawasi oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga :  Serial Buku - Dapur dan Warisan: Cerita Makanan Adat Lampung. Buku 2 – Tempoyak, Asam yang Mengikat Lidah dan Kekerabatan Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Bejuluk Beadok bukan sekadar titel di belakang nama, melainkan kontrak spiritual seumur hidup untuk menjadi teladan.
Kini, di tengah arus modernisasi, tradisi ini kian ditinggalkan. Janji mudah diucap, ingkar mudah dilakukan. Nama baik sering dikorbankan demi keuntungan sesaat. Buku seri ini hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyalakan kembali api Pi’il Pesenggiri di dada generasi muda Lampung.
Mari kita pahami bahwa menjaga harga diri adalah cara kita mencintai tanah kelahiran. Dengan berperilaku mulia, kita sedang menghormati leluhur yang telah menulis sejarah dengan tinta emas. Kita sedang membuktikan bahwa menjadi orang Lampung adalah menjadi manusia yang Pancasilais, yang religius, dan yang bermartabat.

Sumber Referensi
1. Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012.
2. Hadrawi. Adat Istiadat Lampung. Bandar Lampung: Pemerintah Provinsi Lampung, 2008.
3. Sinar, P.M. Hukum Adat dan Adat Istiadat Lampung. Jakarta: Yayasan Aditya Bhakti, 1994.
4. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Pembukaan dan Batang Tubuh).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini