nataragung.id – Pemanggilan – Ada kehilangan yang tak tampak oleh mata, namun paling menyakitkan bagi jiwa: ketika seseorang telah melihat kebenaran dengan jelas, tetapi langkahnya tak mampu mengikutinya.
Ia mengenal jalan yang lurus, namun kakinya tetap berjalan di lorong yang gelap. Lisannya mengakui, tetapi hatinya tertahan.
Inilah salah satu bentuk hijab paling berat, terhalangnya hati dari taufik, meski cahaya kebenaran telah datang menyapa.
Betapa banyak manusia yang hidup di sekitar kebenaran, mendengarnya, bahkan memahaminya… namun tidak semua diberi kemudahan untuk tunduk dan mengikuti.
Karena hidayah bukan sekadar tahu, tetapi karunia yang Allah tanamkan di dalam hati yang Dia kehendaki.
Allah mengabadikan ungkapan seorang nabi-Nya:
قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَآتَانِي رَحْمَةً مِّنْ عِندِهِ فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنتُمْ لَهَا كَارِهُونَ
“Dia (Nuh) berkata: Wahai kaumku, bagaimana pendapat kalian jika aku berada di atas bukti yang nyata dari Tuhanku, dan Dia menganugerahkan kepadaku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagi kalian; apakah kami akan memaksakan kalian untuk menerimanya, padahal kalian tidak menyukainya?” (QS. Hūd: 28)
Ayat ini adalah cermin bagi hati-hati yang lalai. Bahwa kebenaran bisa saja berada begitu dekat, bahkan di depan mata, namun menjadi jauh karena hati yang tertutup. Bukan karena kurangnya dalil, tetapi karena hilangnya taufik.
Maka, jangan pernah merasa aman hanya karena telah mengetahui. Sebab, mengetahui tanpa mengikuti adalah awal dari keterasingan ruhani. Ilmu tanpa amal adalah hujjah yang kelak bisa memberatkan.
Mintalah kepada Allah bukan hanya agar ditunjukkan kebenaran, tetapi juga agar diberi kekuatan untuk mengikutinya.
Karena di antara doa para ulama adalah:
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran, dan karuniakanlah kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan, serta anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya.”
Semoga hati kita tidak hanya terang oleh ilmu, tetapi juga hidup oleh taufik… sehingga setiap kebenaran yang kita kenal, mampu kita jalani dengan penuh ketundukan. (234)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
___
#KIS
#Shobahul_Khair
#Murtiara_Pagi

