nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, pada zaman dahulu kala, di kaki Gunung Pesagi yang megah, hiduplah seorang pemuda bernama Sangumang. Ia dikenal bukan karena kekuatannya, tetapi karena kebijaksanaan dan rasa hormatnya yang mendalam kepada Sang Hyang Maha Kuasa dan leluhur. Suatu ketika, wilayah mereka dilanda wabah penyakit yang tak kunjung reda. Para tetua adat telah melakukan segala ritual, namun bumi seakan enggan mendengar.
Sangumang kemudian melakukan tapa brata, bermeditasi memohon petunjuk di sebuah bukit yang sunyi. Pada malam ketujuh, ia bermimpi. Seorang perempuan cantik berjubah sinar keemasan mendatanginya. “Sangumang,” ujarnya dengan suara lembut namun berwibawa, “bumi ini sakit karena manusia lupa akan keseimbangan. Keangkuhan telah mengalahkan kerendahan hati, dan hiruk-pikuk duniawi menenggelamkan suara hati yang bersih.”
Perempuan itu kemudian memberikan sebuah mahkota berwarna emas dengan hiasan runcing seperti gerigi. “Inilah Siger,” katanya. “Lambang dari tujuh puncak gunung suci yang menjulang menggapai langit, namun akarnya tetap menghunjam kuat di bumi. Setiap runcingnya mengingatkan pada laku hidup yang harus selalu ditingkatkan, menuju cahaya kebenaran. Gunakanlah ini sebagai pedoman dalam setiap permufakatan dan upacara. Cahayanya akan menyinari jalan keluar, tetapi hanya akan bersinar bagi mereka yang hatinya tulus.”
Sangunang terbangun dan menemukan sebuah Siger tergeletak di sampingnya. Ia kembali ke kampung dan menceritakan mimpinya. Dengan dipimpin oleh Siger tersebut, mereka mengadakan upacara permohonan dengan hati yang baru, penuh penyesalan dan ketulusan. Ajaib, wabah pun berangsur sirna. Sejak saat itu, Siger menjadi pusaka yang paling dihormati, bukan sebagai jimat, melainkan sebagai pengingat abadi akan pentingnya keseimbangan antara dunia lahir dan batin, antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Siger, mahkota emas khas wanita Lampung, adalah ikon budaya yang paling mudah dikenali. Namun, memahaminya hanya sebagai aksesoris belaka adalah kekeliruan yang besar. Dalam perspektif masyarakat adat Lampung, khususnya Pepadun dan Saibatin, Siger adalah microcosmos, alam semesta kecil yang memuat seluruh nilai, falsafah, dan hierarki sosial kehidupan.
Bentuknya yang menyerupai rangkaian gunung (biasanya sembilan atau tujuh puncak) bukanlah suatu kebetulan. Ini merepresentasikan Puncak Nyawo, atau puncak-puncak gunung suci tempat bersemayamnya roh leluhur dan kekuatan spiritual tertinggi.
Setiap puncak yang runcing mengarah ke langit melambangkan semangat untuk mencapai derajat kehidupan yang lebih tinggi, menuju khasa batin (kebaikan hakiki). Sementara, alasannya yang melingkar dan kokoh di kepala melambangkan keterikatan yang tak terpisahkan dengan adat istiadat (pi’il pesengiri) yang menjadi pondasi kehidupan.
Pemakaian Siger terikat pada aturan adat yang ketat. Ia tidak dikenakan sehari-hari, melainkan hanya pada momen-momen sakral dan penting dalam kehidupan, seperti upacara perkawinan (cangget), pengangkatan penyimbang (pemimpin adat), atau menyambut tamu kehormatan.
Pembatasan ini menegaskan status Siger sebagai benda yang penuh tuah dan marwah (wibawa), yang kehadirannya mengubah suasana biasa menjadi suasana yang sakral dan penuh makna.
Untuk memahami bagaimana Siger “menyala” dalam upacara, mari kita telusuri perannya dalam ritual Cangget, upacara perkawinan adat Lampung. Prosesi ini adalah panggung di mana semua nilai yang diwakili Siger dihidupkan.
1. Persiapan dan Pemakaian (Deder): Menjadi Manusia Sempurna. Sebelum Siger dikenakan, calon pengantin wanita menjalani serangkaian ritual ngejanguk atau deder. Ia dimandikan dengan air bunga, mengenakan pakaian adat berlapis-lapis, dan kemudian barulah Siger diletakkan di atas kepalanya. Proses ini simbolis dari penyucian diri. Sebuah petuah adat Lampung kuno menyebutkan:
“Bujur tiak bak tandan, tiang bak pusako. Tegak hidup karena iman, berdiri karena pusaka.” (Lurus seperti batang di tandan, tegak seperti tiang pusaka. Tegak hidup karena iman, berdiri karena pusaka.)
Analisis: Kutipan ini menganalogikan Siger (pusako/pusaka) sebagai “tiang” yang menegakkan seseorang. Sebelum “ditegakkan” oleh pusaka, seseorang harus “diluruskan” terlebih dahulu melalui penyucian. Pemakaian Siger menandai transformasi seorang perempuan dari individu biasa menjadi representasi dari masyarakat adat yang telah disucikan dan siap menjalankan tugas-tugas barunya. Cahaya Siger mulai “menyala” saat ia diletakkan di atas kepala yang telah bersih dan hati yang telah ikhlas.
2. Prosesi Ijab Kabul dan Pemberian Gelar: Penyatuan Dua Garis Leluhur
Pada saat ijab kabul, Siger yang dikenakan pengantin wanita bukan hanya miliknya. Ia mewakili marwah dan harga diri (pesengiri) seluruh kerabat dan marga. Dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti, disebutkan tentang tujuan perkawinan:
“Kawin matedi, sai nyappur darah, sai nyau ghalih, sai naanak batin, sai ngebangun bangsa.” (Berkawin itu untuk menyatukan darah, menyatukan daging, melahirkan batin (keturunan yang berbudi), dan membangun bangsa.)
Analisis: Siger, dalam konteks ini, adalah simbol dari “darah” dan “ghalih” (daging) garis keturunan yang sedang disatukan dengan pihak. Cahaya Siger memancarkan garis silsilah (jurai) yang jelas dan terhormat. Pemberian gelar adat (sutan, radin, kimas, dll.) kepada mempelai laki-laki juga dilakukan di hadapan Siger ini, menegaskan bahwa penyatuan ini diakui dan diberkati oleh leluhur yang diwakili oleh mahkota emas tersebut. Siger menjadi saksi bisu yang agung atas lahirnya sebuah ikatan baru yang akan “membangun bangsa”.
3. Tari Sembah dan Prosesi Adat: Menghormati yang Di Atas dan yang Di Bawah. Setelah akad, pengantin melakukan tari sembah kepada orang tua, tetua adat, dan tamu undangan. Gerakan tari yang lemah gemulai, dengan tangan menyembah dan kepala yang mengenakan Siger sedikit menunduk, mengandung makna yang dalam. Ini melambangkan kerendahan hati. Meskipun kepala telah dimahkotai emas yang menjulang tinggi (lambang cita-cita spiritual), ia tetap harus tunduk dan menghormati orang tua, leluhur, dan sesama.
Di sini, Siger “menyala” dengan cahaya kebijaksanaan. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada kesombongan, tetapi pada kemampuan untuk tetap rendah hati di puncak kehormatan. Ketinggian Siger mengingatkan pada langit (cita-cta tinggi), sedangkan sikap menunduk mengingatkan pada bumi (kerendahan hati). Inilah keseimbangan sempurna yang menjadi inti filosofi Lampung.
Keberadaan Siger bukan hanya cerita lisan. Ia tercatat dalam beberapa naskah kuno, seperti Kitab Kuntara Raja Niti dan Babad Skala Brak. Dalam Babad Skala Brak, yang menceritakan asal-usul kerajaan tertua di Lampung, disebutkan tentang perjalanan empat Umpu (penyebar ajaran) yang masing-masing membawa atribut kekuasaan. Salah satunya adalah atribut yang melambangkan kewanitaan dan adat istiadat, yang sering ditafsirkan sebagai cikal bakal Siger.
Sebuah kutipan dari Kuntara Raja Niti tentang sifat pemimpin yang ideal bisa dikaitkan dengan filosofi Siger: “Raja wisesa turun temurun, hangidup hagawe batin, hangidup hagawe bangsa.” (Raja yang berkuasa turun-temurun, yang menghidupkan karya batin, yang menghidupkan karya bangsa.)
Analisis: Seorang pemimpin (yang dalam konteks keluarga, seorang ibu adalah pemimpin di ranah domestik) harus mampu menyeimbangkan “karya batin” (spiritual, moral) dan “karya bangsa” (sosial, fisik). Siger, dengan puncaknya yang mengarah ke langit (batin) dan pangkalan yang kokoh di bumi (bangsa), adalah visualisasi sempurna dari konsep kepemimpinan ini. Ia mengingatkan setiap perempuan Lampung yang memakainya bahwa ia adalah pemimpin bagi keluarganya, yang harus membimbing dengan kebijaksanaan batin dan keteladanan dalam tindakan.
Di tengah gempuran globalisasi, Siger menghadapi tantangan baru. Nilai-nilai materialistik seringkali mengaburkan makna spiritualnya. Namun, Siger tetaplah sebuah simbol yang kuat. Cahayanya tidak akan pernah padam selama masih ada yang memahami bahasa simbolnya.
Siger mengajarkan kita untuk selalu menjunjung tinggi martabat (pesengiri), tetapi dengan dilandasi kerendahan hati. Ia mengingatkan kita untuk selalu berpijak pada tradisi yang kuat, namun tidak pernah berhenti untuk mengarahkan puncak cita-cita kita menuju kebaikan yang lebih tinggi.
Dalam setiap upacara, ketika Siger dikenakan, ia bukan sekadar menghiasi kepala, melainkan “menyala” sebagai cahaya pengingat bagi setiap hati yang hadir: tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita harus melangkah dengan penuh makna.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Adat Istiadat Daerah Lampung. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981. (Format Fisik/Digital – Perpustakaan Nasional).
2. Naskah Kuno: Kuntara Raja Niti. Transkripsi dan terjemahan oleh para filolog, disimpan di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung dan perpustakaan universitas seperti Universitas Lampung. (Format Digital/Fisik – Arsip Institusi).
3. Buku: Lampung: Sejarah dan Budayanya oleh Prof. Dr. Hilman Hadikusuma. Penerbit Mandar Maju, 1989. (Format Fisik).
Jurnal Ilmiah: Pesengiri dalam Budaya Masyarakat Lampung dalam Jurnal Humaniora, Vol. 5, No. 2, 2013. (Format Digital – Portal Jurnal Akademik).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

