Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 3: Ramah sebagai Warisan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Seri ketiga mengajak pembaca menyelami makna “Nemui Nyimah”, tradisi menyambut tamu yang telah menjadi napas kehidupan masyarakat Lampung. Lewat gaya tutur cerita rakyat, buku ini menelusuri akar keramahan dari masa purba hingga kini, lengkap dengan jejak silsilah marga, petuah kitab adat, dan keselarasannya dengan ajaran Islam serta Pancasila. Disusun dengan bahasa yang mudah dicerna, seri ini hadir sebagai pengingat sederhana bahwa keramahan bukan sekadar sopan santun, melainkan warisan spiritual yang menjaga keutuhan bangsa di tengah arus modernisasi.
Di lereng Gunung Pesagi, saat kabut pagi belum sepenuhnya menyingkap, seorang musafir tua melangkah memasuki kampung Saibatin. Ia tidak membawa pedang, melainkan seikat sirih dan cerita panjang. Sebelum ia mengetuk pintu kayu jati, sudah ada dua orang pemuda yang berlari menyambut. “Pulanglah, Tuan. Rumah ini juga rumahmu,” ucap salah satunya sambil membungkuk halus. Itulah Nemui Nyimah. Bukan sekadar ucapan, melainkan janji yang telah diwariskan turun-temurun.

Dalam tata krama Lampung, tamu bukan orang asing. Tamu adalah cermin kehormatan tuan rumah.
Jejak keramahan ini tertuang dalam silsilah Marga Buay Balak, salah satu puak Saibatin yang memimpin pesisir barat sejak abad ke-empat belas. Menurut catatan lontar yang dijaga oleh tuho marga, garis keturunan mereka bermula dari seorang pemimpin bernama Ratu Darah Putih, yang dikenal karena membuka pintu rumah bagi siapa saja yang kelaparan atau tersesat.
Dalam naskah Piagam Adat Saibatin yang disalin ulang pada masa pengaruh Kesultanan Banten, tertulis jelas bahwa setiap kepala marga wajib menyediakan “ruang tengah” yang tak boleh dikunci. Ruang itu disebut sesat, tempat musyawarah sekaligus tempat tamu beristirahat. Tradisi ini kemudian menyebar ke wilayah Pepadun, meski dengan tata cara yang lebih terstruktur melalui tingkatan adat. Namun, esensinya tetap sama: tamu dihormati, bukan diuji.
Kitab adat Pepadun Saibatin menuliskan petuah yang masih sering didendangkan oleh tetua dalam upacara adat: “Nemui nyimah, nyakhi nyawak, tiyang mai dijamu, tiyang lungga dihormati. Adok nyakhi, pesenggiri nyakhi, janganlah malu nyakhi.”
Dalam terjemahan bebas, kalimat ini bermakna: “Buka tanganlah menerima tamu, sediakan makanan dengan tulus, orang yang datang harus dijamu, orang yang pergi harus dihormati. Jaga tata krama, junjung harga diri, jangan pernah merasa malu berbuat baik.”
Makna di balik petuah ini sangat dalam dan layak diurai secara perlahan. Nemui secara harfiah berarti membuka, namun dalam konteks adat ia merujuk pada keterbukaan hati dan kesediaan menerima kehadiran orang lain tanpa prasangka.

Baca Juga :  Falsafah Hidup Orang Lampung. Seri 7: Kepemimpinan Menurut Falsafah Lampung Bersendi Kitabullah (Konsep Penyimbang). Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Nyimah adalah memberi dengan ringan, tanpa menghitung untung rugi atau mengharapkan balasan.
Ketika kedua kata ini digabung, keduanya membentuk filosofi bahwa keramahan adalah investasi sosial yang tidak terukur oleh hitungan materi. Frasa “pesenggiri nyakhi” secara langsung merujuk pada Pi’il Pesenggiri, yaitu harga diri yang tidak boleh dibeli, melainkan dijaga melalui tindakan nyata. Orang Lampung meyakini bahwa tamu yang diperlakukan buruk akan membawa aib kepada seluruh marga, sedangkan tamu yang dihormati akan menjadi saksi kebaikan yang menyebar ke penjuru. Inilah mengapa Nemui Nyimah tidak pernah dipisahkan dari Sakay Sambayan (gotong royong), Bejuluk Beadok (nama yang mencerminkan martabat), dan Nengah Nyappur (keterbukaan dalam pergaulan). Kelima prinsip ini membentuk satu lingkaran tata krama yang saling menopang, menciptakan masyarakat yang rukun tanpa menghilangkan identitas kedaerahan.
Selaras dengan itu, ajaran Islam yang telah lama menyatu dengan kehidupan masyarakat Lampung memberikan fondasi spiritual yang kokoh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini bukan sekadar anjuran, melainkan ukuran keimanan yang terukur dalam perilaku sehari-hari.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِ

ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Baca Juga :  Makna “Sakai Sambayan” dalam Gotong Royong Warga Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan latar belakang tamu justru menjadi alasan untuk saling menghormati, bukan saling curiga. Ketika orang Lampung menyajikan kopi dan pisang rebus untuk tamu yang baru tiba, sebenarnya mereka sedang mempraktikkan ayat tersebut: saling mengenal lewat hidangan sederhana, saling mendekat lewat tutur yang lembut, dan saling menguatkan lewat kehadiran yang tulus.

Dalam konteks kebangsaan, nilai ini selaras dengan sila kedua dan ketiga Pancasila. Kemanusiaan yang adil dan beradab tercermin dari cara tuan rumah memperlakukan tamu tanpa memandang status sosial atau asal daerah. Persatuan Indonesia tumbuh dari kebiasaan menerima perbedaan dengan lapang dada. Nemui Nyimah mengajarkan bahwa keramahan adalah jembatan, bukan beban. Di era di mana interaksi sering kali terbatas pada layar kaca, tradisi ini mengingatkan kita bahwa tatapan mata, senyuman tulus, dan sapaan hangat masih menjadi fondasi hubungan manusia yang sesungguhnya.

Kisah Ratu Darah Putih dari Marga Buay Balak mungkin terasa seperti dongeng bagi sebagian pembaca, namun jejaknya nyata. Di beberapa kampung adat di Lampung Barat dan Tanggamus, rumah sesat masih berdiri, meski fungsinya telah beradaptasi dengan zaman. Tetua tetap mengajarkan bahwa pintu rumah tidak boleh terkunci saat senja, karena siapa pun yang mengetuk pada waktu itu biasanya sedang dalam keadaan darurat. Praktik ini bukan sekadar kearifan lokal, melainkan manifestasi dari kepedulian kolektif yang telah diuji oleh waktu dan bencana alam.
Bagi generasi muda, memahami Nemui Nyimah bukan berarti kembali ke masa lalu secara harfiah. Maknanya terletak pada cara kita memaknai ruang tamu digital, cara kita menyambut rekan dari daerah lain, atau cara kita merespons tetangga yang membutuhkan. Keramahan yang tulus tidak pernah ketinggalan zaman. Ia justru menjadi penawar di tengah kehidupan yang semakin terburu-buru. Ketika nilai ini dijaga, profil masyarakat Pancasila akan tetap hidup: gotong royong yang nyata, toleransi yang tulus, dan kemanusiaan yang tidak bersyarat.
Warisan ini tidak meminta kita untuk menjadi sempurna. Ia hanya mengajak kita untuk sedikit lebih terbuka, sedikit lebih sabar, dan sedikit lebih ikhlas. Sebab, dalam tradisi Lampung, tamu yang datang hari ini mungkin adalah saudara yang pulang esok hari. Dan rumah yang selalu terbuka, pada akhirnya, akan menjadi rumah yang tak pernah sepi dari keberkahan.

Baca Juga :  Buku Seri : Tradisi Ngejalang, Ziarah ke Makam Leluhur. Seri - 5. Pesan yang Terkandung, Nilai-Nilai Luhur dalam Tradisi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sumber Referensi
* Kitab Adat Saibatin dan Pepadun (Naskah Kuno yang Disimpan di Museum Lampung, Bandar Lampung).
* Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama Republik Indonesia.
* Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Penerbit Darus Sunnah.
* Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek.
* Kumpulan Falsafah Hidup Lampung (Pi’il Pesenggiri, Sakay Sambayan, Bejuluk Beadok, Nengah Nyappur, Nemui Nyimah), terbitan Lembaga Adat Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini