nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami berkumpul di tepian Way Tulang Bawang yang berliku. Kabut tipis masih menyelimuti hutan di kejauhan, sementara di depan mereka terbentang hasil tangkapan sungai yang melimpah: ikan baung, belida, dan layis berkilauan di bawah sinar matahari pagi.
Seorang Punyimbang, tetua adat yang disegani karena kebijaksanaannya, mengangkat suara.
“Anak cucuku,” katanya lembut, “hari ini kita akan nyeruit bersama.”
Tak lama kemudian, api unggun pun menyala. Ikan-ikan dibakar di atas bara, mengeluarkan aroma yang menggugah selera. Di lesung batu, para wanita menumbuk cabai, terasi bakar, dan tempoyak, durian fermentasi yang menjadi ciri khas masakan Lampung. Satu per satu, lalapan seperti terong bakar, petai, dan daun singkong mulai berjejer rapi di atas daun pisang yang lebar.
Seorang pemuda bertanya, “Nyai, mengapa kita tak bisa makan seruit sendirian?”
Sang Punyimbang tersenyum. “Karena seruit mengajarkan kita tentang Pi’il Pesenggiri. Coba kau perhatikan, pedas sambalnya terlalu menyengat jika ditanggung sendiri. Asam tempoyaknya hanya terasa nikmat jika dibagi. Begitulah harga diri, Nak. Ia tumbuh bukan karena kita menonjolkan diri, tetapi karena kita tahu bagaimana menjaga sikap saat duduk bersama keluarga dan kerabat.”
Masyarakat Lampung mengenal seruit bukan sekadar sebagai hidangan. Kata nyeruit sendiri bermakna ajakan untuk berkumpul dan menikmati makanan bersama-sama. Di meja makan yang beralaskan daun pisang, tak ada tempat untuk egoisme. Setiap orang mengambil jatahnya dengan tertib, menyuapkan ke mulut dengan penuh kesadaran bahwa di sampingnya ada saudara yang juga berhak menikmati hidangan yang sama.
Dalam tradisi nyeruit, tidak ada yang makan sebelum semua mendapat bagian. Tidak ada yang mengambil lebih dari yang semestinya. Inilah cerminan pertama Pi’il Pesenggiri, harga diri dan kehormatan yang dijaga melalui kesadaran akan batas dan tanggung jawab sosial.
Prof. Dr. Muhammad, seorang budayawan Lampung, pernah menuturkan dalam diskusi adat di Balai Keratun Pepadun bahwa seruit adalah filosofi dalam rupa makanan. “Saat kita menyantap seruit bersama, kita sedang berlatih Nengah Nyappur, keterbukaan untuk duduk semeja dengan siapa pun,” ujarnya. “Kita juga belajar Nemui Nyimah, keramahan dalam berbagi, bahkan ketika persediaan terbatas.”
Tidak heran jika hingga kini, seruit selalu hadir dalam setiap hajatan besar. Mulai dari pesta pernikahan, upacara adat, sunatan, hingga acara keagamaan. Ia menjadi lem yang merekatkan hubungan sosial. Filosofinya sederhana: tak ada hidangan yang lebih nikmat selain yang disantap bersama.
Menyelami seruit berarti juga menyelami sejarah panjang masyarakat adat Lampung.
Dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti, kitab adat yang digunakan oleh Punyimbang Lampung, disebutkan bahwa tradisi makan bersama telah ada sejak zaman Keramatan Sekala Brakh. Kitab yang ditulis pada era Majapahit ini mencatat: “Huja nihan saibumi ruwajurai, nihan hulun lampung mengan nengah nyappur, mengan sakai sambayan, wat piil pesenggiri di antara ratu dan masyarakat.”
Jika diterjemahkan secara sederhana: “Satu bumi dua jurai (Saibatin dan Pepadun), beginilah orang Lampung bersosialisasi, bergotong royong, dan menjunjung harga diri di antara pemimpin dan rakyatnya.”
Seruit menjadi simbol dari persatuan dua kelompok adat besar Lampung: Saibatin yang mendiami wilayah pesisir dan Pepadun yang berkembang di pedalaman. Meski berbeda dalam sistem kepemimpinan, Saibatin menganut garis keturunan, sementara Pepadun lebih pada musyawarah pencapaian gelar, keduanya memiliki kesamaan dalam menghormati makan bersama.
Dalam manuskrip kuno Piagam Adat Buay Nyerupa yang tersimpan di kediaman Dalom (gelar tertinggi Saibatin) di daerah Way Kanan, tertulis sebuah petuah: “Mengan ghik nyeruit, wat ghik pesenggiri. Wat ghik juluk-adok, wat ghik nemui nyimah.”
Maknanya: “Makan dengan cara nyeruit, (di dalamnya) ada harga diri. Ada juluk-adok (gelar kehormatan), ada nemui nyimah (keramahan).”
Petuah ini mengajarkan bahwa ketika seseorang duduk dalam lingkaran nyeruit, ia tidak melepaskan identitas dan martabatnya. Gelar yang disandang justru mengingatkan pada tanggung jawab untuk melindungi yang lemah, berbagi dengan yang kekurangan, dan menjaga kehormatan keluarga.
Mungkin ada yang bertanya: apakah tradisi nyeruit ini sejalan dengan ajaran Islam? Jawabannya: sangat sejalan. Bahkan, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa nilai-nilai dalam Pi’il Pesenggiri secara filosofis koheren dengan nilai-nilai Islam dan relevan dengan Pancasila.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim:
(HR. Muslim No. 2059) “Makanan untuk satu orang cukup untuk dua orang, makanan untuk dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan untuk empat orang cukup untuk delapan orang.”
Hadis ini turun sebagai respons terhadap keluhan para sahabat tentang kelangkaan makanan pada masa tertentu. Asbāb al-nuzūl (sebab turunnya hadis) ini adalah kondisi ketika umat Islam di Madinah mengalami masa paceklik. Rasulullah mengajarkan bahwa berbagi makanan bukan hanya memperluas keberkahan, tetapi juga mempererat ikatan persaudaraan. Bukankah persis ini yang diajarkan oleh tradisi nyeruit?
Selanjutnya, dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’idah ayat 2:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًاۗ وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْاۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tuḫillû sya‘â’irallâhi wa lasy-syahral-ḫarâma wa lal-hadya wa lal-qalâ’ida wa lâ âmmînal-baital-ḫarâma yabtaghûna fadllam mir rabbihim wa ridlwânâ, wa idzâ ḫalaltum fashthâdû, wa lâ yajrimannakum syana’ânu qaumin an shaddûkum ‘anil-masjidil-ḫarâmi an ta‘tadû, wa ta‘âwanû ‘alal-birri wat-taqwâ wa lâ ta‘âwanû ‘alal-itsmi wal-‘udwâni wattaqullâh, innallâha syadîdul-‘iqâb
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitulharam sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya! Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 2)
Ayat ini menjadi fondasi dari nilai Sakai Sambayan (gotong royong) yang hidup dalam masyarakat Lampung. Membantu menyiapkan hidangan seruit untuk tetangga yang akan menggelar hajatan, bergantian membawa lauk, duduk bersama membersihkan ikan, semua ini adalah bentuk tolong-menolong dalam kebajikan.
Sementara itu, nilai-nilai Pancasila juga terpancar dalam setiap suapan seruit. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tercermin dari kebiasaan berdoa sebelum makan bersama. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab tampak dalam cara berbagi makanan tanpa membedakan status sosial. Sila Persatuan Indonesia hadir saat masyarakat Saibatin dan Pepadun, yang selama ini dianggap berbeda, duduk bersila bersama di atas daun pisang yang sama. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan nyata dari musyawarah yang kerap berlangsung sambil nyeruit. Dan sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia hidup dalam semangat Nemui Nyimah: memberi tanpa mengharap imbalan, berbagi tanpa pilih kasih.
Kembali ke kisah para leluhur di tepian Way Tulang Bawang tadi. Sang Punyimbang melanjutkan petuahnya kepada pemuda yang bertanya tadi:
“Anakku, dalam sepiring seruit, kau akan belajar lima hal. Pertama, Pi’il Pesenggiri, kau harus menjaga sikap, tidak serakah mengambil lauk, karena serakah adalah lawan dari harga diri. Kedua, Juluk-Adok, setiap orang punya nama dan gelar yang harus dihormati. Beri bagian terbaik untuk para tetua. Ketiga, Nemui Nyimah, saat tamu datang, undanglah ia bergabung dalam nyeruit. Keempat, Nengah Nyappur, jika ada yang berbeda adat atau kebiasaan dalam cara makannya, hargailah. Dan kelima, Sakai Sambayan, bantulah mereka yang belum kebagian.”
Pemuda itu mengangguk. Setelah itu, tak ada lagi yang makan sendirian di kampung mereka. Setiap kali seruit dihidangkan, semua orang tahu: ini saatnya menjaga persaudaraan, ini saatnya menjaga kehormatan.
Sampai hari ini, tradisi mulia itu masih hidup. Di balai-balai adat, di teras rumah panggung, bahkan di warung-warung pinggir jalan, masyarakat Lampung masih setia nyeruit. Bukan lagi sekadar mengisi perut, melainkan untuk mengingatkan satu sama lain: bahwa harga diri bukanlah tentang apa yang kau miliki, tetapi bagaimana kau berbagi apa yang kau punya.
Seruit mengajarkan kita bahwa makan tak pernah sekadar urusan perut. Ia adalah perayaan kebersamaan, pengikat persaudaraan, dan cerminan akhlak mulia. Dalam setiap suapan yang disantap bersama, tersimpan doa dan harapan agar Pi’il Pesenggiri tetap dijaga, dari generasi ke generasi, dari pesisir hingga ke pedalaman, dari zaman leluhur hingga akhir zaman.
Mari kita lestarikan. Mari nyeruit bersama. Dan mari kita buktikan: harga diri itu tak pernah menipis karena berbagi. Justru ia berkembang, persis seperti rasa seruit yang semakin nikmat ketika dinikmati dalam kebersamaan.
Daftar Pustaka
1. Wikipedia. (2007). Seruit – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
2. Wikipedia. (2019). Piil Pesenggiri – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
3. Dwi, S. N. (2016). Dimensi aksiologis filsafat hidup piil pesenggiri dan relevansinya terhadap pengembangan kebudayaan daerah lampung. Jurnal Filsafat, 20(3), 281-302.
4. IAIN Raden Intan Lampung. (2017). Nilai-nilai Islam dalam Falsafah Hidup Masyarakat Lampung.
5. Anggraini, D. (2017). Kuliner Lampung: menyeruit, yuk!. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta.
6. Aurellia, A. (2025). Sambal Seruit, Makanan Khas Lampung yang Membawa Pesan Kebersamaan. detikSumbagsel.
7. Bahagianda, M. M. (2026). Pepadun dan Saibatin, Dua Saudara, Satu Rumpun. Portal Berita Natar Agung.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

