nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman dahulu, di tepian Way Komering yang jernih, hiduplah sepasang suami-istri dari marga Pubian, Sutan Batin dan Suttani Bulan. Mereka dikaruniai kecerdasan dan kekayaan, tetapi lama-kelamaan hatinya diselubungi kesedihan karena belum juga dikaruniai keturunan. Setiap malam, mereka berdoa dengan khusyuk di sebuah batu besar datar yang disebut warga setempat sebagai Batu Kelumpang, yang dipercaya sebagai tempat pertemuan antara dunia manusia dan alam gaib.
Suatu malam, Suttani Bulan bermimpi. Dalam mimpinya, seorang wanita cantik berjubah cahaya berkata, “Punyimu murah, tetapi hatimu harus lebih murah lagi. Buka pintumu, bagilah rezekimu, maka kelimpahan hakiki akan datang padamu.” Esok harinya, Suttani Bulan menceritakan mimpinya kepada sang suami. Mereka sepakat untuk mengadakan Sedekah Bumi yang besar, mengundang seluruh warga dari berbagai marga, mempraktikkan Nemui Nyimah dan Nengah Nyappur dengan sepenuh hati.
Tak lama setelah sedekah bumi itu, Suttani Bulan mengandung dan melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki diberi nama Rio Kelumpang, dan anak perempuan diberi nama Ratu Andan. Sebagai tanda syukur, Sutan Batin mengukir silsilah keluarganya pada sebuah lempeng kayu, yang menjadi cikal bakal Dokumen Silsilah Marga Pubian Cabang Way Komering.
Legenda ini mengajarkan bahwa keluarga yang besar bermula dari hati yang terbuka dan kepemimpinan yang bijaksana, nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi Piil Pesenggiri dalam keluarga Lampung .
Penyimbang: Pilar Kebijaksanaan dalam Keluarga.
Kisah Rio Kelumpang dan Ratu Andan berlanjut hingga mereka dewasa dan membina keluarga sendiri. Rio Kelumpang, yang kini menyandang gelar Penyimbang bagi keluarganya, memahami betul bahwa gelar Bejuluk Beadok yang disandangnya bukanlah untuk disombongkan, melainkan sebuah amanah yang berat. Sebagai penyimbang, ia adalah pemimpin, penengah, dan guru bagi anak-anaknya.
Sebuah petuah dari naskah Kuntara Raja Niti selalu ia pegang: “Punyimu murah, adat piil pusanggiri. Bejuluk beadok, nemui nyimah, nengah nyappur, sakai sambaian.” (Hartamu murah, yang utama adalah adat dan harga diri. Berjuluk beradek, menerima tamu, bergaul, tolong-menolong) .
Petuah ini ia terjemahkan dalam keseharian. Ia tidak hanya memastikan kebutuhan material keluarga terpenuhi, tetapi juga menjadi teladan dalam bertutur kata santun (Nemui Nyimah) dan bersikap adil.
Peran sebagai penyimbang juga selaras dengan ajaran Islam. Rio Kelumpang sering mengutip QS. At-Tahrim: 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Ayat ini ia pahami sebagai perintah untuk memberikan keteladanan dan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya, baik ilmu dunia maupun akhirat.
Seorang penyimbang, dalam pandangannya, bertanggung jawab menyalakan pelita Piil Pesenggiri dalam hati setiap anggota keluarganya .
Sakai Sambayan:
Gotong Royong dalam Dinding Rumah.
Nilai Sakai Sambayan yang biasanya terlihat dalam membangun rumah atau menggarap ladang, dalam keluarga Rio Kelumpang justru hidup dalam rutinitas domestik yang sederhana namun penuh makna. Istrinya, Suttani Aisyah, dengan bijak mengajarkan konsep ini kepada ketiga anak mereka.
Pembagian tugas rumah tangga tidak dilihat sebagai beban, melainkan sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian. Anak lelaki tertua membantu ayahnya memelihara kebun, anak kedua membantu ibu menyiapkan hidangan untuk tamu, sementara si bungsu, meski masih kecil, sudah diajari merapikan mainannya sendiri. “Inilah Sakai Sambayan kita,” ujar Suttani Aisyah suatu sore. “Seperti sapu lidi yang satu saja mudah patah, tetapi jika disatukan akan kuat membersihkan seluruh halaman.”
Ketika salah satu anak sakit, seluruh anggota keluarga merasakan dan ikut membantu.
Solidaritas antar saudara kandung ini dijaga dengan baik. Mereka diajari untuk “sakai sambaian” – tolong-menolong, saling menjaga, dan melindungi. Ketika ada masalah, seperti perselisihan antar anak, Rio Kelumpang akan mengumpulkan mereka dan bermusyawarah, mencerminkan nilai Sakai Sambayan dalam menyelesaikan masalah internal keluarga .
Jejaring Kasih: Nengah Nyappur dan Silaturahmi Keluarga.
Keluarga Rio Kelumpang tidak hidup menyendiri. Setiap akhir pekan, mereka berkunjung ke rumah orang tua Rio Kelumpang, atau sebaliknya, keluarga besar datang berkumpul di Sesat (rumah adat) mereka. Inilah wujud nyata dari Nengah Nyappur – aktif dalam pergaulan dan tidak individualistis – dalam konteks keluarga .
Dalam pertemuan keluarga besar itulah, ikatan tidak hanya diperkuat, tetapi juga nilai-nilai adat ditransmisikan. Sang kakek, Sutan Batin yang kini sudah sepuh, sering bercerita tentang legenda Batu Kelumpang dan silsilah marga mereka kepada para cucu.
Momen ini adalah praktik dari Bejuluk Beadok, di mana anak-anak belajar menghormati orang yang lebih tua dan memahami asal-usul serta martabat keluarganya.
Aktivitas Nengah Nyappur juga berarti membangun jembatan silaturahmi dengan tetangga. Keluarga Rio Kelumpang dikenal sebagai keluarga yang mudah bergaul dan rendah hati. Mereka sering mengirimkan masakan kepada tetangga yang sedang mengadakan hajatan atau yang sedang tertimpa musibah. Sikap ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW tentang keutamaan menyambung silaturahmi dan firman Allah dalam QS. An-Nisa’: 86 untuk saling membalas salam dengan yang lebih baik. Dengan demikian, Nengah Nyappur tidak hanya memperkuat ikatan internal keluarga besar, tetapi juga membangun harmoni dengan komunitas sekitar .
Keluarga sebagai Taman Sakinah
Pada akhirnya, semua nilai yang dihidupi dalam keluarga Lampung bermuara pada terciptanya sebuah keluarga yang Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah (tenang, penuh cinta, dan kasih sayang), sebagaimana termaktub dalam QS. Ar-Rum: 21.
Keluarga Rio Kelumpang dan Suttani Aisyah adalah miniatur dari cita-cita luhur tersebut.
Komunikasi yang mereka bangun didasari oleh rasa hormat (Bejuluk Beadok) dan kelembutan. Orang tua tidak segan memuji usaha anak-anaknya, dan anak-anak diajari untuk berbakti, sebagaimana perintah dalam QS. Al-Isra’: 23-24.
Setiap krisis yang terjadi diselesaikan dengan musyawarah, mencerminkan Sakai Sambayan. Setiap tamu yang datang disambut dengan senyum dan keramahan, merupakan napas dari Nemui Nyimah. Dan jejaring kasih yang mereka rajut dengan keluarga besar dan tetangga adalah bukti nyata dari Nengah Nyappur.
Suatu petang, Rio Kelumpang melihat anak-anaknya bermain riang di halaman. Ia pun berbisik kepada istrinya, “Lihatlah, itu adalah harta kita yang sejati. Punyimu murah, tetapi warisan Piil Pesenggiri yang kita tanamkan dalam diri merekalah yang akan membawa mereka menjadi manusia yang bermartabat dan bermanfaat, di mana pun mereka berada.” Keluarga mereka telah menjadi fondasi pertama yang kuat, sebuah taman sakinah tempat nilai-nilai luhur Lampung dan Islam bersemi, tumbuh, dan akan terus bergema untuk generasi-generasi berikutnya.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Prof.Dr. Sudjarwo, dkk. (2017). Cerita Rakyat dari Lampung Barat. [Buku].
2. Baharudin, M., & Luthfan, M. A. (2020). Aksiologi Religiusitas Islam pada Falsafah Hidup Ulun Lampung. International Journal Ihya’ ‘Ulum Al-Din, 21(2), 158-181. [Jurnal Akademik].
3. Bujuri, D. A. (2018). Implementasi Nilai-Nilai Falsafah Hidup Orang Lampung dalam Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan. Tesis Master, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. [Tesis Magister].
4. Romadhon, A., et al. (2024). Nilai-Nilai Tradisi Pelarian (Sebambangan) dalam Masyarakat Adat Lampung Pepadun Perspektif Sosiologi Hukum. Bulletin of Islamic Law, 1(1), 13-22. [Jurnal Akademik].
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

