nataragung.id – Pemanggilan – Di antara pelajaran besar dalam kehidupan adalah bahwa kezaliman tidak pernah berdiri sendiri. Ia tidak tumbuh di ruang hampa, melainkan berakar dari sikap manusia yang membiarkannya, mendiamkannya, bahkan menguatkannya.
Seorang tiran tidak lahir begitu saja, tetapi terbentuk dari lingkungan yang lemah iman, rapuh prinsip, dan mudah tunduk tanpa pertimbangan kebenaran.
Allah Subḥanahu wata’ala menggambarkan hal ini dalam kisah Fir‘aun:
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ
“Lalu dia (Fir‘aun) mempengaruhi kaumnya sehingga mereka menaatinya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. Az-Zukhruf: 54)
Fir‘aun tidak akan mampu menindas sedemikian rupa jika kaumnya memiliki keteguhan iman dan keberanian untuk menolak kebatilan. Namun, ketika hati telah ringan terhadap kebenaran, ketika akal ditundukkan oleh hawa nafsu dan ketakutan, maka kebatilan pun mendapatkan tempatnya.
Ketaatan yang seharusnya hanya diberikan kepada Allah dan dalam kebenaran, justru diberikan kepada manusia dalam kezaliman.
Ayat ini menjadi cermin bagi setiap zaman: bahwa kerusakan tidak hanya datang dari pemimpin yang zalim, tetapi juga dari masyarakat yang kehilangan keberanian untuk berkata benar.
Ketika amar ma’ruf nahi munkar ditinggalkan, ketika suara kebenaran dibungkam oleh kepentingan atau rasa aman semu, maka saat itulah jalan bagi kezaliman terbuka lebar.
Maka, menjaga iman dan prinsip bukan sekadar urusan pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial. Karena tegaknya keadilan bukan hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi juga oleh siapa yang dipimpin, apakah mereka tetap teguh di atas kebenaran, atau justru larut dalam arus yang menyesatkan. (236)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
____
#KIS
#Shobahul_Khair
#Mutiara_Pagi

