nataragung.id – Natar – Kesabaran bukan sekadar diam menahan pedih, bukan pula topeng yang menutupi getirnya luka, tapi ia adalah perjalanan jiwa, di mana hati belajar menerima, dan ruh belajar bersujud hanya kepada Allah semata.
Sabar adalah ketika bibir memilih senyum,
padahal dada ingin berteriak, ketika lidah berucap “Alhamdulillah”
sementara mata basah oleh air yang menahan banyak kisah.
Ia adalah seni menata kepedihan, menyulap pilu menjadi doa, dan menjadikan waktu yang lambat sebagai ladang pahala.
Di setiap air mata yang jatuh dalam diam, ada tangan Allah yang sedang menuliskan pengganti yang lebih indah.
Senyummu nanti bukan karena luka hilang, tetapi karena engkau menyadari, bahwa semua getir itu adalah jembatan menuju tenang.
Maka bersabarlah, sebab sabar bukan menunda bahagia, melainkan menyiapkan ruang agar bahagia datang dengan cara yang lebih mulia.
Dan ketika tiba saatnya, Allah akan mengganti duka dengan cahaya, menukar air mata dengan senyum lega, dan menulis di hatimu: “Inilah hasil dari sabar yang indah,
yang keluhnya hanya Engkau tujukan kepada-Ku.” (82).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

