nataragung.id – Pemanggilan – Alhamdulillāhi Rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subḥanahu wata’ala yang menilai amal bukan dari besarnya, tetapi dari ketulusannya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, teladan dalam keikhlasan dan ketundukan kepada Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah….
Ramadhan adalah bulan amal. Kita berpuasa, shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memperbanyak doa. Namun ada satu perkara yang menentukan diterima atau tidaknya semua amal itu: Keikhlasan.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ikhlas berarti beramal hanya karena Allah. Bukan karena ingin dipuji. Bukan karena ingin dilihat. Bukan karena ingin dianggap saleh.
Jamaah sekalian…
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Niat adalah rahasia antara kita dan Allah. Orang lain bisa melihat gerakan kita, tetapi tidak bisa melihat niat kita. Hanya Allah yang mengetahui.
Dalam hadits qudsi, Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amal yang ia menyekutukan Aku dengan selain-Ku dalam amal itu, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya.” (HR. Muslim)
Betapa berat ancaman ini. Amal yang bercampur riya’ bisa menjadi sia-sia.
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Puasa adalah ibadah yang sangat dekat dengan keikhlasan. Karena orang lain tidak tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak. Maka Allah Subḥanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi:
الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya. Mari kita periksa hati kita di bulan Ramadhan ini:
Apakah kita membaca Al-Qur’an karena Allah atau karena ingin disebut rajin? Apakah kita bersedekah karena Allah atau karena ingin dipuji dermawan? Apakah kita shalat malam karena rindu kepada Allah atau karena malu kepada manusia?
Jamaah sekalian…
Amal kecil yang ikhlas lebih besar di sisi Allah daripada amal besar yang tercampur riya’. Air mata yang jatuh dalam sunyi lebih berharga daripada ibadah yang dipamerkan.
Mari kita bersihkan niat. Luruskan tujuan. Jadikan Ramadhan ini murni hanya untuk Allah.
Semoga Allah Subḥanahu wata’ala menjaga hati kita dari riya’, ujub, dan sum’ah. Dan menerima seluruh amal kita sebagai amal yang ikhlas.
اللهم اجعل أعمالنا خالصة لوجهك الكريم ولا تجعل لأحد فيها شيئاً
Ya Allah, jadikan seluruh amal kami ikhlas karena wajah-Mu yang mulia dan jangan Engkau jadikan sedikit pun darinya untuk selain-Mu.
Amin ya Rabbal ‘alamin.(KIS/186)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

